Kamis, 09 Juni 2011

,..Lawu dan cinta pada guru-guru,...



,....saat itu sore hari, dan kami (aku dan lamunanku) sedang menatap dedaunan saling bergoyang mengiringi nada-nada angin yang merdu. Di sebelah langit tampak langit yang lain, indah dengan guratan garis-garis awan yang tegas berbatas lentik bagai rambut gadis-gadis desa. Sejenak aku mulai terbawa dingin, dan saat itu pula pasir-pasir berbisik pada jemariku, tentang tanah liat yang kemarin, tentang semak belukar, tentang matahari yang muncul mengintip malu, tentang semuanya. Waktu itu yang aku ingat hanya wajahnya yang sendu, lalu senyumnya yang ranum, juga gaunnya yang anggun bagai bidadari. Seorang guru.

,......yang aku tulis adalah dendam pada situasi, suasana hati yang geram pada kondisi, juga amarah yang mengalir deras memecah batu-batu malu para pemimpin. Yang aku sampaikan adalah tema sosialis pragmatis  yang mungkin membuat sebagian burung meringis. Sehingga manusia-manusia malu akan sifatnya sendiri, dan paham akan tema kehidupan yang keras. Aku menulis tentang isi suatu dialog di kampung-kampung intelektual rumah kami (di rumah, kami sering berdiskusi tentang fakta).

,.....seorang kawan menceritakan tentang gaji guru-guru "sukuan" yang kecil. Sebenarnya kami tidak peduli sampai kami tahu bahwa sekolah-sekolah yang mereka perjuangkan adalah sekolah pinggiran di desa-desa pelosok. Desa adalah lambang ketentraman kawan, dan sampai saat aku masih duduk di bangku SD, aku masih berenang di "jomblangan", danau kecil di samping sekolah. Aku tersengat mengetahui bahwa salah seorang kawan kami hanya mendapat gaji "seratus delapan puluh ribu rupiah" atas perjuangannya mengajar anak-anak desa di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTS). Sekolahnya berada di desa yang sebagian anak-anaknya masih kental dengan siraman agama, sehingga sekolah yang ada pun berupa MTS. Kawan ini adalah seorang sarjana teman, dan dia mau mengajar di desa-desa. Lalu aku berpikir, apa yang dia dapat di sekolah kecil yang hampir semua masyarakatnya adalah warga miskin.

Sebuah ironi tentang majas-majas kemanusiaan yang tak ada batasnya. Sebuah prosa nyata tentang paradoks negeri ini. Tidak tahu mengapa aku menjadi bersemangat pada aura kemarahan pada diriku. Tiba-tiba aku sadar bahwa siapa lagi yang mengajar anak-anak itu, kalau bukan mereka (Guru-guru bantu,..), lalu pantaskah mereka mendapat lebih??". Siapa yang memikirkan nasib mereka??" Para raja negeri ini??" Para menteri??" Politikus??" Praktisi pendidikan??" Kita??".

Kebiasaan kita hanya mendengar, lalu mencoba melihat sedikit, kemudian berkomentar tentang apa saja yang dapat diucapkan. Tanpa merubah apapun,....aku sampaikan semuanya dalam batasan orang awam. Aku juga demikian.

,....anak-anak desa berhak sekolah, supaya mereka tahu bahwa puncak "mimpi-mimpi" mereka adalah nyata. Sehingga apapun itu, guru-guru mereka adalah yang terbaik....!!

Ya,....cemoro sewu adalah awal dari pendakianku yang kesekian kali. Kemarin malam kami berdiskusi tentang guru, sehingga aku memutuskan pendakianku kali ini aku dedikasikan kepada para guru. Aku tidak mampu membayangkan guru-guru yang mengajar di pedalaman-pedalaman Papua, jelas mereka melewati hutan yang jauhnya tak beralasan, menyeberangi sungai-sungai dan mungkin juga mendaki gunung-gunung.

Baiklah, mari kita coba ke Gunung Lawu,....


