Harmoni ini…
begitu indah dan sungguh sangat terbayang
Mendengar dan berpikir tentang gelapnya jalan yang penuh dengan lampu-lampu yang redup........
Sangat indah terdengar sayu...
Seperti jeritan seseorang yang begitu kuat dalam sesaknya harmoni cinta....
Begitu menawan.....
menari-nari sangat anggun bersama mendung.....
Lihatlah bulan sebagian malu...
Menatap atau mengintip sebagian kaum yang sibuk berguru pada ilmu yang biru...
Sangat cantik beriringan dengan canda harmoni...
Seperti piano.....
atau dawai-dawai gitar yang tipis....
Berjalan dan memuja cinta......
Cinta...atau harmoni....cinta?
Entahlah apa yang terdengar saat malam purnama kemarin....
Hanya bisikan yang nakal dari angin malam yang begitu sedih saat itu....
Sambil berlari...
angin-angin itu berkejaran bersama debu....
Menuju suara cinta di padang sayang, para gembala rindu...
Sungguh aku merindumu sayang....
Merindu waktu yang akan tiba entah kapan....
Saat-saat rumput masih begitu pendek..
dan pohon masih begitu rindang...
Dan air-air kali yang sangat deras mendera kita saat dulu....
Masa-masa kecilku.......
sungguh telah berlalu.......
--bie--
Jumat, 10 Juni 2011
Siapa dia,...
......................................................
lalu apa yang membuatmu tampak malu,..
sementara daun-daun mulai menguning dan semua masih tampak layu,...
apakah dahan-dahan juga merindumu seperti dahulu,....
durinya kecil menusuk perih jejak-jejak tak beraturan di hutan senja penuh cinta,....
sambil memanggil kumpulan burung pipit yang saling bercumbu dengan angin,...
lalu apa yang membuatnya tampak indah,...
sementara gemerisik pasir di tepi sungai masih nampak kusut,....
memandangnya jauh dalam riaknya yang lembut,...
sembari membasuh wajahnya dengan air-air belantara hutan rindu,.....
siapa dia kawan,....
lalu seperti apa kamu menginginkannya,....
sementara, aku hanya bisa menulis,....
karena sesuatu lebih mudah diungkap, jika ditulis,.....
---bie---
lirik by jikustik :
............................
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindah ku hanya untukmu
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindah ku hanya untukmu
Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu
---Hehe---
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu
---Hehe---
Catatan kami,...
setiap perjalananku adalah arti,...
dan setiap arti adalah semuanya yang sungguh sangat indah
dalam cerpen singkat hidupku
lalu seperti apa bait-baitnya
apakah kau adalah burung yang senantiasa terbang sangat sayu
mengejekku begitu lugu dan tertawa begitu ramai
para dahan yang berisik saling melirikku
melihatku lalu coba menghadangku
setiap jalan adalah makna
dan setiap makna adalah bagian dari cita-citaku
aku melihatnya begitu tinggi,...
juga mengenangnya begitu indah,...
---bie---
Sebuah Cerita,...
Sebuah cerita untuk teman-teman ku……
Lihatlah teman
yang kita lewati sepanjang waktu berlalu
berlari bersama dan kalian yang begitu lucu..
dalam sesama kendaraan harapan dan cinta
dan semangat kalian yang begitu indah
sampai burung pun begitu malu untuk bergabung
dan pasir begitu sibuk saling berbisik
tentang kita....
atau apa saja yang kita cita-citakan dulu...
apa kalian lupa tentang masa lalu
tentang makanan yang begitu sesak dalam khayal
tentang canda yang begitu riuh dalam sedih..
atau tentang semua yang terjadi di sana...
lihatlah kalian para pejuang hati...
bernyanyi dalam sendu jiwa yang sepi..
terlampau rindu akan tanah kita yang dulu..
dengan para ibu kita yang lugu...
kemudian apa dan entah bagaimana yang terlampau jauh
aku tak akan lupa tentang semua..
tentang canda kita..
lalu saat kita bersedih....
juga tentang senyum para pujangga hidup di rantau...
......................................................................................
Terima kasih ..................
Untuk teman-teman terbaikku.....
Semua yang akan menjadi kenangan nanti.....
mungkin saat aku pergi...
Atau saat kita telah berjuang dalam diri menjadi pribadi yang sejati..
