Rabu, 05 September 2012

Bromo : sebuah kenangan tentang teman, sahabat dan eksotisme,..


Kawah Gunung Bromo

,....tiba-tiba aku terhanyut dalam lamunan masa lalu. Masa lalu yang membuatku selalu ingin untuk tersenyum,  bersedih, namun sesekali membuatku terharu dan merasa konyol. Aku yang sedari tadi memandang cita-cita dari balik jeruji rindu yang biru kala itu, mencoba menelisik angan masa lampau di pasir bebatuan Gunung Bromo. 

.....mengingat debu-debunya sore itu sambil merencanakan situasi yang jahat namun lucu,...sambil membawa edelweiss yang warna-warni juga ungu. lalu meratapi kawah berasap, asap rindu. Tiba-tiba saja aku terkenang kala itu kawan,...

,....bersama sahabat-sahabat terbaik, yang entah kenapa aku merasa akan sangat merindukannya kelak. 

Suatu saat dimana waktu akan mempertemukan kita kembali, maka aku ingin mengetahui dimana dan kenapa kau selama ini. Dirimu seakan menghilang bersama debu, dan tak menghiraukan daun-daun kering yang berbisik menertawaimu. Apakah kau telah benar-benar hilang ditelan waktu ??...ataukah dirimu sengaja mengubur jiwamu dalam kenangan masa lalu kami ???

Aku telah berusaha mengembalikan ingatanku tentang masa lalu. Lalu kemudian aku berpikir tentang masa-masa sulit saat itu. Aku kemudian mencoba membelahnya menjadi puing-puing rasa kesal. Sehingga suatu saat aku berpikir bahwa lembaran-lembaran sajak tak akan cukup mewakili perasaan ini. Memang jalan kehidupan ini tak seindah cerita dalam roman ataupaun novel-novel cinta. Terkadang alur pikir kita terlalu tersesat dalam labirin kebingungan. Membuatnya menjadi aneh dan sulit untuk dipahami. 

Inilah pertanyaanku saat membuka kembali kenangan-kenangan masa laluku,....mengenang salah satu teman seperjuangan kami, yang entah dimana saat ini kau berada,...

..............................
................................

Sandy Kurnia p a.k.a Acong
















Sesaat sebelum senja menghampiri masa lalu 
sebetulnya bebatuan telah merasa malu pada jiwa muda ini..
aku selalu membantah pada angin yang bertiup
melawan semua arahnya membuatku merasa sejuk
tetapi memaksaku untuk menghirup aroma debu-debu kesombongan
lalu aku sendiri merasa bingung 
sembari memandang jauh lautan pasir yang luas
aku sejenak menengadah mengharap semua ini hanya sesaat
melewati jurang-jurang keterbatasan manusia
mensyukuri alam ini, 
sambil menyuguhkan pemandangan rindu  yang rendah hati
dan menertawai burung-burung yang terbang rendah


Aku sempat terdiam ketika aku kembali ke dalam lamunan, sambil membayangkan kembali saat-saat aku bersama kedua temanku menginjak kawasan Bromo saat itu. Aku ingat kami akhirnya memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan saat itu dengan mengunjungi salah satu objek wisata yang sudah cukup terkenal di Jawa Timur, yaitu Gunung Bromo.

Jiwa kami seperti tertantang oleh arus petualangan yang tiba-tiba mengalir liar dalam pikiran kami. Aku pun mendadak antusias dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan alam. Sepertinya aku menemukan yang selama ini aku cari. Aku memang sedang mencari sesuatu yang dapat membangkitkan lagi semangat hidupku jika aku sedang jenuh, dan aku menemukan sejuknya hawa gunung saat itu. Hingga selanjutnya aku menjadi sangat mencintai gunung-gunung.

Bromo adalah petualangan kesekianku setelah kami melewati liburan dengan mendaki Argopuro dan menikmati indahnya Pulau Sempu sebelumnya. Bromo juga tak kalah eksotis dan sejujurnya aku memang sangat ingin ke sana saat itu. Aku ingin mulai mengenal budaya negeri ini, dan waktu memang menjodohkanku dengan masyarakat Tengger saat itu. Sayang kami tidak mendapati "Upacara Kasodo" waktu kami ke sana.

Bersama dua orang sahabat, kami sepakat menuju Bromo dari Probolinggo. Sebelumnya kami menginap di Kecamatan Leces, rumah salah satu teman kami yang juga ikut dalam rombongan kecil kali ini. Namanya Angga dan dia memang asli Probolinggo. Dia bertugas sebagai Tour Guide kami waktu itu. Satu lagi teman kami yang ikut adalah Acong alias Sandy, teman satu kelompok-ku yang sehari-sehari selalu bersamaku.  Kami hampir selalu bersama mulai dari mengerjakan hal baik hingga  hal-hal buruk sebagai Mahasiswa.



Angga, Aku sendiri dan Acong
dengan latar belakang Gunung Bathok,
Komplek Taman Nasional Bromo Tengger Semeru


Khusus untuk sahabatku Acong,..........

