Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 September 2014

Renungan hari ini

,............................................
apakah matahari bersinar berbeda kali ini
teriknya masih sama menghangatkan setiap raga penuh cita
aku lihat sekeliling juga semakin sibuk
debu asap kerikil saling berpadu dalam seni kehidupan pagi hari
terlintas roda-roda bising dan klakson mobil-mobil besar
sebesar limpahan rahmat yang Tuhan berikan di kampung minyak ini
............
menatap matahari lain dari pulau seberang
waktu serasa berjalan lebih cepat di rerantauan ini
aku tidak seharu kali ini wahai sajak
entahlah sejak kapan keinginan menulis lagi ini muncul,..

mungkinkah roman disekitarku ini yang mengusik semuanya
angan di jiwa yang menangkap ilmu kehidupan nan luas di pesisir Kalimantan
setiap kali meraba tangan kasar yang masih tersirat jelas alur sekaan keringat di tangan mereka,.
aku mengingat betapa kehidupan selalu menarik untuk diceritakan...
marilah melihatnya dari beberapa sisi 
bila perlu gunakanlah cermin jernih

Seperti itulah yang kulihat selama ini,..
di tanah inilah mereka menggali harapan dan cita yang lebih baik,..
mengharap anak-anak mereka tetap dapat makan dan melanjutkan sekolah,...
aku bahkan tidak mengerti 
apakah mereka tahu bahwa bumi mereka ini sangat kaya,..

sedang mereka yang pandai selalu berorasi atas nama keadilan
menggelikan ketika mereka sendiri nyaman menikmati kerlip lampu-lampu kota
sementara di tanah ini sering kali lampu hanya menyala setengah hari
amat sangat lucu ketika khalayak menyadari bahwa tanah inilah yang memberi mereka energi setiap harinya
kerasnya batu kerikil
sekeras kayu ulin yang menjadi penyangga rumah-rumah panggung di sini
menjadi saksi dan bukti
"percayalah saat ini kami hanya ingin terus bekerja dan bekerja"
 begitu kata mereka,...

--subie--
Muara Badak, 16 September 2014,
terinspirasi saat sedang melakukan pemeriksaan fisik MCU pada karyawan Perusahaan.

Note :

Hari ini saya bertemu dengan seorang bapak dari salah satu karyawan perusahaan subkontraktor Vico Indonesia berusia 56 tahun. Beliau memasuki ruang pemeriksaan fisik dan mengucapkan salam dengan sangat halus. Saya pun membalasnya dan mempersilahkan beliau duduk. Tidak hanya mengucapkan salam, tetapi beliau yang mendahului menjabat tangan saya, dan saya sempat terharu melihat beliau yang sangat sopan, melebihi karyawan lain yang mungkin usianya jauh di bawah beliau. Saya tertarik, kemudian saya lihat sejenak data beliau yang sudah ada di meja saya. Saya terkejut, beliau hanyalah seorang "helper". Berasal dari Sulawesi. 

Kami memulai pembicaraan hangat dan saya juga sambil meletakkan manset tensi saya ke lengan kasarnya yang legam, mungkin karena sering terpapar sinar matahari. Beliau juga menjawab setiap pertanyaan saya dengan sangat halus. Bahkan sambil merendahkan kepala. Memanggil saya dokter (Kebanyakan karyawan yang MCU dengan saya lebih sering memanggil saya dengan "mas", mungkin karena saya masih terlihat muda). Dalam hati saya berpikir, orang tua ini luar biasa.

"Tahun lalu medical check up ada masalah pak?", saya bertanya pada beliau.

"Sepertinya tidak ada dokter, tapi saya lupa karena hasilnya diambil langsung oleh perusahaan" Bapak itu menjawab.

"Ini sekarang tekanan darahnya 150/100 pak,..!". Kita obati dulu ya pak, 3 hari bapak temui saya coba kita lihat tekanan darahnya besok." Saya menjelaskan.

Tiba-tiba dia memegang tangan saya dan, menatap mata saya sayu. Memohon dengan sangat agar dibantu. 

"Dok, tolong saya dok, saya kalau ga lolos Check Medical kontrak saya tidak diperpanjang. Anak saya masih ada yang sekolah, Tolong ya Dok,..!" sambil berkaca-kaca. 