Di pelosok nurani....
Menjadi insan yang saling mencintai.....
Dalam cita dan cinta di hati...
Untuk kita semua nanti..yang akan berjuang demi cita-cita...dan cinta....
Sekali lagi terima kasih teman....
-----bie-----
,..aku adalah jiwa yang sepi,..
…………………………..
Padang sabana dalam hijauan lambai daun berujung rindu yang menguning…
tersenyum malu-malu saat angin menderanya sangat lugu
begitu gaduh oleh kawanan burung pembawa rindu
aku adalah jiwa yang sepi..
betapa cinta telah mengalahkanku dalam luasan sabana rindu di ujung kalbu…
demikian indah wajahnya terlukis di atas kertas angan-anganku
aku telah terbawa dalam jurang cinta yang awam..
ketika daun memelukku begitu kasar
dan senyumnya hadir melepas lamunanku yang tergantung dalam ranting-ranting kejenuhan..
Lelaki adalah kami yang begitu kecil dalam cinta..
atau hanya aku yang tersandung dalam keindahan semu gadis itu..
sesekali aku masuk dalam mimpi jauh di padang abu-abu
mencari cinta yang telah menegurku akan sifatnya yang alami…
juga kesucian didalamnya..
dalam sadar aku telah terlena..
juga sesak dalam dada, telah membuatku berdusta tentang diriku dihadapan cinta..
aku jatuh hati padanya……
……………………………
.....................
Tentang dia,...
...............................................................................
Selimut biruku tergulung lembut dalam tidurnya asa-asaku…
Begitu pula aku yang tersungkur dalam gundahnya hati yang membiru..
Membekas sangat lugu….
Betapa cinta hampir mengalahkanku..
Adalah suasana yang merona dalam sajak-sajak kepalsuan atas nama cinta..
Demi apapun aku adalah pejuang rindu…
dan saat-saat aku bersamanya adalah siksa…
kapankah terjadi waktu yang sejenak berhenti untuk sekedar menegurku
melihat luasan awan dalam birunya angan-anganku...
lelaki-lelaki dalam buaian kebimbangan
menyedihkan.....
jurang masih terlalu dalam untuk dikalahkan
dan para gunung-gunung itu masih terlalu tinggi untuk ditaklukan...
atau aku yang merana dalam perasaanku atas cinta...
perempuanku adalah dia yang begitu malu pada malam...
betapa rindu dia pada Tuhan...
dan begitu takutnya pada dosa...
padahal matahari begitu sibuk menyiangiku...
panas hatiku tak terdinginkan oleh wajahnya yang merona biru sangat sendu...
aku adalah malu...
lelaki enggan yang menghilang...
menelusup dalam sesaknya rindu yang membisu..
dan sebaiknya seperti itu....
..........................................
--bie--
Kamis, 09 Juni 2011
,..Lawu dan cinta pada guru-guru,...
,....saat itu sore hari, dan kami (aku dan lamunanku) sedang menatap dedaunan saling bergoyang mengiringi nada-nada angin yang merdu. Di sebelah langit tampak langit yang lain, indah dengan guratan garis-garis awan yang tegas berbatas lentik bagai rambut gadis-gadis desa. Sejenak aku mulai terbawa dingin, dan saat itu pula pasir-pasir berbisik pada jemariku, tentang tanah liat yang kemarin, tentang semak belukar, tentang matahari yang muncul mengintip malu, tentang semuanya. Waktu itu yang aku ingat hanya wajahnya yang sendu, lalu senyumnya yang ranum, juga gaunnya yang anggun bagai bidadari. Seorang guru.
,......yang aku tulis adalah dendam pada situasi, suasana hati yang geram pada kondisi, juga amarah yang mengalir deras memecah batu-batu malu para pemimpin. Yang aku sampaikan adalah tema sosialis pragmatis yang mungkin membuat sebagian burung meringis. Sehingga manusia-manusia malu akan sifatnya sendiri, dan paham akan tema kehidupan yang keras. Aku menulis tentang isi suatu dialog di kampung-kampung intelektual rumah kami (di rumah, kami sering berdiskusi tentang fakta).