Setelah sekian lama kita bersama hingga stase terakhir kita sebagai Ko-Ass di RSU Dr. Soetomo, di bagian THT-KL, kau seperti menghilang di telan bumi. Dirimu seakan menenggelamkan diri dalam lembaran manis cerita teman-teman seperjuangan. Susah dan senang telah kita lewati bersama selama 6 tahun. Kenakalan dan kelucuan selama menjadi mahasiswa kedokteran dan Ko-Ass telah kita rasakan bersama. Lalu kini kau seperti mengubur dalam-dalam impianmu,...Kau seperti enggan bertemu teman-teman seperjuanganmu, kau bahkan tidak nampak lagi setelah itu,...

Aku tidak tahu apa masalahmu,...tapi kami semua di sini merindukanmu,...menginginkan kembali bertemu denganmu,....

Inilah perasaan singkat yang terlintas ketika aku membuka kembali album kenanganku saat masih mahasiswa sore itu. Aku ingat bahwa aku memiliki satu orang teman yang saat ini entah dimana. Aku sendiri tak tahu apakah dia masih berniat untuk menjadi dokter atau tidak. Aku juga tak tahu apakah dia sudah menikah dengan wanita pujaannya yang dulu atau belum..--hehehe--

Pada akhirnya album kenangan kami selama di Bromo dulu telah mengingatkanku akan sesuatu, bahwa kami pernah memiliki teman bernama Sandy Kurnia Permana alias Acong. 

,....dimanapun kamu berada, kamu akan tetap menjadi teman kami,...sampai kapanpun itu....

Aku tidak akan melupakan semuanya,..
Saat-saat dimana kita mendaki Argopuro bersama,...
Kejadian-kejadian lucu saat kita tersesat bersama di Pulau Sempu,...
dan saat dinginnya pasir bromo merayap di jari jemari kusut kita pagi itu...

Dokumentasi yang lain :

Acong

Angga

Padang pasir Bromo

Pasir Gunung Bromo

Penduduk


Gunung Bathok dari sisi yang lain

Rumah Penduduk

Sunset

Rumput Liar


Suku Tengger


Jasa Penunggang Kuda


Aku berduka atas munculnya kabut pada pagi yang indah itu
Udara dingin telah menegur kami sejak dini hari
pasirnya telah mengajarkan kami akan kesabaran
lampu-lampu kecil berjejeran bagai ular
rombongan manusia mulai meninggalkan lelapnya
menuju punggungan mimpi dan cita-cita
demi melihat si ufuk muncul dari balik puncak penanjakan
menerangi bumi dan seisinya,...



--Bie--



Rabu, 11 Juli 2012

"Mahameru" (3.676 m dpl)

Mahameru (3.676 m dpl)
















Hatiku mulai risau ditampar kerinduan yang dalam
jiwa ini pun mulai kehilangan keberanian seperti kala itu,...
aku berusaha menatap kembali semangatku yang menggebu,..
meraih cintaku pada asa di gunung-gunung mimpi
menghirup udara sejuk tanpa debu,..
aku merindukan derasnya aliran darahku ketika menggapai kabut dini hari
lalu menjejakkan kaki-kaki ini ke dalam jurang cinta yang dalam,..
menerobos hawa dingin
membasuh wajah ini dalam suka duka pendakian,..
kebersamaan dengan angin yang bertiup kencang,.
dan rumput basah malam hari,...

(Bie, 26 April 2012)


Kami ingin menikmati akhir tahun ini bersama kabut tipis
yang turun menelusuri lembah kasih "Ranu Kumbolo",...
Menapaki "Tanjakan Cinta",...
dan merebahkan sejenak rasa lelah ini di hamparan luas "Oro-Oro Ombo",..
merenungi bekas aliran lahar di "Kalimati"
menyampaikan salam keagungan pada jurang-jurang di sekitar "Arcopodo"
hingga akhirnya kami berharap dapat menyapa surya di balik "Mahameru"
yang selalu bergemuruh,...

(Bie, 22 Desember 2011)


Ketika senja mulai menyongsong asa di sore itu, perasaanku berkecimuk begitu lelah oleh derasnya pikiran-pikiran yang buruk. Hari itu begitu melusutkan lipatan bajuku. Membuat bajuku tampak kusut dan kotor. Membuat keringat ini berceceran dan tercetak indah dalam lukisan motif batik jogja yang aku kenakan sore itu.

Rutinitas di kota membuatku gerah dan ingin segera menyapa hawa dingin hutan-hutan. Aku membaca kembali janji-janjiku pada lembaran balik isi pikiranku masa lalu. Aku ingat aku telah berjanji pada diriku sendiri saat itu. Sepertinya saat ini adalah saat yang tepat untuk mengunjungi lagi Semeru dan Jonggring Saloka. 

Aku pikir tidak ada salahnya sekali-kali menjadi orang tertinggi di Jawa. Sehingga aku memutuskan untuk kembali melakukan pendakian ke Gunung Semeru (3.676 m dpl) pada tanggal 4-8 Juli 2012 kemarin. Untuk memenuhi janjiku pada Mahameru, dan Jonggring Saloka, bersama tiga rekan gunungku, Anang NP, Ahmad Kholis Abror dan Anggita S Priantary.