Saya lihat bajunya yang sudah kusam, dan mungkin itulah baju terbaik yang beliau persiapkan hanya untuk MCU di klinik. Kulit tangnnya hitam, legam jelas tersirat bekas keringat dan baunya yang khas. Rambutnya sudah beruban dan wajahnya telah berkeriput lebih awal, tanda selama ini dia telah bekerja keras, dan mungkin terik matahari sudah seperti rumahnya sendiri.

Jujur, permintaan tolong seperti ini bukanlah yang pertama saya terima. Selama hampir 2 tahun merantau di Kalimantan, sudah sering saya mendengar mereka minta tolong tentang hasil MCU-nya. Tentu dengan berbagai asalan dan bujuk rayu. Ada yang menggunakan alasan ekonomi, seperti bapak tadi. Ada yang bahkan mengirimkan pulsa, ada yang memberi bingkisan, dan banyak hal lainnya. Biasanya yang paling mereka takutkan adalah kondisi tekanan darahnya yang melebihi normal. 

Cukup aneh, karena mereka menganggap MCU adalah sebuah persyaratan untuk menandatangani kontrak baru dan pembuatan ID Badge, tapi tidak pernah menganggap MCU sebagai sebuah kebutuhan dan keingintahuan tentang riwayat kesehatan mereka. Yah,.. itulah kondisi masyarakat kita. Lambat laun, saya pun merasa mulai memahami kondisi mereka. Meskipun secara moril itulah tanggung jawab saya sebagai dokter untuk terus mengingatkan mereka.

Hikmah kejadian pagi ini membuat saya merasa harus sedikit bijak. Saya pun merasa bersalah pada diri sendiri dan terus memohon ampun kepada Allah SWT. Idealisme, kejujuran menjadi perisai lancip nan tajam yang mengusik rasa empati atau iba terhadap mereka para orang-orang hebat yang rela bekerja apa saja untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Saya sendiri adalah produk dari orang tua tunggal yang bekerja mati-matian demi melihat anaknya sukses di kemudian hari. Saya mengalami sendiri kerasnya kehidupan dan susahnya mencari uang.

Saya telah bergaul dengan banyak orang disini, mulai dari yang masih muda sampai yang sudah sepuh. Saya sendiri mengambil intisari dari cerita kehidupan mereka di Muara Badak, daerah kaya migas ini. Daerah ini sangat kaya, dan bagi mereka, cukuplah mereka bisa diterima menjadi helper, security, driver, janitor, rigger atau pekerjaan kasar lainnya di sini. Lihatlah betapa sederhananya mereka berpikir. Tingkat pendidikan yang kurang baik disini membuat mereka seakan sudah nyaman bekerja seperti itu. Secara kasar bolehlah disebut, " Yang penting kerja mas,..!"

Berapa kali saya melakukan pemeriksaan fisik pada anak belasan tahun yang baru lulus SMA sudah melamar kerja di berbagai perusahaan di sini. Saya selalu bertanya, apakah mereka tidak ingin kuliah atau sekolah lagi ke tingkat yang lebih tinggi? dan mereka dengan mantab lebih mengingkan kerja. Tingkat kesadaran untuk berkembang lebih baik lagi memang sangat kurang disini. 

Tetapi begitulah dinamika hidup. Kejadian tadi pagi membuat saya lebih menyadari, ada banyak hal yang mungkin saya tidak tahu atau bahkan tidak mengerti dari sisi mereka. Pernah saya berdiskusi dengan salah seorang teman tentang kondisi masyarakat kita yang seperti ini. Selalu menyenangkan berdiskusi dengan kaum intelektual terlebih para mahasiswa yang saya yakin idealismenya tidak diragukan lagi. Mereka berjuang, berorasi dan berdiplomasi memperjuangkan kondisi yang bahkan mereka sendiri sebenarnya tidak pernah mengalami. Perjuangan mereka tulus, dan patut diapresiasi. Tapi, cobalah lihat sesuatu yang lebih sederhana dari sisi mereka.

Bagi para intelektual, mungkin mereka menganggap ini adalah sebuah ketidakadilan. Tapi mampirlah sejenak ke daerah-daerah untuk mengenal rakyatnya lebih dekat. Bukankah Soe Hok Gie pernah bilang, bahwa mencintai Indonesia berarti harus berarti pula mencintai rakyatnya dari dekat. "Seseorang hanya bisa mencintai sesuatu secara sehat bila dia mengenal objeknya", begitu kata Gie. Anda akan tahu bahwa apa yang anda sebut ketidakadilan saat ini terkadang adalah satu-satunya hal yang menjadi tumpuan hidup banyak keluarga disini. Bahwa menjadi helper, driver, janitor, rigger, security atau operator alat berat adalah keahlian terbaik yang bisa mereka kerjakan saat ini.