,.....seorang kawan menceritakan tentang gaji guru-guru "sukuan" yang kecil. Sebenarnya kami tidak peduli sampai kami tahu bahwa sekolah-sekolah yang mereka perjuangkan adalah sekolah pinggiran di desa-desa pelosok. Desa adalah lambang ketentraman kawan, dan sampai saat aku masih duduk di bangku SD, aku masih berenang di "jomblangan", danau kecil di samping sekolah. Aku tersengat mengetahui bahwa salah seorang kawan kami hanya mendapat gaji "seratus delapan puluh ribu rupiah" atas perjuangannya mengajar anak-anak desa di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTS). Sekolahnya berada di desa yang sebagian anak-anaknya masih kental dengan siraman agama, sehingga sekolah yang ada pun berupa MTS. Kawan ini adalah seorang sarjana teman, dan dia mau mengajar di desa-desa. Lalu aku berpikir, apa yang dia dapat di sekolah kecil yang hampir semua masyarakatnya adalah warga miskin.
Sebuah ironi tentang majas-majas kemanusiaan yang tak ada batasnya. Sebuah prosa nyata tentang paradoks negeri ini. Tidak tahu mengapa aku menjadi bersemangat pada aura kemarahan pada diriku. Tiba-tiba aku sadar bahwa siapa lagi yang mengajar anak-anak itu, kalau bukan mereka (Guru-guru bantu,..), lalu pantaskah mereka mendapat lebih??". Siapa yang memikirkan nasib mereka??" Para raja negeri ini??" Para menteri??" Politikus??" Praktisi pendidikan??" Kita??".
Kebiasaan kita hanya mendengar, lalu mencoba melihat sedikit, kemudian berkomentar tentang apa saja yang dapat diucapkan. Tanpa merubah apapun,....aku sampaikan semuanya dalam batasan orang awam. Aku juga demikian.
,....anak-anak desa berhak sekolah, supaya mereka tahu bahwa puncak "mimpi-mimpi" mereka adalah nyata. Sehingga apapun itu, guru-guru mereka adalah yang terbaik....!!
Ya,....cemoro sewu adalah awal dari pendakianku yang kesekian kali. Kemarin malam kami berdiskusi tentang guru, sehingga aku memutuskan pendakianku kali ini aku dedikasikan kepada para guru. Aku tidak mampu membayangkan guru-guru yang mengajar di pedalaman-pedalaman Papua, jelas mereka melewati hutan yang jauhnya tak beralasan, menyeberangi sungai-sungai dan mungkin juga mendaki gunung-gunung.
Baiklah, mari kita coba ke Gunung Lawu,....
Cemoro Sewu adalah gerbang pertama pendakian kami saat itu, berangkat dari Surabaya hari Jum'at 13 Mei 2011 pukul 21.00, bersama dua orang kawan terbaik dalam pendakian akhir-akhir ini, Yoyok dan Anang. Kami berangkat mulai jam 07.00 pagi hari Sabtu-nya. Kami yakin akan bertemu banyak orang di Lawu, karena waktu itu adalah akhir pekan. Puncak Gunung Lawu bisa ditempuh selama 6 jam dari pos pertama, cemoro sewu. Cukup menyenangkan untuk sekedar menggugurkan keinginan mendaki gunung. Tidak butuh waktu lama dan pemandangannya cukup bagus.
Di sana kami bertemu dengan rombongan dari ITS, adik-adik kelas rupanya, karena ternyata mereka baru angkatan 2009-2010. Karena mereka tidak membawa tenda akhirnya kami sepakat untuk berangkat bersama-sama menuju puncak. Kami sendiri membawa satu tenda yang besar dan cukup untuk 6 orang sehingga tidak ada salahnya kami mengajak mereka bersama, toh sama-sama orang Surabaya jadi biar lebih akrab saja.
Anang dan Yoyok : Tampak Belakang
Dalam perjalanan ke Puncak Lawu,....
Kawan, aku mengerti betul bahwa sampai aku bisa seperti ini adalah karena jasa guru-guru terbaikku. Mereka dengan tulus memberikan pelajaran, dengan sabar memberikan pengetahuan dan mengajari tentang segala sesuatu yang baik.
Yoyok dan Anang
Sendang Drajat
Sumber kehidupan kami selama di Puncak gunung Lawu.