Cerita ini berupa tulisan-tulisan tak bersajak,
terpikir saat kaki-kaki ini menapaki jalan setapak di Semeru
lirik-lirik tak beraturan
dengan rima yang tak berbatas
dan makna yang hambar




Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Semeru (3.676 m dpl) pada tanggal 4-8 Juli 2012 :


Gunung Semeru yang dinamakan dari kata Sumeru, pusat jagat raya pada kosmologi Hindu merupakan gunung berapi tertinggi (yang masih aktif) di Pulau Jawa dan gunung berapi ketiga tertinggi di Indonesia setelah Gunung Kerinci (3.805 m dpl) di Jambi dan Gunung Rinjani (3.726 m dpl) di Lombok.

Bagi pecinta alam atau para penggiat alam bebas, Gunung Semeru merupakan salah satu gunung yang "wajib" dikunjungi. Selain merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dalam perjalanan menuju puncak Mahameru, para pendaki tidak akan henti-hentinya disuguhi panorama alam yang sangat indah mulai dari areal persawahan, perbukitan, padang savana, ladang edelweiss, hutan cemara hingga areal berbatu dan berpasir dalam perjalanannya menuju puncak Mahameru.


Dokumentasi pribadi :


Saat menunggu rombongan lain di Pasar Tumpang

Jeep yang akan membawa kami ke Ranu Pane

Dari Pasar Tumpang kita akan melanjutkan perjalanan ke Desa Ranu Pane. Desa terakhir sebelum pendakian ke Mahameru. Sebelumnya kita harus mengurus perijinan terlebih dahulu di sebuah kantor perijinan dengan menyertakan surat kesehatan dan fotokopi KTP.

Pos Perijinan
Panorama selama perjalanan menuju Ranu Pane :

Gunung Bathok dari arah belakang

Gunung Bathok dari Gubug Klakah
Lembah sekitar Bromo
Indahnya Taman nasional Bromo Tengger Semeru

Ranu Pane merupakan desa terakhir di kaki Gunung Semeru yang terletak di Ketinggian 2.100 m dpl, tempat persinggahan para pendaki yang akan mendaki Gunung Semeru. Sebelum pendakian kita akan melapor dulu ke Pos Pendakian ranupane dengan menyerahkan berkas yang kita dapat dari kantor perijinan tadi. 

Sebelum berangkat biasanya kami menyempatkan diri untuk sholat serta tidak lupa menyantap makanan favorit kami, yaitu "kare ayam Ranu Pane". Setelah menyantap makanan, kami bersiap berangkat untuk menuju camp  pertama kami, Ranu Kumbolo.


Ranu Pane
(Ranu artinya danau)

Rombongan  kami, sebelum berangkat dan setelah makan kare.
dari ki-ka : Anggi, Kholis, aku sendiri, Anang

Areal Persawahan di Ranu Pane

Ranu Kumbolo memiliki luas 14 ha dan berada pada ketinggian 2.390 m dpl. Ranu Kumbolo terbentuk dari massive kawah Gunung Jambangan yang telah memadat, sehingga air yang tertampung tidak mengalir ke bawah seturut gravitasi. (Wikipedia). 

Ranu Kumbolo merupakan danau terbesar di antara danau-danau lain yang ada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, yaitu Ranu Pane (1 ha), Ranu Regulo (0,75 ha) dan Ranu Darungan (0,5 ha). 

Pada musim kemarau seperti ini, suhu di Ranu Kumbolo bisa mencapai 2-4 derajat celcius. Udara yang dingin di sini tidak hanya disebabkan oleh udara diam, tetapi juga karena kencangnya angin yang berhembus ke lembah sehingga menjadikan udara lebih dingin. 

Apapun itu, Ranu Kumbolo merupakan salah satu spot terindah dalam sejarah pendakianku.

Dokumentasi : 

Ranu Kumbolo



Saya kutip puisi ini...

Pernah aku dan kau...
sama-sama daki gunung-gunung tinggi
hampir kaki-kaki kita patah
dan nafas kita putus-putus
tudjuan esa, tudjuan satu :
pengabdian dan pengabdian kepada
...Jang Maha Kuasa....

Petikan Puisi dari Idhan Lubis yang berjudul "Djika Berpisah", ditulis di Polonia, 8 Desember 1969. Puisi ini ditemukan di laci kamarnya bebarapa hari setelah kematiannya di Mahameru.


Sunrise di Ranu Kumbolo

Dokumentasi Yang lain :

Kristal es di tenda kami

Berfoto sebelum melanjutkan perjalanan menuju kalimati

Dari Ranu Kumbolo, kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Sebelumnya kita harus melewati sebuah tanjakan yang dikenal dengan nama "Tanjakan Cinta". Di sini dipercayai sebuah mitos, seperti yang sudah diceritakan pada postingan sebelumnya.

Rombongan pendaki di tanjakan cinta


Ranu Kumbolo dari ujung Tanjakan Cinta


Sejenak angin mulai menyapaku yang larut dalam lamunan angan
aku yang lelah berjalan sedari tadi
telah menemukan keindahan sejati dibalik misteri gunung-gunung abadi
perasaan ini bagai larut dalam sepinya danau cinta para dewa,..
memandang jauh di balik belahan lembah kasih "Ranu Kumbolo"
sambil memandang wajahnya
dalam hati aku berkata "kata-kata" cinta,..
aku mencintainya,..