Pernah saya mendengar langsung dari mulut salah satu pekerja. Beliau mengatakan, "Kami tahu Muara Badak adalah daerah yang amat sangat kaya raya dok, Tapi kami tidak mengharapkan lebih selain lapangan kerja yang bisa kami kerjakan sesuai dengan kapasitas kami disini. Kami bukan orang pintar dok, biarlah berjalan seperti ini, asal kami masih bisa bekerja dan anak istri saya masih bisa makan dan sekolah".

Sesederhana inilah kawan. Kekayaan daerah ini dikuras habis dan hasilnya hanya sekian persen saja yang dirasakan masyarakat Muara Badak. Beginilah nasib bangsaku Bangsa Indonesia. Kali ini saya ingin memendam sedikit "nilai kejujuran" dalam menjalankan tugas sebagai dokter. Biarlah Allah saja Yang Maha Tahu tentang apa saja yang saya lakukan.


(lanjutan percakapan tadi pagi dengan sang bapak,...)

"Insya Allah saya bantu pak, tetapi bapak harus berobat dulu. Saya berikan obat untuk menurunkan tekanan darah bapak, dan saya harap bapak kembali dalam waktu 3 atau 4 hari kedepan untuk memeriksa kembali tekanan bapak. Bila sudah normal, hasil MCU nya saya keluarkan. Bila belum normal, nanti tetap saya bantu". Saya menjelasakan tentang prosedur tidak resmi yang sering saya lakukan di Klinik. 

"Makasih banyak dok, Insya Allah saya akan minum obatnya dok, Tolong saya ya dok". Bapak itu kembali menekankan nada bicaranya saat minta tolong.

Biasanya, setelah 3 hari pengobatan. Saya akan memeriksa kembali tekanan darah para karyawan. Bila sudah normal saya akan keluarkan hasil MCU nya untuk diserahkan ke Vico. Tetapi bila belum normal, saya tetap akan tulis hasilnya normal dengan perjanjian bahwa untuk kepentingan kesehatan mereka sendiri, mereka harus rutin minum obat dan memeriksakan tekanan darahnya. Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar melakukannya atau tidak. Bila sakitpun mereka juga tidak akan dapat bekerja secara optimal. Namun bila di-pending-pun, mereka akan lebih lama menganggur, dan itu artinya mereka tidak mendapat penghasilan. Saya memutuskan untuk membantu mereka dengan cara yang saya bisa. Apakah ini salah atau benar, biarlah Allah yang tahu akan segala-galanya.


-- Cerita Pagi Ini, di Klinik BOHC --



Senin, 03 Juni 2013

Muara Badak : Panggilan hati dan sebuah pengabdian,...


..................................
Sore ini adalah hari terakhir sebelum keberangkatanku menjemput mimpi. Aku menyibukkan diri memandangi istriku dan sedikit bersenda gurau sebelum besok kami akan berpisah sejenak. Hari-hari esok akan kuhabiskan untuk mengabdikan ilmu. Di sebuah daerah yang benar-benar baru pertama kali aku kunjungi, dan baru saja kupelajari beberapa hari terakhir. Daerah itu bernama Muara Badak, sebuah daerah penghasil energi di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Setelah menyelesaikan kewajibanku mengabdi sebagai dokter Internsip selama satu tahun di Kabupaten Ngawi, aku mulai memikirkan sesuatu tentang masa depanku, keluarga kecilku ( saat ini istriku tengah mengandung 2 bulan ) dan tentu saja ummi serta adikku.

Sebagai laki-laki tertua yang diandalkan keluarga dan tentu saja sangat diharapkan dapat membantu ekonomi keluarga, terus terang aku bingung harus kemana. Tapi atas Karunia dari Allah SWT, Allah telah memudahkan segalanya bagiku, setidaknya ada beberapa pilihan tujuan untuk aku bisa mengabdikan ilmu sebagai dokter. Sebelum menyelesaikan kontrak di Ngawi, Alhamdulillah aku telah diterima di sebuah Rumah Sakit Swasta besar di Lamongan yaitu Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan, selain itu aku juga telah bekerja di beberapa Klinik Swasta di Surabaya sambil mengajar sebagai Ko-Instruktur Tramed di Kampus.