Cemoro Sewu adalah gerbang pertama pendakian kami saat itu, berangkat dari Surabaya hari Jum'at 13 Mei 2011 pukul 21.00, bersama dua orang kawan terbaik dalam pendakian akhir-akhir ini, Yoyok dan Anang.  Kami berangkat mulai jam 07.00 pagi hari Sabtu-nya. Kami yakin akan bertemu banyak orang di Lawu, karena waktu itu adalah akhir pekan. Puncak Gunung Lawu bisa ditempuh selama 6 jam dari pos pertama, cemoro sewu. Cukup menyenangkan untuk sekedar menggugurkan keinginan mendaki gunung. Tidak butuh waktu lama dan pemandangannya cukup bagus.
 

Di sana kami bertemu dengan rombongan dari ITS, adik-adik kelas rupanya, karena ternyata mereka baru angkatan 2009-2010.  Karena mereka tidak membawa tenda akhirnya kami sepakat untuk berangkat bersama-sama menuju puncak. Kami sendiri membawa satu tenda yang besar dan cukup untuk 6 orang sehingga tidak ada salahnya kami mengajak mereka bersama, toh sama-sama orang Surabaya jadi biar lebih akrab saja.


Anang dan Yoyok : Tampak Belakang



 Dalam perjalanan ke Puncak Lawu,....



 
Kawan, aku mengerti betul bahwa sampai aku bisa seperti ini adalah karena jasa guru-guru terbaikku. Mereka dengan tulus memberikan pelajaran, dengan sabar memberikan pengetahuan dan mengajari tentang segala sesuatu yang baik. 


 
Yoyok dan Anang

 

Sendang Drajat
Sumber kehidupan kami selama  di Puncak gunung Lawu. 

Pos Sendang Drajat adalah Pos ke-5 dalam pendakian menuju ke Puncak Gunung Lawu. Di sini terdapat warung Mbok Yem, yang berjualan aneka macam gorengan dan nasi. Lumayan untuk mengisi perut yang kosong karena terus berjalan selama pendakian. Gunung Lawu cocok sebagai latihan bagi pendaki-pendaki pemula yang ingin merasakan hawa gunung. Di sini jalannya cukup jelas dan banyak terdapat warung-warung warga di puncaknya, baik lewat pendakian lewat jalur cemoro sewu maupun cemoro kandang.


Pecel Mbok Yem Lawu

Dari Pos sendang drajat menuju puncak Hargo Dumilah bisa ditempuh selama 15 menit. Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup membawa daypack kecil dan botol air minum  kecil. Akan terdapat percabangan yang jika ke kanan menuju ke Petilasan Prabu Brawijaya. Sementara yang satunya menuju Puncak Hargo Dumilah. Dalam perjalanannya kita akan menemui padang edelweiss jika beruntung, karena hanya musim-musim tertentu saja edelweiss berbunga.

Menuju puncak


 Puncak tertinggi Gunung Lawu, atau lebih di kenal sebagai Puncak Hargo Dumilah (3265 m dpl). Di sana kami bertemu dengan teman-teman dari Jogja yang mendaki dari jalur cemoro kandang.


Mengibarkan bendera UNAIR di puncak tertinggi Hargo Dumilah (3265 m dpl). 

Kawan, aku hanya memiliki satu bendera yang selalu aku bawa dalam setiap pendakianku. Bendera tersebut adalah bendera yang ada di foto. Bendera UNAIR. UNAIR sudah seperti rumah kedua bagiku . Aku sangat senang bisa mengibarkan bendera UNAIR di puncak gunung-gunung. Bagiku, bendera ini sama pentingnya dengan bendera merah putih yang juga selalu kami kibarkan di puncak gunung-gunung. Apa artinya bagiku?? Ternyata aku juga sama. Bahwa aku adalah orang desa yang beruntung mendapat pendidikan di UNAIR adalah benar. Bahwa aku adalah anak yatim yang beruntung menjadi dokter pun itu mungkin benar. Dan bahwa aku mendapat pelajaran terbaik dari guru-guru kami di UNAIR pun, itu sangat benar. Kawan, betapa banyak dosen-dosen yang menginspirasiku. Mungkin mereka tidak tahu dan tidak terlalu penting mereka tahu. Yang aku tahu aku bangga menjadi dokter alumni UNAIR, dan aku bangga dapat mengibarkan bendera UNAIR di puncak gunung-gunung walau bukan gunung tertinggi. Mungkin aku ingin seperti mereka dalam konteks sebagai guru, yaitu menginspirasi. Itu juga benar.