(Bie, 29 Desember 2011)

Setelah melewati tanjakan cinta, menapaki bukit, maka kita akan disuguhi pemandangan yang luar biasa berupa padang rumput yang terbentang luas. Padang rumput yang luas ini disebut "Oro-Oro Ombo". Oro-Oro Ombo merupakan padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon-pohon pinus yang dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan sangat indah.


Menelusuri punggungan di perbukitan komplek Oro-Oro Ombo


Oro-Oro Ombo saat musim kemarau

Lavender

Now i see the secret of the making of the best persons,
It is to grow in the open air and to eat and sleep with 
the earth.

(Song of The Open Road, Walt Whitman)

Kutipan puisi ini menjadi prolog tulisan Soe Hok Gie mengenai salah satu kegiatan yang paling digemarinya : naik gunung, kegiatan yang selalu mengembalikan semangat hidupnya, dan pada akhirnya mengembalikannya pada pencipta-Nya.

Dua larik diatas, menyatakan bahwa untuk menjadi orang terbaik seseorang harus dekat dengan alam.

Setelah Cemoro Kandang, perjalanan berlanjut ke padang rumput Jambangan. Di sini terdapat jenis-jenis flora seperti cemara dan bunga edelweiss. Dari tempat ini, dapat dilihat dengan jelas Puncak Mahameru yang menjulang tinggi dengan kepulan asap yang menjulang ke angkasa serta alur lahar pada seluruh tebing puncak.


Anang : dengan backgraound Mahameru dari Pos Jambangan

Setelah melewati Jambangan, maka kita akan menemukan sebuah daerah yang cukup luas dan ditumbuhi pohon-pohon edelweiss. Daerah ini biasa disebut pos Kalimati. Kalimati merupakan tempat untuk mempersiapkan diri sebelum mendaki kerucut Gunung Semeru. 

Selain ditumbuhi rerumputan dan edelweiss, Kalimati juga dikelilingi kelompok hutan alam dan bukti-bukit rendah. Di dekat kawasan ini terdapat sumber air yang berjarak kurang lebih 1 km ke arah barat menyusuri kali yang sudah kering, biasa kita sebut "Sumber Manik". Konon katanya sumber air disini digunakan oleh umat Hindu untuk mengambil tirta (air suci) pada pendakian gunung Semeru.

Pos Kalimati

Bersama rombongan lain dari Surabaya

Hembusan angin ini yang membuatku tersenyum sedari tadi
membuatku selalu menengadah sayangku
menatap indahnya sekumpulan awan di atas
Dedaunan mulai berbisik malu-malu
Edelweis seakan mengajakku bercengkarama
pasir dan debunya yang membuat suasana menjadi harum
Mahameru memang selalu ku rindu,..

(Bie, 13 Juli 2012)

Untuk menuju puncak, perjalanan berikutnya dari Kalimati di lanjutkan dengan menanjak. Pos berikutnya adalah Arcopodo. Biasanya para pendaki akan memulai mendaki Mahameru pada dini hari, kami sendiri berangkat sejak pukul 23.30 malam. 

Arcopodo berada di lereng puncak Gunung Semeru dengan jalanan yang terus menaik dan berliku. Kondisi tanahnya berdebu dan banyak ditumbuhi pohon-pohon cemara. Di sinilah batas vegetasi terakhir sebelum merangkak di punggungan Mahameru.


Matahari mulai muncul

Sunrise : 100 m sebelum puncak Mahameru


Negeri di atas awan

Taruh puncak itu di depan kita, dan jangan lepaskan!
Yang kita perlukan adalah kaki yang berjalan lebih jauh,
dan tangan yang berbuat lebih banyak
Leher yang akan lebih sering melihat ke atas
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja
Hati yang akan bekerja lebih keras
Serta mulut yang akan selalu berdoa.
.....................................................

(Dikutip dari Novel "5 cm")

Akhirnya janji itu terpenuhi,............

In Meoriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis

Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan dan kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah dan berkata, ke sanalah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara sapu tangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis

--24 Desember 1969--
Sanento Yuliman


Kawah Jonggring Saloka

Puncak Mahameru, bersama sahabat-sahabat gunungku
Anang, Aku sendiri, Kholis
Anggi gagal mencapai puncak, tetapi puncak ini kami dedikasikan untuk teman kami tersebut, Anggita S Priantary


Mahameru, 7/7/2012

Camerado, i give you my hand!
i give you my love more precious than money,
i give you myself before preaching or law ;
will give me your self, will you travel with me?
Shall we stick by each other as long as we live?

(Walt Whitmann, dikutip dari buku "Soe Hok Gie-Sekali Lagi")

Demikianlah cerita singkat perjalanan kami pada pendakian Gunung Semeru tanggal 4-8 Juli 2012 kemarin.

Apa yang membuat kami merasa perlu untuk menapakkan kaki kami di puncak gunung-gunung?. 
Apa yang membuat kami merasa perlu untuk mengenal masyarakat bangsa ini jauh lebih dekat?
Apa yang membuat kami berusaha menyisihkan waktu untuk paling tidak merasakan hawa dingin gunung-gunung?
Apa yang dapat membuat kami mencintai tanah air kami lebih dalam?
Apa yang membuat kami mau mendekati dan menelusuri hutan-hutan?
dan sejuta pertanyaan lain yang mungkin pernah ada selama ini,..