Tapi pertemuan yang terjadi secara tidak sengaja dengan dr. Maghrizal Roychan, senior satu tingkat di kampus sedikit merubah segalanya. Tepatnya bulan Desember awal ketika aku akan mengikuti pelatihan ATLS di Jakarta bersama dr. Angga Fiandana (PPDS Ortho), aku bertemu Mas Rizal sedang menunggu keberangkatan pesawat menuju Balikpapan dari Bandara Juanda Surabaya. Saat itu beliau baru saja menyelesaikan pelatihan ATLS di Surabaya. Nah, di momen inilah Mas Rizal banyak bercerita tentang dimana saat ini dia bekerja. Ternyata dia bekerja di BOHC (Badak Occupational Health Clinic), Mas Rizal bercerita tentang beberapa pengalaman medisnya di sana dan kebetulan bulan Maret tahun 2013 dia mau resign untuk melanjutkan studi PPDS, sehingga otomatis dia akan butuh pengganti. Entah apa yang kupikirkan saat itu, tapi aku langsung saja mengajukan diri untuk menggantikannya bekerja di sana. Di sinilah awal mula kenapa aku bisa bekerja di Muara Badak.

.........................
...............................
Aku telah menikah dan istriku tercinta tengah mengandung buah hati kami. Apakah aku akan meninggalkannya sejenak untuk mengabdikan ilmu ke Kalimantan ?? Masih dalam perdebatan di alam sadar, tapi aku yakin istriku akan mengerti. Aku butuh dia tetap di Bojonegoro untuk menemani Ummi dan beberapa alasan lain. 

Sebenarnya ada sebuah janji yang harus ditepati, dan bagaimanapun janji tetaplah janji yang harus ditepati. Aku telah memutuskan sejak jauh hari sebelumnya atau bahkan sebelum aku lulus menjadi dokter, bahwa aku harus mengabdikan ilmu ini ke pedalaman Nusantara. Janji ini terucap ketika aku menjalani hari-hari sebagai mahasiswa kedokteran dan mendapat banyak sharing pengalaman dari guru-guru terbaik di UNAIR. Terinspirasi dari banyak dokter yang telah mengabdikan ilmunya di daerah-daerah. Pulau Jawa terlalu banyak dokter akhir-akhir ini.

Waktu itu aku membayangkan bahwa aku harus mengambil PTT untuk bisa memenuhi janjiku ini. Asal tahu saja, sebenarnya janjiku ini pulalah yang membuatku mencintai kegiatan alam bebas seperti mendaki gunung. Sayangnya untuk tahun ini, pembukaan PTT baru di buka bulan Juni. Itu terlalu lama buatku yang tentu saja harus segera kembali bekerja setelah menyelesaikan kontrak di Ngawi karena sudah memiliki istri dan calon anak. Mungkin inilah jawaban dari pertemuanku dengan Mas Rizal dulu. Allah telah menunjukkan jalan yang demikian bagiku dan patut bagiku untuk bersyukur.

Singkat cerita, akhirnya aku memutuskan untk mengalihkan jalan pengabdianku ke sebuah daerah kecil di Kalimantan Timur bernama Muara Badak. Aku rasa mengabdi tidak harus ke Papua atau ke daerah lain. Kalimantan juga dapat dijadikan tempat untuk mengabdi sebagai dokter. Dan demikianlah hingga saat ini aku masih bekerja di sebuah klinik bernama BOHC dan berbagai pengalaman baru telah aku  dapatkan di sini.

Kecamatan Muara Badak merupakan salah satu wilayah penghasil minyak bumi dan gas (migas) di Kutai Kartanegara yang eksplorasi dan ekspoitasinya saat ini dikerjakan oleh perusahaan migas multinasional asal Amerika Serikat VICO Indonesia. Namun tidak mengalami pembangunan yang layak dari Pemerintah Kabupaten. Padahal eksplorasi ini sudah dimulai sejak tahun 1970-an.

Dibutuhkan peran serta pemerintah untuk merealisasikan kecamatan ini menjadi salah satu sumber objek wisata yang menjanjikan. Apabila kita melihat kondisi Muara Badak saat ini, sangat disesalkan apabila disebut Kutai Kertanegara sebagai salah satu kabupaten terkaya di Indonesia.