Kami mendaki karena kami memang ingin mendaki kawan. Di gunung kami mendapat teman-teman baru, di sini pula kami dapat belajar menahan diri dan tidak egois. Aku sendiri sangat menikmati kegiatan mendaki gunung. Alasan lain adalah dengan mendaki gunung aku measa lebih dekat dengan alam Indonesia, dan dapat lebih belajar bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya. 

Seperti kata Hok Gie "Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objek-objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat, karena itulah kami naik gunung".



 Di percabangan menuju Hargo Dalem (Petilasan Prabu Brawijaya)


 Hargo Dalem


 Dari kejauhan, Hargo Dalem.

Bahwa orang yang mendaki gunung suka menulis puisi itu mungkin benar. Aku merasa banyak inspirasi di sini. Dan lirik-lirik seperti dengan mudah mengiringi perjalanan kami. Dan mengingat apa-apa yang telah menjadi pelajaran hidup, bisa menjadi lebih mudah di gunung. Termasuk mengingat guru-guru tercinta dari semasa kami kecil. Mengingat guru-guru di ujung belantara hutan-hutan Papua. Mengingat guru-guru luar biasa yang menangisi murid-murid mereka yang telah "sukses". Meresapi raut wajahnya yang semakin tua. Semuanya. 



Carrier yang selalu menemani setiap pendakian kami.

Nah, Inilah tas-tas kusut kami yang menemani mengantar mimpi-mimpi kami mencapai puncak gunung-gunung. Hehehe, terkadang kami juga malu pada diri sendiri. Tak jarang pula kami mengeluh tentang beratnya barang bawaan kami. Tapi kalau kami kalah oleh gertakan angin yang berbisik seperti itu, maka kami akan mati di gunung. Allah adalah pemegang sah hak kehidupan kami, baik itu di gunung atau di tempat selain gunung. Maka sebab itulah kami tidak meninggalkan Sholat selama di Gunung. InsyaAllah. 

Kawan, ini juga yang kumaksud dengan belajar menahan diri. Kau akan belajar mengerti bagaimana wajah -wajah orang yang lusut karena membawa carrrier-nya, wajah kusut karena lelah atau capek, dan disitulah peluangmu untuk membantunya, mungkin dengan menggantikannya sejenak, atau menahan ego-mu untuk berjalan terus. Mendaki dan terus mendaki itu butuh kesabaran, dan tidak semua orang dapat melakukannya. Orang cenderung tergesa-gesa, dan ingin cepat mencapai puncak. Analogi ini aku rasa juga terjadi di kehidupan dunia. Bahwa dalam hal apapun, manusia cenderung ingin cepat sampai pada cita-citanya. Padahal yang kami tahu, banyak "spot" yang bagus untuk dinikmati. Banyak pula hikmah disetiap langkah yang bisa kita ambil. Bahwa ternyata bersabar itu  sulit, dan tak jarang orang menyerah karena itu.

 
Teman-teman selama pendakian, Arek-arek ITS. Terima kasih kawan. 

Mendapat kawan baru yang sebelumnya tidak saling kenal. Hanya satu tujuan kami. Kami hanya suka mendaki gunung. Percayalah, jika kamu ingin mengenal lebih dekat teman-temanmu, maka bawalah dia ke Gunung, maka kamu akan melihat bagaimana sifat asli dari teman-mu. Di gunung, orang akan menjadi dirinya sendiri. Kalau dia baik maka dia akan menjadi baik, dan kalau dia egois maka gunung adalah tempat terbaik untuk menjadi egois. Pengalamanku, kami menjadi lebih akrab selama pendakian. Dengan kawan baru kami membicarakan banyak hal. Mulai dari politik sampai pendidikan, mulai cita-cita sampai harapan, mulai mimpi-mimpi sampai kenyataan pahit dalam hidup. Semua kita bicarakan. Kami menjadi lebih mudah menyapa, menjadi lebih mudah berbagi. Menjadi sangat toleransi. Suatu hal langka yang sulit dilakukan di tempat lain.