Semua ini tentang "soul" yang sangat sulit dijelaskan,...
kesinilah kawan, 
mari mendaki gunung,..
lalu rasakan sendiri bagaimana gunung akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi,...


Salam sebelum turun ke Ranu Kumbolo setelah perjalanan ke puncak yang melelahkan.
Nampak Mahameru tetap gagah di belakang kami.

Dan di atas sana
di tengah-tengan angin yang menderu-deru
di antara jurang yang berujung kelam,
omong kosong kalau kau tidak berbicara tentang Tuhan
kau akan menyadari seberapa kecil dan lemahnya dirimu
di tengah hamparan alam semesta.
.................



--Bie--

Selasa, 05 Juni 2012

,....Malam Cinta,...


Note :

Aku menenggelamkan diri dalam lamunan sejenak malam ini. Memandang langit hitam yang penuh dengan titik cahaya keindahan para bintang. Sementara bulan enggan menunjukkan sebagian wajahnya malam ini, tetapi cahayanya tetap dapat membuat hati yang gundah menjadi damai. 

Memandang ke atas, ke arah langit lepas bagaikan memandang cinta. Semuanya tampak indah. 

Aku duduk termenung di kursi lamunan rindu. Lalu membuka ruang-ruang pikiranku dalam relung hati yang mulai gundah akan masa depan. Begitu ruang ini terbuka, aku mulai takjub. Aku melihat pelangi menghiasi mimpi-mimpi kami beberapa waktu yang lampau. Warna-warna itu terlukis abstrak dalam kanvas kehidupan yang nyata. 

Aku juga mendengar ada gemericik air jatuh dari jurang harapan. Suaranya merdu, bagaikan dawai gitar yang dipetik pelan oleh jari manis cinta. Menyanyikan lagu kehidupan yang terjal seperti air kali yang menabrak batu-batu licin di tepi-tepi pantai.

"Pernahkah kau jatuh cinta kawan?". 

Aku ingin bercerita pada kawan-kawan kecil yang setia menungguiku. Mereka adalah kawan-kawan dalam imajinasiku.

Aku menegur tanganku yang menepis lambaian tangannya. Aku kecewa pada diriku senidiri karena telah membuatnya menangis. Perempuan ini tidak layak bersedih karena laki-laki. Hatiku terbawa aliran emosi yang semestinya tidak meng-ombang-ambing-kan dirinya. Saat melihat air matanya jatuh membasahi pipinya yang lugu, aku tahu telah melukai hatinya yang rapuh. Aku ini laki-laki yang tidak romantis, begitu katanya.

Aku terdiam sejenak, kemudian kembali menatap wajahnya yang basah akan air mata. Dia sama sekali tidak memandangku, mungkin dia sangat membenciku waktu itu. Aku adalah lelaki payah yang selalu membuatnya menangis.

Saat aku mendapatinya tergulai lemas tak berdaya. Aku sadar sesuatu telah terjadi hingga sejauh ini. Aku memapahnya dalam kegelisahan dan kekhawatiran. Aku hanya ingin ini segera berakhir. Melihatnya menangis saja membuatku bimbang, apalagi harus melihat dirinya tergulai tak berdaya karena aku. Aku harus akhiri perasaan bersalah ini dan segera melakukan sesuatu. Aku ingin merawatnya sebaik mungkin. Aku ingin menemaninya sampai dia terbangun. Saat itulah aku sadar, aku tidak ingin melihatnya menangis lagi. Aku mencintainya.

Itulah kawan, aku mencoba menuangkan semuanya dalam cerita. Aku menulisnya sambil memandang bintang dan bulan yang menampakkan sebagian wajahnya. Aku menulisnya karena rindu. Aku menulis kata-kata cinta untuknya, supaya dia tidak menangis lagi.

.................................
When I see you smile
I can face the world,
you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light,
I see it shining right through the rain 

...........................................................

Beginilah nasib penulis tanggung yang kehabisan kata-kata. Dia hanya menggerakkan pikirannya mengikuti hawa nafsu menulisnya. Membuang jauh-jauh batasan aturan tentang prosa liar tak beraturan. Sembari menggunakan majas-majas  lebay  dan intonasi yang kurang lucu. Kadang tak bermakna, tak tersirat ataupun  mendalam. Hanya untaian kata-kata.




---bie--

Kamis, 26 April 2012

Sajak Kerinduan


,................................
Hatiku mulai risau ditampar kerinduan yang dalam
jiwa ini pun mulai kehilangan keberanian seperti kala itu,...
aku berusaha menatap kembali semangatku yang menggebu,..
meraih cintaku pada asa di gunung-gunung mimpi
menghirup udara sejuk tanpa debu,..
aku merindukan derasnya aliran darahku ketika menggapai kabut dini hari
lalu menjejakkan kaki-kaki ini ke dalam jurang cinta yang dalam,..
menerobos hawa dingin
membasuh wajah ini dalam suka duka pendakian,..
kebersamaan dengan angin yang bertiup kencang,.
dan rumput basah malam hari,...