Berbagai karakter masyarakat aku temui di sini. Berbagai kasus medis aku temukan di sini, beragam pengalaman dan budaya telah berhasil membuatku mengagumi daerah lain di salah satu penjuru Nusantara ini. Aku memantabkan hati dalam keheningan malam, mendengar angin bernyanyi pelan dan membisikkan sesuatu dalam kalbu, bahwa aku akan tetap menikmati budaya-budaya negeri ini dan tentu saja keindahan alam Pulau Borneo.

Sambil memandang langit dan menyibak kelambu bayang-bayang masa kemarin, aku lalu terbangun untuk kemudian menatap masa depan. Aku pegang kedua tangan istriku dan mencium keningnya sejenak. aku katakan ini takkan lama, berjuanglah untuk anak kita dan aku akan berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Aku pergi untuk memenuhi janji, menatap matahari lain di seberang pulau, dan aku harap aku masih bisa menyusuri pantai-pantai pasir yang sedikit berkerikil sekali lagi.

...................................
Aku menulis untukmu sayangku
melawan kebosanan menegur mimpi dalam senja
menyibak semak dengan daun berduri yang menyakiti jari jari
lalu terbangun pada sendu di langit biru
aku tertawa sejenak mengusir rasa lelah
merangkai kisah demi kisah perantauan
mengukir cinta di pesisir tanah ikan
mencium bau pasir yang ribut saling berbisik
dan berharap dapat menatap surya
di balik pepohonan sawit yang rindang
aku telah pergi untuk kembali
aku akan menepati janji untuk mengabdi
kuatkanlah aku Ya Allah,...
kuatkanlah aku dalam perantauan ini,...


Demikianlah cerita singkat awal keberangkatanku ke sebuah daerah kecil bernama Muara Badak.

--Bie--

Selasa, 05 Juni 2012

,....Malam Cinta,...


Note :

Aku menenggelamkan diri dalam lamunan sejenak malam ini. Memandang langit hitam yang penuh dengan titik cahaya keindahan para bintang. Sementara bulan enggan menunjukkan sebagian wajahnya malam ini, tetapi cahayanya tetap dapat membuat hati yang gundah menjadi damai. 

Memandang ke atas, ke arah langit lepas bagaikan memandang cinta. Semuanya tampak indah. 

Aku duduk termenung di kursi lamunan rindu. Lalu membuka ruang-ruang pikiranku dalam relung hati yang mulai gundah akan masa depan. Begitu ruang ini terbuka, aku mulai takjub. Aku melihat pelangi menghiasi mimpi-mimpi kami beberapa waktu yang lampau. Warna-warna itu terlukis abstrak dalam kanvas kehidupan yang nyata. 

Aku juga mendengar ada gemericik air jatuh dari jurang harapan. Suaranya merdu, bagaikan dawai gitar yang dipetik pelan oleh jari manis cinta. Menyanyikan lagu kehidupan yang terjal seperti air kali yang menabrak batu-batu licin di tepi-tepi pantai.

"Pernahkah kau jatuh cinta kawan?". 

Aku ingin bercerita pada kawan-kawan kecil yang setia menungguiku. Mereka adalah kawan-kawan dalam imajinasiku.

Aku menegur tanganku yang menepis lambaian tangannya. Aku kecewa pada diriku senidiri karena telah membuatnya menangis. Perempuan ini tidak layak bersedih karena laki-laki. Hatiku terbawa aliran emosi yang semestinya tidak meng-ombang-ambing-kan dirinya. Saat melihat air matanya jatuh membasahi pipinya yang lugu, aku tahu telah melukai hatinya yang rapuh. Aku ini laki-laki yang tidak romantis, begitu katanya.

Aku terdiam sejenak, kemudian kembali menatap wajahnya yang basah akan air mata. Dia sama sekali tidak memandangku, mungkin dia sangat membenciku waktu itu. Aku adalah lelaki payah yang selalu membuatnya menangis.

Saat aku mendapatinya tergulai lemas tak berdaya. Aku sadar sesuatu telah terjadi hingga sejauh ini. Aku memapahnya dalam kegelisahan dan kekhawatiran. Aku hanya ingin ini segera berakhir. Melihatnya menangis saja membuatku bimbang, apalagi harus melihat dirinya tergulai tak berdaya karena aku. Aku harus akhiri perasaan bersalah ini dan segera melakukan sesuatu. Aku ingin merawatnya sebaik mungkin. Aku ingin menemaninya sampai dia terbangun. Saat itulah aku sadar, aku tidak ingin melihatnya menangis lagi. Aku mencintainya.