Pos Sendang Drajat adalah Pos ke-5 dalam pendakian menuju ke Puncak Gunung Lawu. Di sini terdapat warung Mbok Yem, yang berjualan aneka macam gorengan dan nasi. Lumayan untuk mengisi perut yang kosong karena terus berjalan selama pendakian. Gunung Lawu cocok sebagai latihan bagi pendaki-pendaki pemula yang ingin merasakan hawa gunung. Di sini jalannya cukup jelas dan banyak terdapat warung-warung warga di puncaknya, baik lewat pendakian lewat jalur cemoro sewu maupun cemoro kandang.
Pecel Mbok Yem Lawu
Dari Pos sendang drajat menuju puncak Hargo Dumilah bisa ditempuh selama 15 menit. Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup membawa daypack kecil dan botol air minum kecil. Akan terdapat percabangan yang jika ke kanan menuju ke Petilasan Prabu Brawijaya. Sementara yang satunya menuju Puncak Hargo Dumilah. Dalam perjalanannya kita akan menemui padang edelweiss jika beruntung, karena hanya musim-musim tertentu saja edelweiss berbunga.
Menuju puncak
Puncak tertinggi Gunung Lawu, atau lebih di kenal sebagai Puncak Hargo Dumilah (3265 m dpl). Di sana kami bertemu dengan teman-teman dari Jogja yang mendaki dari jalur cemoro kandang.
Mengibarkan bendera UNAIR di puncak tertinggi Hargo Dumilah (3265 m dpl).
Kawan, aku hanya memiliki satu bendera yang selalu aku bawa dalam setiap pendakianku. Bendera tersebut adalah bendera yang ada di foto. Bendera UNAIR. UNAIR sudah seperti rumah kedua bagiku . Aku sangat senang bisa mengibarkan bendera UNAIR di puncak gunung-gunung. Bagiku, bendera ini sama pentingnya dengan bendera merah putih yang juga selalu kami kibarkan di puncak gunung-gunung. Apa artinya bagiku?? Ternyata aku juga sama. Bahwa aku adalah orang desa yang beruntung mendapat pendidikan di UNAIR adalah benar. Bahwa aku adalah anak yatim yang beruntung menjadi dokter pun itu mungkin benar. Dan bahwa aku mendapat pelajaran terbaik dari guru-guru kami di UNAIR pun, itu sangat benar. Kawan, betapa banyak dosen-dosen yang menginspirasiku. Mungkin mereka tidak tahu dan tidak terlalu penting mereka tahu. Yang aku tahu aku bangga menjadi dokter alumni UNAIR, dan aku bangga dapat mengibarkan bendera UNAIR di puncak gunung-gunung walau bukan gunung tertinggi. Mungkin aku ingin seperti mereka dalam konteks sebagai guru, yaitu menginspirasi. Itu juga benar.
Kami mendaki karena kami memang ingin mendaki kawan. Di gunung kami mendapat teman-teman baru, di sini pula kami dapat belajar menahan diri dan tidak egois. Aku sendiri sangat menikmati kegiatan mendaki gunung. Alasan lain adalah dengan mendaki gunung aku measa lebih dekat dengan alam Indonesia, dan dapat lebih belajar bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya.
Seperti kata Hok Gie "Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objek-objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat, karena itulah kami naik gunung".
Di percabangan menuju Hargo Dalem (Petilasan Prabu Brawijaya)
Hargo Dalem
Dari kejauhan, Hargo Dalem.
Bahwa orang yang mendaki gunung suka menulis puisi itu mungkin benar. Aku merasa banyak inspirasi di sini. Dan lirik-lirik seperti dengan mudah mengiringi perjalanan kami. Dan mengingat apa-apa yang telah menjadi pelajaran hidup, bisa menjadi lebih mudah di gunung. Termasuk mengingat guru-guru tercinta dari semasa kami kecil. Mengingat guru-guru di ujung belantara hutan-hutan Papua. Mengingat guru-guru luar biasa yang menangisi murid-murid mereka yang telah "sukses". Meresapi raut wajahnya yang semakin tua. Semuanya.
Carrier yang selalu menemani setiap pendakian kami.
Nah, Inilah tas-tas kusut kami yang menemani mengantar mimpi-mimpi kami mencapai puncak gunung-gunung. Hehehe, terkadang kami juga malu pada diri sendiri. Tak jarang pula kami mengeluh tentang beratnya barang bawaan kami. Tapi kalau kami kalah oleh gertakan angin yang berbisik seperti itu, maka kami akan mati di gunung. Allah adalah pemegang sah hak kehidupan kami, baik itu di gunung atau di tempat selain gunung. Maka sebab itulah kami tidak meninggalkan Sholat selama di Gunung. InsyaAllah.