---bie---

Selasa, 03 April 2012

Palang Merah Indonesia

Ketika segala sesuatu berubah mejadi gelap seperti kabut yang turun perlahan demi perlahan di lembah kasih yang berduka, tidak ada lagi tawa dan canda yang bergermuruh, apalagi senyum anak-anak Desa yang meringis karena melihat pelangi. Lalu apa yang manusia harapkan dibalik jubah kesombongannya yang angkuh serta tangannya yang mengkilat karena jarang tersentuh debu. Ketika matahari masih menyapa seluruh alam, sementara awan mendung menghinggapi daerah-daerah bencana, apakah manusia sadar bahwa Kekuasaan tertinggi itu masih ada pada-Nya.

Lirik-lirk lagu seakan dapat menggantikan suasana haru, padahal yang terjadi adalah bumi ini murka karena alamnya dirusak oleh manusia-manusia tak beraturan dengan mengatasnamakan kebebasan. Puisi tak ubahnya hanya sebuah karangan simpati, namun tetap tak dapat mewakili kaki-kaki kusut para pejuang kehidupan di desa-desa terpencil. 

Angin terasa sangat dingin pada sore hari. Beruntunglah para manusia yang berselimut kejujuran dan kerendahan hati. Masihkah kita dapat  melihat senyum saudara sebumi??, Sementara rumah-rumah mereka hancur diterpa badai kebohongan. Tanaman padi-pun seakan enggan menguning, dan ikan-ikan di laut seraya lari meninggalkan nelayan. Para ikan berlindung dibalik ombak yang bergulung-gulung ditemani hujan. Sungguh sangat Menyedihkan.

Aku sedih melihat bangsa ini. Aku sedih melihat saudara-saudaraku di desa. Aku bayangkan satu hal yang pahit di kala mendung. Aku berangan akulah yang berada di posisi mereka, menahan hawa dingin dan rasa lapar sambil menanti pencari nafkah yang tidak kunjung datang.

Aku sedih melihat bencana demi bencana juga terus melanda. Apakah ini hukuman bagi manusia-manusia tidak bersyukur seperti kami?. Aku sadar bahwa inilah cobaan bagi bangsa yang besar ini. Dan aku yakin inilah yang diinginkan Tuhan, supaya para penguasa itu menelan ludah, merasa bergetar dan takut karena merekalah yang menyia-nyiakan bangsanya sendiri.

Sejenak aku berpikir tentang apa saja yang ada disekitarku. Aku berkutat dengan orang-orang yang menderita karena harus berbaring di ranjang pesakitan. Mereka harus bersabar dengan cobaan penyakit yang diderita. Setiap hari aku melihat bangsal-bangsal penuh dengan wajah-wajah murung nan rindu. mereka sangat merindukan suasana desa yang sejuk dan bau pasir tanah yang baru saja tersiram gerimis.

Aku hanya ingin merawat mereka dengan sepenuh hati, juga membuat mereka tersenyum.

Aku sendiri telah menjalani hari-hari yang keras selama ini. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga kuliah, aku harus berjuang dan selalu berjuang demi cita-cita. Seorang laki-laki tertua dari keluarga tanpa ayah sejak kecil yang tinggal dengan ummi terhebat dan satu adik laki-laki yang nakal. Maka, secara sederhana sebenarnya aku adalah harapan keluarga. Kehidupan yang keras ini pula-lah yang mengantarkanku bercita-cita menjadi dokter. Keterbatasan inilah yang membentuk idealisme pribadiku, bahwa kepentingan kemanusiaan merupakan prioritas dalam menjalani profesi ini.


Aku menegaskan pada diriku sendiri, bahwa kegiatan kemanusiaan yang saya jalani di luar Rumah Sakit tempat saya bekerja sama sekali tidak terpengaruh oleh Suku, Agama dan Ras apapun. Saya berusaha menolong setiap orang yang membutuhkan pertolongan saya tanpa terkecuali. 
 
Sebagai mahasiswa, dulu sebenaranya aku termasuk yang tidak terlalu suka dengan birokrasi. Organisasi-organisasi kampus yang kegiatannya hanya rapat, rapat dan rapat tanpa turun ke lapangan membuatku malas untuk bergabung di dalamnya. Sebenarnya kondisi pulalah yang membuat rasanya hidup ini lebih berguna untuk aku gunakan bekerja sambil kuliah daripada menghabiskan waktu untuk berorganisasi (Mahasiswa miskin). Dan siapa bilang, orang yang tidak berorganisasi tidak dapat bersosialisasi. Bekerja sebagai guru membuatku mengenal banyak orang. Aku mendapatkan penghasilan sekaligus dapat bertahan hidup di Surabaya.


Yaaa...Mahasiswa yang hidup dari beasiswa dan pekerjaannya sebagai guru les privat dan sempat menjadi penjaga warnet, itulah aku.


Tapi mungkin aku sendiri tidak menyadari bahwa kehidupan inilah yang membentuk karakterku sebagai dokter. Terbiasa menghadapi situasi yang sulit membuatku bisa sedikit bersabar dalam menghadapai suatu masalah.