Itulah kawan, aku mencoba menuangkan semuanya dalam cerita. Aku menulisnya sambil memandang bintang dan bulan yang menampakkan sebagian wajahnya. Aku menulisnya karena rindu. Aku menulis kata-kata cinta untuknya, supaya dia tidak menangis lagi.

.................................
When I see you smile
I can face the world,
you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light,
I see it shining right through the rain 

...........................................................

Beginilah nasib penulis tanggung yang kehabisan kata-kata. Dia hanya menggerakkan pikirannya mengikuti hawa nafsu menulisnya. Membuang jauh-jauh batasan aturan tentang prosa liar tak beraturan. Sembari menggunakan majas-majas  lebay  dan intonasi yang kurang lucu. Kadang tak bermakna, tak tersirat ataupun  mendalam. Hanya untaian kata-kata.




---bie--

Selasa, 26 Juli 2011

Tema : Bolehkah berpraktek sekarang??

Kadangkala setiap detik kehidupan kita selalu saja dihinggapi oleh perasaan ragu. Perasaan ragu-ragu tentang daya upaya kita menghadapai terpaan ujian duniawi. Merasakan bosan adalah suatu pokok bahasan yang menarik untuk dikaji lebih luas, karena pada kenyataannya banyak manusia telah membenci kehidupan yang membosankan ini. Aku menulis kalimat-kalimat yang mengandung persangkaan pada banyak pihak?. Mari kita mulai tema kita malam ini.

Ada teman-teman mahasiswa kedokteran yang belum lulus dan menyelesaikan pendidikan formalnya, tetapi telah berani merawat pasien. Saya seorang dokter pula, tetapi apakah yang demikian ini diperbolehkan? Undang-undang hanya sebatas tulisan karena nyatanya tidak ada kontrol terhadap hal-hal semacam ini. Bolehkah Ko-Ass bahkan Clerkship telah berpraktek di klinik-klinik kesehatan?. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mengganggu benakku. Bagaimana tidak?aku yang harus mati-matian bekerja untuk memenuhi biaya kuliahku dengan mengajar sana-sini, tiba-tiba mendapat tawaran menggiurkan "berpraktek sebagai dokter". Bukankah belum boleh kita berpraktek?? Seringkali pengalaman selalu dijadikan alasan. Bahwa tanpa pengalaman kita tidak akan bisa menjadi dokter yang bagus. Sampai disini saya setuju, tetapi apakah harus melanggar hak-hak dari pasien?. Mengapa saya katakan hak? karena pasien berhak mendapatkan pengobatan terbaik oleh seorang dokter.

Apakah yang demikian ini bisa dijadikan suatu kebanggaan??. Celakanya sebagian dari mereka telah merasa bangga dengan hal ini.  Teman, Jika saya adalah orang kaya maka saya tidak akan merasa pusing dengan hal-hal semacam ini. Mengapa saya merasa terlibat dalam situasi tidak menyenangkan ini?. Karena ternyata saya adalah anak orang "Gak Punya" yang beruntung dapat masuk Fakultas Kedokteran. Tetapi untuk itu saya harus bekerja dari semester 3 sampai sekarang saya hampir lulus dokter. Saya sempat bekerja sebagai penjaga warnet dan guru privat. Dan saya bangga. Lalu tawaran untuk praktek di klinik-klinik kecil datang. Suatu hal yang telah lama dilakukan oleh teman-teman saya. Dan mereka bangga. Penawarannya adalah, jika anda sebagai calon dokter mau bersedia praktek di klinik-klinik, anda akan mendapat bayaran dan tentu saja pengalaman. Inilah yang menjadi pertaruhan dahsyat bagiku selama berhari-hari apakah saya akan menerima tawaran ini atau tidak. Di sisi lain saya butuh uang untuk terus bertahan, di sisi lain saya juga butuh pengalaman untuk masa depan saya sebagai dokter. Di sisi lain saya bingung bolehkah saya melakukan hal ini? Saya belum layak praktek. Saya belum lulus dokter. Apakah saya tidak menghormati prinsip-prinsip kejujuran yang selama ini saya anut jika saya mengambil tawaran ini. Apakah saya tidak termasuk berbohong pada pasien-pasien saya jika akhirnya saya mengambil tawaran ini?.