Kawan, ini juga yang kumaksud dengan belajar menahan diri. Kau akan belajar mengerti bagaimana wajah -wajah orang yang lusut karena membawa carrrier-nya, wajah kusut karena lelah atau capek, dan disitulah peluangmu untuk membantunya, mungkin dengan menggantikannya sejenak, atau menahan ego-mu untuk berjalan terus. Mendaki dan terus mendaki itu butuh kesabaran, dan tidak semua orang dapat melakukannya. Orang cenderung tergesa-gesa, dan ingin cepat mencapai puncak. Analogi ini aku rasa juga terjadi di kehidupan dunia. Bahwa dalam hal apapun, manusia cenderung ingin cepat sampai pada cita-citanya. Padahal yang kami tahu, banyak "spot" yang bagus untuk dinikmati. Banyak pula hikmah disetiap langkah yang bisa kita ambil. Bahwa ternyata bersabar itu sulit, dan tak jarang orang menyerah karena itu.
Teman-teman selama pendakian, Arek-arek ITS. Terima kasih kawan.
Mendapat kawan baru yang sebelumnya tidak saling kenal. Hanya satu tujuan kami. Kami hanya suka mendaki gunung. Percayalah, jika kamu ingin mengenal lebih dekat teman-temanmu, maka bawalah dia ke Gunung, maka kamu akan melihat bagaimana sifat asli dari teman-mu. Di gunung, orang akan menjadi dirinya sendiri. Kalau dia baik maka dia akan menjadi baik, dan kalau dia egois maka gunung adalah tempat terbaik untuk menjadi egois. Pengalamanku, kami menjadi lebih akrab selama pendakian. Dengan kawan baru kami membicarakan banyak hal. Mulai dari politik sampai pendidikan, mulai cita-cita sampai harapan, mulai mimpi-mimpi sampai kenyataan pahit dalam hidup. Semua kita bicarakan. Kami menjadi lebih mudah menyapa, menjadi lebih mudah berbagi. Menjadi sangat toleransi. Suatu hal langka yang sulit dilakukan di tempat lain.
Dari Ketinggian, aku mencoba melihat ke bawah,...
Manusia ternyata kecil di hadapan alam,...
dan alam itu kecil sekali di hadapan Tuhan,....
Tema kita adalah guru,...
dan pendakianku kali ini juga demi guru-guru,...
sebagai penutup ijinkan aku menulis sesuatu untuk mereka,.....
Seseorang telah mendadak pergi pagi itu,...
lalu kami juga berhamburan menabrakkan wajah-wajah kuyu,...
sambil meringis menatap matahari ilmu di kelas-kelas...
suasana tidak pernah berubah,
kelas-kelas selalu penuh dengan puisi-puisi angka,
majas-majas tak beraturan,
dan lembaran prosa tak berujung,
aku mengerti mengapa kami menangis,...
aku paham kenapa kami berada jauh di sini,...
tapi aku tak tahu kenapa guruku meninggalkan kami,...
atau kami menangis karena engkau pergi?
terkadang aku jenuh berada di hutan,...
tak jarang aku marah karena "suasana" ini telah mengusirnya
aku sedih guruku telah pergi,
meninggalkan kami anak-anak desa,...
yang aku tahu,
aku hanya ingin melihatnya tersenyum,...
datang setiap pagi dan bisa mencium punggung tangannya setiap pagi,...
mendengarkan nada bicaranya yang lembut
menundukkan wajah kami karena beliau marah,..
lalu menyambut rapor kami yang penuh dengan "angka merah" dengan rasa malu.
Seseorang telah membuat kami bercita-cita,..
walau hutan belantara dan sungai-sungai menjauhkanmu,..
kau telah tulus melangkah menghampiri kami di pelosok negeri,...
meski kini engkau pergi,...
tetapi engkau telah memahat mimpi di hati kami,..
NB : Untuk Guru-guru di penjuru Nusantara, dan "guru" bagi anak-anakku kelak.
Langganan:
Postingan (Atom)