Selain mahasiswa dan bekerja, aku adalah penggiat alam bebas. Aku menemukan bahwa inilah aku. Aku dan gunung-gunung. Aku sangat menyukai gunung-gunung sejak pendakian pertama-ku ke Gunung Argopuro di Probolinggo. Aku seperti menemukan jiwaku. Aku seperti menemukan bahwa inilah yang dapat melatih kesabaranku, inilah yang dapat membuatku bertahan. Filosofinya yang khas dan kepuasan tiada tara ketika kita berhasil menggapai puncak tertingginya. Kebersaman dan toleransi yang tidak ternilai dengan sesama manusia. Serta yang paling penting, kita diajarkan bagaimana bertahan hidup di tempat yang semuanya serba terbatas. Di Gunung orang akan menjadi manusia paling bersyukur karena dapat menikmati secara langsung keindahan dan kebesaran ciptaan-Nya.

Pengalaman inilah yang membuatku mantab dengan keputusanku untuk berpartisipasi dalam organisasi kemanusiaan. Aku ingin menyisihkan hidupku untuk berbagi. Aku ingin ikut dalam kegiatan-kegiatan sosial. paling tidak aku bisa membuat mereka tersenyum. Aku tidak punya uang tetapi paling tidak aku punya semangat kemanusiaan. Aku siap dikirim ke mana saja yang sedang tertimpa konflik atau bencana. Aku telah mendedikasikan diriku untuk kegiatan kemanusiaan.

Tetapi ada satu hal yang lebih penting yang ingin aku tegaskan. Aku tegaskan sekali lagi bahwa kegiatan kemanusiaanku tidak terkotak-kotak dalam satu organisasi dalam bentuk apapun. Aku seorang muslim, tapi kegiatan kemanusiaanku tidak pernah dipengaruhi oleh latar belakang Suku, Agama dan Ras apapun. Aku tidak fanantik pada satu organisasi.

Aku tegaskan bahwa meskipun aku terdaftar di satu atau lebih Organisasi Kemanusiaan, itu tidak lebih hanya sebagai jalan untuk menyalurkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang aku pegang. Dan agar orang tahu bahwa aku tidak hanya berjuang atas nama Organisasi tertentu tetapi murni berasal dari ideologi pribadi, maka aku memutuskan untuk kemudian bergabung dengan Palang Merah Indonesia.

Di sini pulalah aku bertemu dengan ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang mengerti betul apa artinya berbagi. Di sini pulalah aku paham bahwa uang bukan segalanya. Banyak relawan-relawan PMI yang mengorbankan waktu, tenaga, uang dan bahkan keluarganya hanya untuk tugas Kemanusiaan. Di sini pulalah aku sadar betul bahwa setiap orang bisa menjadi relawan kemanusiaan. Kita hanya butuh menyisihkan waktu untuk belajar, dan yang terpenting menyisihkan ego untuk mau berbagi pada yang lain. Kita hanya dituntut mau kawan. Mau berbagi. Mau bekerja dan terjun ke lapangan.



Beberapa kejadian yang sempat terdokumentasi :



Kebakaran di daerah karang anyar

Aku dengan dr. Diaz saat kebakaran.

Suasana tegang.

Team yang solid.

Dokter yang bertugas saat acara khitanan massal PMI di Bulak Banteng

dr. Aam, dr. Dodo, dr. Rani, dr. Arifta, dr. Zul, dr. Andri

Bersama perawat-perawat berdedikasi tinggi.

Demikian testimoni saya untuk PMI, Terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah berbagi ilmu, telah berbagi segalanya, telah menjadi teman dan team yang solid di setiap penugasan.


Saya Andri Subiantoro, dr. Anggota relawan TSR PMI cabang kota Surabaya.






--bie--



,..Dokter Internship,...

Aku sejenak berdiri mengelilingi sebuah batu-batu kecil,...
lalu berbalik memandang awan yang biru
menghadap ke atas
kepada burung-burung pembawa mimpi,..
Kemudian aku berterima kasih pada bintang yang memelukku erat,..
membawaku jauh ke dalam lubuk angan yang dalam,.
ke masa lalu dan mengingatkanku akan air mata,..
membolak-balikkan nada pikiranku tak beraturan
membuatku tersenyum pada cita-cita,..
Aku menyadari aku-lah masa lalu itu,..
dan aku pulalah masa depan ini,..
.................................................

                  Team lengkap Dokter Internship Kab. Ngawi


Akhirnya setelah berjuang selama 5 tahun untuk menyelesaikan pendidikan sebagai dokter umum, kami berhak mendapatkan gelar dokter di belakang nama kami. Aku sendiri akhirnya berhak menggunakan name tag yang bertuliskan "Andri Subiantoro, dr." . Suatu kebanggaan tersendiri, dan tentu saja ada rasa puas setelah perjuangan yang melelahkan.

Aku merasa beruntung karena diluluskan oleh salah satu pusat pendidikan kedokteran terbaik di Indonesia yaitu Universitas Airlangga. Kami dididik sebagai dokter yang tangguh dengan idealisme khas Airlangga, Skill yang mumpuni dan pengalaman mengerjakan kasus-kasus sulit. Di Surabaya pula aku mendapatkan ilmu yang luar biasa dari para senior, dan di sini pulalah aku diberi kesempatan untuk melatih diri dan skill sebagai seorang dokter. Smuanya begitu membuat aku sangat merindukan kampus hijau tercinta ini, dan tentu saja RSU Dr. Soetomo sebagai tempat pendidikan klinik kami. Ssecara khusus aku menyebut Rumah Sakit ini sebagai "University Of Life" karena banyak pengalaman hidup yang berharga di tempat ini. Banyak cerita senang, sedih, haru, air mata dan tawa bahagia bercampur menjadi satu. Aku sangat merindukan semua itu, dan saya ingin kembali ke sana.