Akhirnya Allahlah tempat kembali dan tempat mengadu, lalu saya berpikir bahwa selama ini Allah telah mencukupi kebutuhan saya selama kuliah dan saya bersyukur akan itu. Pengalaman selalu akan menjadi alasan terbaik untuk mengambil tawaran ini , tetapi saya punya pendapat lain. Untuk mendapat pengalaman tersebut saya harus bersabar. Lebih baik saya belajar dengan baik di sini dan kelak jika saya lulus saya akan memulainya dari nol untuk merintis karir sebagai dokter. Hal ini jauh lebih baik daripada saya mengorbankan dan berbohong pada pasien-pasien yang tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi. Lagipula saya yakin segala perbuatan akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. dan percaya pada Allah rasanya jauh lebih baik daripada percaya pada sekumpulan bisikan atau hasutan berbahaya semacam ini. Saya anggap berbahaya karena celakanya mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka melakukan kesalahan besar. Prinsip dasar kejujuran telah mereka langgar dalam dunia kedokteran. Karena saya tahu sendiri bahwa mengurusi pendidikan klinik di masa sekolahnya saja mereka tidak bisa, apalagi merawat pasien dalam kapasitasnya sebagai dokter yang belum layak untuk berpraktek alias belum lulus.

--akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil tawaran ini--

--terima kasih--




Sabtu, 11 Juni 2011

Tema : Nyontek massal atau sendiri-sendiri ??

,.....sekarang aku tahu jika kejujuran sebaiknya dijadikan sebuah tema parodi kehidupan, karena sepertinya para manusia ini lebih menghargai kehidupan semu yang benar-benar biru. Rasanya kelam jika memandang debu tersebut di balik rasa malu. Aku menyebutnya sebagai "Parodi Kejujuran". Sebuah tema lucu yang membingungkan. Dan para pemeran pun tidak perlu memainkan skenario dengan lucu. Cukup dengan menjadi diri sendiri. Para pemain drama adalah orang di balik jiwa-jiwa seni. Seni apapun sejatinya harus memuat pesan yang sarat makna. Dan makna hidup yang seperti apa yang akan tersirat dari tema-tema "kemunduran hati" di sana-sini.

Mengutip apa yang terjadi akhir-akhir ini di sebuah daerah di Surabaya. Sebut saja Tandes, bukan nama sebenarnya. Seorang Murid SD kelas 6 telah menjadi korban "konspirasi" kejahatan intelektual yang menyedihkan. Si "Al" nama murid tersebut telah diajarkan sebuah skenario drama percontekan luar biasa yang penuh dengan intrik. Intrik yang kejam. Kejam bagai pedang yang menghapus nilai-nilai keluhuran guru sebagai pendidik yang bersahaja. Bagaimana mungkin seorang guru mengajarkan tema-tema "ketidakjujuran" yang biasanya hanya dikuasai oleh para koruptor.
,...............
Sebelumnya, Siami mengatakan, dirinya baru mengetahui kasus itu pada 16 Mei lalu atau empat hari setelah Unas selesai. Itu pun karena diberi tahu wali murid lainnya, yang mendapat informasi dari anak-anak mereka bahwa Al, anaknya, diplot memberikan contekan. Al sendiri sebelumnya tidak pernah menceritakan ‘taktik kotor’ itu. Namun, akhirnya sambil menangis, Al, mengaku. Ia bercerita sejak tiga bulan sebelum Unas sudah dipaksa gurunya agar mau memberi contekan kepada seluruh siswa kelas 6. Setelah Al akhirnya mau, oknum guru itu diduga menggelar simulasi tentang bagaimana caranya memberikan contekan. (Kompas, 10 Juni 2011)
..............
Baik, aku mencoba untuk tidak emosional. Tapi sepertinya huruf-huruf yang tertulis semakin tidak bersahabat. Susunannya abstrak dan tak berbatas.  Maaf, mari kita kembali membahas "Parodi Kejujuran". Sekarang aku bertanya," Apakah kau masih selembut dahulu?" kata Gie dalam puisinya. Ingin sekali aku bertanya pada diri sendiri tentang rasa malu. Aku juga bukan manusia yang terlalu taat pada norma. Aku juga melewati masa-masa di mana kelas begitu berisik. Terkadang aku juga menyontek. Bolehkah aku menyebutnya sebagai budaya. Pengertian budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sekarang, bolehkah kita menertawakan diri kita sendiri?. Bolehkah kita mengajarkan anak-anak kita tentang "budaya-budaya" negeri ini?. Silahkan di jawab dengan hati.