Dari Ketinggian, aku mencoba melihat ke bawah,...
Manusia ternyata kecil di hadapan alam,...
dan alam itu kecil sekali di hadapan Tuhan,....

Tema kita adalah guru,...
dan pendakianku kali ini juga demi guru-guru,...
sebagai penutup ijinkan aku menulis sesuatu untuk mereka,.....

,...............
Seseorang telah mendadak pergi pagi itu,...
lalu kami juga berhamburan menabrakkan wajah-wajah kuyu,...
sambil meringis menatap matahari ilmu di kelas-kelas...
suasana tidak pernah berubah,
kelas-kelas selalu penuh dengan puisi-puisi angka,
majas-majas tak beraturan,
dan lembaran prosa tak berujung,

aku mengerti mengapa kami menangis,...
aku paham kenapa kami berada jauh di sini,...
tapi aku tak tahu kenapa guruku meninggalkan kami,...
atau kami menangis karena engkau pergi?
terkadang aku jenuh berada di hutan,...
tak jarang aku marah karena "suasana" ini telah mengusirnya
aku sedih guruku telah pergi,
meninggalkan kami anak-anak desa,...

yang aku tahu,
aku hanya ingin melihatnya tersenyum,...
datang setiap pagi dan bisa mencium punggung tangannya setiap pagi,...
mendengarkan nada bicaranya yang lembut
menundukkan wajah kami karena beliau marah,..
lalu menyambut rapor kami yang penuh dengan "angka merah" dengan rasa malu.

Seseorang telah membuat kami bercita-cita,..
walau hutan belantara dan sungai-sungai menjauhkanmu,..
kau telah tulus melangkah menghampiri kami di pelosok negeri,...
meski kini engkau pergi,...
tetapi engkau telah memahat mimpi di hati kami,..

NB : Untuk Guru-guru di penjuru Nusantara, dan "guru" bagi anak-anakku kelak.


Jumat, 24 Desember 2010

Catatan Perjalanan Ke Gunung Arjuno,...


Ketika kita berpikir untuk sejenak meninggalkan kehidupan kota, maka pilihan untuk mendaki gunung sebagai refreshing sangatlah tepat. jujur saja waktu itu aku sedang menjalani kepaniteraan di bagian Obstetri dan Ginekologi, tapi ditengah stressor yang sangat tinggi, ada ajakan untuk mendaki gunung selama 3 hari, tanpa pikir panjang tentu saja aku amini ajakan itu.

Waktu itu 8 Oktober 2010, kami memutuskan untuk sepakat melakukan pendakian ke Gunung Arjuno (3339 m dpl). Singkatnya rombongan kami sebenernya terdiri dari dua team, kami dari Surabaya 5 orang termasuk aku, dan dari Malang 6 orang. Kami bertemu di daerah masjid Cheng -Ho Pasuruan, dan kami merencanakan untuk melakukan pendakian lewat jalur tretes. Sebelumnya kami memang tidak saling kenal,..nah inilah cerita khas dari para pendaki,...kita akan banyak bertemu temen2 yang sebelumnya gak kenal,....

Aku berangkat dari Surabaya sekitar jam 5 sore naik motor sama temen (Yoyok), kita ketemu sama 2 temen kita yang lain di taman bungkul (Lukman dan Klepek) yang sama-sama naik motor juga,...akhirnya berangkat ke Cheng-Ho naik 2 motor,...nah yang satu lagi temen kita (Iwan) sudah berangkat duluan dan katanya nunggu di masjid Cheng-Ho,...kita nyampe Masjid Cheng -Ho sekitar jam 8 malam kalo gak salah,...di sana kita sholat2 dulu sambil nunggu rombongan dari Malang,....sambil nunggu kita makan penyetan dulu,....jam 9 malam Rombongan berjumlah 6 orang datang dengan bus,...kami mempersilahkan mereka makan dulu, sebelumnya kami tentu saja berkenalan dulu karena memang tidak saling kenal,...