Proses demi proses telah kami lalui, mulai dari pendidikan kedokteran, UKDI, Pelantikan dokter hingga akhirnya sampai juga kita pada jenjang Internship. Internship adalah satu program baru dari Depkes dan Dikti yang baru berjalan 2 tahun. Kami sendiri termasuk tahun ke-2 penyelenggaraan program ini. Program ini secara sederhana akan menempatkan dokter-dokter lulusan baru di daerah-daerah kabupaten untuk diperbantukan sekaligus dibimbing untuk kelak bisa menjadi dokter yang mandiri. Ini adalah program yang menyertai kurikulum baru Pendidikan Dokter di Indonesia dan baru beberapa Fakultas Kedokteran saja yang ditunjuk, termasuk FK UNAIR. Mengenai segala kontroversi dan pendapat-pendapat yang beredar, Aku tidak akan bahas di sini, Pusing. Hehehehe.

Setiap daerah mendapat jatah 14-15 Dokter Internship. Lulusan FK jawa Timur ditempatkan di Jawa Timur, kebetulan pada angkatan kami setahuku hanya Unair dan Unej yang sudah melaksanakan Program ini, sementara UNBRAW baru tahun depan 2013. Kami mendapat uang saku dari Dinkes setiap bulan sebesar 1,2 juta yang turun tiap 3 bulan sekali. Mau tidak mau kami harus menerima, meskipun banyak pula ide-ide pikiran yang mencoba membantah ini.

Aku sendiri ditempatkan di Ngawi, hasil dari undian dan lobi-lobi di Dinkes. Bersama 14 teman lainnya, saya mulai menjalani Internship di kabupaten Ngawi ini dengan harapan dapat membawa bekal yang berharga sepulang kami dari Internship. Pembagian dokter terdiri dari 5 orang ditempatkan di Poliklinik RSUD Dr. Soeroto Ngawi, 5 orang di IGD dan sisanya di Puskesmas Ngrambe. Siklus berputar tiap 4 bulan. Aku sendiri mulai menjalani tugas di Poliklinik bersama Miftah, Angga, Dinda dan Dian. Sementara Sony, Hendri, Citra, Dwi dan Khoti bertugas di Puskesmas Ngrambe. Nadhir, Sylva, Dimas, Bimo dan Karina bertugas di IGD dengan pembagian 3 shift jaga tiap harinya.

Yah, suka tidak suka, Internship harus tetap kami jalani dengan ikhlas. Paling tidak kami mendapatkan pengalaman baru dan teman-teman baru. Beberapa hal yang mungkin mengganjal dalam hati, aku simpan dan akan aku diskusikan nanti.

Beberapa kejadian yang berhasil terdokumentasikan :

 
           Andri Subiantoro, dr.

Saat pelantikan Dokter, bangga dapat membahagiakan orang tua dan keluarga, tapi akua berjanji tidak akan berhenti sampai di sini. Selama tubuh ini masih mampu, maka sama seperti filosofi pendakianku, maka aku akan tetap menuntut ilmu sampai terbukti tidak mampu lagi.


Bersama sahabat-sahabat terbaik. Aku, Munsy, Nadhir, Miftah dan Angga.


Foto-foto saat di RSUD Dr. Soeroto Ngawi :

Setelah presentasi kasus yang menegangkan. Bersama dua pembimbing kami dr. Amin dan dr. Dilla.






















Kami di Ngawi mempunyai kewajiban untuk melaporkan presentasi kasus beserta portofolio secara rutin setiap minggu. Minimal dua kasus yang menarik harus kami presentasikan di hadapan dokter-dokter sejawat dan para Ko-ass serta para staff dokter di RSUD Dr. Soeroto Ngawi ini. Menurut saya, pertemuan ilmiah ini cukup penting untuk sebagai media berbagi ilmu dan sekaligus update ilmu terbaru, juga sebagai media pembelajaran bagi Teman-teman Koass dari FK UII. Kebetulan di Ngawi ini kami bekerja dengan Ko-Ass dari FK UII. Selain itu, Aku merasa ini juga bisa sebagai masukan untuk RSUD Dr. Soeroto agar dapat lebih meningkatkan lagi mutu pelayanan terhadap masyarakat baik di Poli maupun UGD.

Yang lain :

Dokter laki-laki Internship Ngawi.



Teman-teman satu kontrakan di Perumahan Prandon.

Foto-foto acara HUT PPNI Kab. Ngawi :

Futsal Team Dokter bersama dr.Puji direktur RSUD dan dr. Bambang, Sp.An.

Team Futsal Prandon.

Inilah sedikit catatan tentang kegiatan Dokter Internship di Ngawi. Nanti kita akan bahas apa saja yang menjadi perhatian dan uneg-uneg kami sebagai dokter Internship.



--Terima kasih--