Ada yang lebih mengharukan dari sekedar membaca berita-berita. Terlebih lagi jika kita mendengar kabar ketidaknyamanan. Bertambah kacau jika kita mendapatinya bersambung hingga esok hari. Terkadang kritik sangat menusuk dalam hati. Bahkan terkadang kritik muncul dari orang-orang awam yang tidak paham solusi. Seperti kejujuran. Terkadang mengatakan "jujur" itu sakit, dan melaksanakan kejujuran itu dapat seperti bunuh diri. Terkadang situasi juga sulit dimengerti.

Si Al telah di "eksploitasi" ketidakpahaman-nya. Oleh guru tercinta dia dihimbau untuk "membantu" teman-temannya, dan tentu saja dalam skenarionya si "teman" tersebut bersedia. Secara "Blak-blakan" aku berani mengatakan bahwa situasi ini telah terjadi di mana-mana. Apapun alasannya ini merupakan bentuk kecil tindakan korupsi. Korupsi termasuk dalam sub bab pembahasan bab "budaya" di negeri ini. Dan secara tidak sadar kita telah terlibat dalam konspirasi "budaya" yang mengerikan. Demi prestasi kita telah berdiskusi dengan calo-calo "Parodi". Demi kehebatan "semu" nilai UNAS, kita telah menjual harkat martabat kepada sistem. Dalam hal ini sistem telah terbentuk sebagaimana Pancasila mengajarkan "musyawarah" untuk mufakat. Mufakat dalam hal ini tentu saja adalah jawaban si Al, sebagai pemeran utama drama kali ini. Apakah anda merasakan kesedihan sejauh ini?. Atau hanya perasaan biasa, mengingat masa-masa lampau saat kita juga "nyontek!".

……Dan perkembangan selanjutnya, warga dan wali murid malah menyalahkan Siami dan puncaknya adalah aksi pengusiran terhadap Siami pada Kamis kemarin. (Kompas, 10 Juni 2011)

Yang aku sayangkan adalah ketika seorang ibu datang memperjuangkan kejujuran, justru respons negatif yang didapatkan. Mentalitas warga kita yang terpuruk karena pragmatisasi keadaan, lalu dengan semangat juang yang tinggi justru mengusir kebenaran. Masyarakat telah membunuh nuraninya atas nama ketidakjujuran. Mereka terlalu takut anak-anak mereka tidak lulus dan membiarkannya terjebak dalam kubangan kotor yang kita sebut sebagai “parodi ketidakjujuran”. Rasa malu telah berbalik arah, bahkan terjerumus ke dalam jurang awam yang gelap. Mereka telah menguburnya dalam-dalam di dalam hati. Tidak lagi peduli, tidak pula bersedih. Situasi menjadi sangat perih. Maka inilah yang kita sepakati sebagai bunuh diri. Kita jujur dan mati.

…..Warga juga menyatakan bahwa menyontek sudah terjadi di mana-mana dan wajar dilakukan siswa agar bisa lulus. (Kompas, 10 Juni 2011)
Mewajarkan sesuatu yang paradoks sudah sesuatu yang sering dilakukan oleh masyarakat kita. Menghalalkan segala cara demi suatu tujuan bukan merupakan tema yang baru di kalangan masyarakat. Memaklumkan orang untuk berdusta juga sudah sering. Asal kepentingan diri terpenuhi, tidak peduli merugikan orang lain atau tidak. Jangankan kepentingan diri, terkadang kepentingan publik pun dipenuhi dengan cara-cara “cepat”.

Yang aku sampaikan saat ini adalah fakta yang terjadi di kehidupan kita. Dan mungkin terjadi pada anak-anak kita. Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai masyarakat menanggapinya. Apakah kita tetap bersikap lembut pada "ketidakjujuran" atau membiarkannya mengakar sebagai budaya yang perlu dilestarikan. Sebuah pilihan yang sulit di atas panggung "Parodi Kejujuran". Jika hal yang paling dasar dalam bermasyarakat saja sudah dilanggar di masa-masa kecil, lalu bagaimana mentalitas anak-anak bangsa ini kelak saat dewasa. Azas kejujuran semestinya diukir di sebuah prasasti yang kokoh karena akan menjadi langka di masa depan.
 



--bie--