Kemudian dari Cheng-Ho kami berangkat menuju pos pendakian pertama Tretes. Kira-kira setengah jam perjalanan dari Masjid Cheng-Ho, dengan jalanan agak menanjak. Kami dari Surabaya yang memang dari awal naik motor tentu saja tetep menggunakan motor butut kita menuju ke sana, sedangkan rombongan dari Malang menuju Tretes dengan menggunakan Angkot. Singkat cerita kami tiba di tretes jam 10 malam. Di sana kita Istirahat dulu, kencing, boker  dsb,..hehehe,..terus cek peralatan, packing ulang,..pembagian logistik dan barang2 yang perlu dibawa dalam perjalanan,...pokoknya persiapan team terakhir sebelum berangkat malam itu juga,...waktu menunjukkan jam 11 malam dan kita berkumpul sejenak untuk berdo'a, memohon keselamatan sampai di sana,...di puncak tertinggi gunung Arjuno,...Jangan lupa sebelum mendaki kita harus pemanasan dulu,...

Bismillah akhirnya kita berangkat,....

Dalam malam kami merasakan dingin yang sangat,..
semak belukar kami lalui dengan rasa suka cita dan kebersamaan sesama teman,...
Saling melindungi,..
Saling mengingatkan,..
tidak ada kesombongan,..tidak keangkuhan kawan,...

 Ini seluruh team,...di pos pertama Pendakian Gunung Arjuno Tretes


Narsis dulu sebelum berangkat,..hehehe,...dengan Carrier pinjeman dari temen,..packing lengkap,...siap berangkat,...


Setelah melewati perjalanan panjang selama hampir 4 jam kami tiba di pos kedua , "Kopkopan"...kami langsung tidur dan gak peduli dengan cuaca dingin waktu itu,..asal tau aja,..memang dingin banget, sleeping bagku aja gak ngefek,...
Nah,..gambar di foto ini pas waktu sudah pagi,....ada fawait di sana,..dari Malang,...


hehehe,...Gue di Pos Kopkopan,....

Lukman,....di pos pendakian Kopkopan,...

Pos kedua "Pondokan",...di sini ada dua jalur menuju puncak Arjuno atau Puncak Welirang

Bersama kita bisa,....!!!

Edelweiss,.....

Ini adalah saat-saat terburuk kami di Arjuno,...hujan sepanjang sore hingga larut malam yang membuat kita harus meninggalkan tenda,...Sungguh malam itu sangat dingin teman,...kami semua sudah kehabisan baju kering,...kami berusaha menghabiskan spiritus yang tersisa untuk membuat perapian,..kami tidur saling merapat untuk mendapatkan hangat,...huuh,..cuaca memang bener2 tidak mendukung saat itu,....

ini adalah rumah-rumahan yang tidak tahu siapa pemiliknya tetapi sudah menyelamatkan kami dari kedinginan,....

Ada satu hal yang pasti akan menjadi pertanyaan,..?? apakah di sana saya Sholat,..?? Alhamdulillah meskipun kondisi medan yang seperti itu dan di hutan-hutan,...kami masih istiqomah untuk tetep Sholat,...kita telah dengan sengaja memasuki daerah yang asing teman,..tidak ada yang tahu bagaimana nasib kita selanjutnya,...maka berdo'a kepada Allah dan menjalankan ibadah Sholat adalah salah satu penguat kami dalam mencapai tujuan kita di sini,...Allahlah Yang Maha Pelindung,..dan Allah pulalah yang Maha Memberikan bencana,....

Ini dalam perjalanan menuju puncak,...ngisi air ,...ada air terjun dibelakang kita,...

Menelusuri jalan setapak,...kita sedang melewati hutan Arbei,...lumayan untuk mengisi perut selama perjalanan,...
 
Buah Arbei,....
Pasar Setan,...

Kami bertiga,...Andriy, Bos Joko, Lukman di Pasar setan,...



Pasar Setan,...dari sini kita telah melihat Puncak,...cuaca sangat berbeda pada hari itu dibanding hari sebelumnya,...cerah banget,...

hampir mendekati puncak,..di jalan berbatu,...Klepek di sana,...

Setelah berjalan selama 4 jam,..akhirnya menjelang siang kami berhasil sampai di sini,..lupa aku namanya,..tapi ini sudah deket banget sama puncak,...cita-citaku adalah mengibarkan bendera UNAIR Almamaterku di puncak tertinggi gunung-gunung,...

Bersama yoyok,...

dari kiri : Andriy, Lukman,  Egi, Klepek,....


Beberapa saat sebelum ke puncak,....

Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya kita sampe di puncak bayangan ,....kira-kira 10 menit sebelum sampai di puncak sesungguhnya,...

Ketika Angin berhembus menyapaku,...
Ketika matahari sungguh sangat dekat,...
Ketika keringat ini pun terbayar dengan sejuknya udara dingin
akhirnya kami bisa menjejakkan kaki-kaki kusut kami di puncak tertinggi Arjuno,..
dan mengibarkan Merah Putih di sana,....


Hal yang paling membuatku terharu adalah,...kami semua bergandengan tangan berjalan menunjuk puncak,..dan setelah itu menyanyikan lagu "Syukur"...bener-bener berbeda rasanya,...haru banget,...
aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan gunung kawan,..

Tepat jam 12.00, 10-10-2010 kami berhasil mencapai puncak tertinggi Arjuno,...seluruh team lengkap,...


Berada di ketinggian dan melihat ke bawah,...terasa ngeri,...
Ini adalah Plang perbatasan Pasuruan Malang,...




Bersama kita bisa,....kawan,..!!

Semua itu berawal dari mimpi
itu benar kawan,...
ketika sore sampai larut malam itu hujan,...
pagi-pagi aku melihat puncak itu masih diselimuti awan tebal,...
suasana dingin, dingin sekali sampai aku nyaris tidak melanjutkan pendakianku 
karena aku harus segera kembali ke rumah sakit untuk belajar lagi,...
tapi pagi hari esoknya aku lihat ke atas teman,...
aku lihat puncak masih tertutup kabut pagi hari yang turun pelan-pelan,..
sangat lembut,....
dan aku mantapkan bahwa siang ini aku harus sampai ke puncak,..
fisikku tidak sekuat yang lain teman,..aku memang lebih kurus,...
tapi aku yakin aku bisa,...
dan setelah itu aku hanya berjalan dan berjalan, dan lebih banyak melihat ke atas,...
sampai akhirnya aku bisa melihat awan lebih dekat,...
melihat sudah tidak ada lagi daratan yang lebih tinggi,...
cuaca cerah dan aku melihat pemandangan yang luar biasa indahnya kawan,...
aku telah sampai di puncak tertinggi gunung ini,...
kami menyanyikan lagu "syukur" bersama-sama di puncak,...
dan kami sejenak merasakan angin-angin berhembus,.....
damai teman,....
damai di puncak ini kawan,....
melihat betapa kecilnya manusia di Bumi ini,....
melihat betapa Kuasa Allah benar2 luar biasa atas makhluk-Nya di Bumi ini,....
itulah mengapa kami sangat mencintai gunung-gunung,....
berlatih menahan diri dan ego masing-masing,..
berlatih bekerja sama dalam team,....
berlatih mengenal teman yang sebelumnya tidak kalian kenal,....
berlatih bermimpi bahwa kita bisa melalui jalan setapak ini 
dan mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi saat itu,....
lalu berlatih untuk senantiasa takut akan Kebesaran  Allah Yang Maha Besar teman,....
aku telah terlanjur mencintai kehidupanku sebagai dokter teman,...
tapi aku juga mencintai kehidupan bebas di penjuru-penjuru alam ini....




---bie---

Sabtu, 11 Desember 2010


Buku ini sungguh membuatku rindu dengan gunung-gunung,.......

Menceritakan kehidupan lima orang sahabat yang "ancur",...dengan karakter masing-masing yang unik. Membawa kita akan indahnya mimpi-mimpi, dan larut dalam kehidupan "gokil" mereka. Didalamnya ada cinta yang lucu, ada persahabatan yang asik, ada pula "Sastra",...dibumbui dengan lirik-lirik dari lagu-lagu yang sebenernya aku gak ngerti-ngerti banget,...tetapi malah membuat buku ini menjadi asik,...Intinya yang paling membuatku tertarik adalah perjalanan kelompok ini ke Puncak Abadi para dewa "Puncak Mahameru", puncak tertinggi di Pulau Jawa di Gunung Semeru,....

Aku sendiri belum pernah ke sana,..dan sangat ingin ke sana,...mudah-mudah bisa,...Amiiin