Selasa, 16 Juli 2013

Visit "Dayak Tribe" in Pampang Cultural Village

Gadis Suku Dayak

Saat ini angin tengah menerpa wajah-wajah kusut yang malas
memandang cermin, nampak pula raut muka yang enggan
berpaling rasa tetap saja menusuk hati bila rindu
hari-hari ini aku semakin sering berdebar
menanti bidadari yang selalu tertulis dalam sajak
aku bertanya pada diri sendiri
mengapa jarak selalu indah bila tetap terbentang
lalu dalam sekejap waktu berhenti mempertemukan dua insan yang malang
menertawakan nasib mereka 
bermain drama dalam kisah roman bernada cinta
berpeluk erat dalam rindu syar'i suami istri
......
aku telah merasakan deburan ombak rinduku mulai mengalir pelan
mulai menatanya kembali setelah sekian waktu
berkata istriku tercinta dan buah hati
jemputlah aku dalam keharuan dan rindu
temani sejenak dalam rantau
nyanyikan sesuatu yang merdu
......
Lalu aku kembali menatap cermin
aku kira wajah yang kusut telah terurai
tapi aku salah karena kali ini ternyata pantulanmu mengisyaratkan malu
aku pun tersenyum
aku memang sedang bersuka wahai cermin
aku sedang bergembira saat ini
cukuplah bila aku akan menghadiahkan sajak pada sang waktu
terimakasih telah memberikan sebagian "dirimu" kala itu
membiarkan aku, istriku dan buah hati
menikmati "mu" walau sejenak
melepas rindu dan apapun itu,.....


(Untuk Istriku Tercinta, yang menyempatkan diri untuk mengunjungiku di perantauan ini)

Puisi di atas adalah persembahan untuk istri tercinta yang menyempatkan diri mengunjungi Kalimantan. Istriku memutuskan menggunakan jatah liburnya untuk berkunjung ke Muara Badak selama seminggu. Sebenarnya aku agak khawatir karena istriku tengah mengandung 5 bulan, tapi dia memaksa jadi apa boleh buat. Singkat cerita kami menghabiskan waktu berdua di Muara Badak dan mengunjungi beberapa tempat. 

Sebelumnya, kami berdua sempat jalan-jalan di kota Balikpapan, menghabiskan waktu seharian di Samarinda, untuk sekedar duduk-duduk menikmati senja di tepian sungai Mahakam. Semuanya cukup menyenangkan. Tapi dari semua itu, ada yang paling menarik dalam tema liburan istriku kali ini. Sebuah perjalanan budaya. Sebuah perjalanan untuk sekedar menikmati keragaman budaya negeri ini.

Kami memutuskan untuk mengunjungi Kampung Dayak di Desa Pampang. Sebuah perjalanan budaya yang terus terang sudah lama kunantikan, dan momen ini terasa spesial karena aku dapat mengunjungi suku dayak asli bersama istri tercinta.

Sedikit tentang Desa Budaya Pampang :

Desa pampang dikenal sebagai kampung dayak. Dihuni oleh mayoritas Suku Dayak Kenyah, dimana suku dayak ini merupakan penduduk asli yang ada di Kalimantan. Desa ini merupakan kawasan cagar budaya yang memperlihatkan kesenian serta kebudayaan, dan menjadi tepat tinggal masyarakat suku Dayak Kenyah. Setiap minggu, masyarakat Dayak Kenyah penghuni Desa Pampang selalu menggelar pertunjukkan budaya.

Ada berbagai macam tarian dan atraksi yang dipentaskan, antara lain Kancet Lasan, Kancet Punan, Kancet Nyelama Sakai, Enggang Terbang, Manyam Tali, dan masih banyak lagi. Pertunjukkan seni budaya ini selalu dilaksanakan di bangunan Lamin Adat (rumah adat suku Dayak) yang terletak tepat di tengah Desa Pampang bangunan Lamin yang megah dan penuh dengan ukir-ukiran khas Dayak menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang berkunjung. Biasanya Lamin ini menjadi tempat favorit pengunjung untuk mengambil foto karena keunikan bangunan serta keindahan arsitekturnya yang menawan. (Nama tarian nyari di blog tetangga hehe)



Aku dan istriku berangkat dari Muara Badak mengendarai motor saja berdua, kurang lebih 45 menit kami menempuh perjalanan dengan kecepatan santai. Sambil menikmati alam dan hutan di sepanjang jalan Trans Kalimantan, yang tentunya ini menjadi pengalaman yang berbeda untuk istriku. Dari jalan besar kami harus masuk lagi ke sebuah desa kecil sejauh kurang lebih 5 km sebelum akhirnya sampai ke Desa Budaya Pampang. Untuk dapat menyaksikan berbagai pertunjukkan yang dilaksanakan masyarakat Desa Pampang kami hanya mengeluarkan uang Rp. 5.000,-. Mungkin untuk biaya parkir.

Bersama Istri


Bagi yang ingin berfoto dengan penduduk lokal yang mengenakan pakaian adat, kita harus membayar biaya tambahan sekitar Rp. 25.000,-. Diluar pertunjukkan yang dilakukan untuk upacara tertentu,  pertunjukkan budaya di Desa Pampang dilaksanakan setiap hari Minggu mulai pukul 13.00 sd 15.00 WITA. Pertunjukkan ini hanya dilaksanakan sekali. Disarankan untuk tidak datang terlambat agar tidak melewatkan pertunjukkan. Aku sendiri juga nyaris melewatkan pertunjukkan tersebut karena datang terlambat, tetapi untungnya pada hari itu, ada rombongan dari Amerika yang ingin melihat pertunjukkan Suku Dayak sehingga beruntunglah kami dapat menyaksikan kembali pertunjukkan dari awal.

Beberapa Dokumentasi Yang Lain :

Gadis Suku Dayak menari

Salah satu ketua adat Suku Dayak

Para Lelaki pun tidak kalah dalam hal tarian

,…………….
Ada sejuk yang sedari kemarin selalu hinggap di ujung penantian sore
Menanti senja sambil melihat burung-burung menari
Aku tiba dan langsung terhanyut dalam lamunan
Menelisik ke masa beberapa minggu yang lalu
Menatap wajah istriku yang sendu
Lalu melambainya penuh haru,..
Aku telah mengukir jejak baru penuh mimpi
Harapan tentang masa depan yang lebih baik,…
Menjadi baik adalah pilihan yang terombang ambing
Sementara tangan ini hanya cukup untuk menggapainya entah kapan…
Aku mencintaimu istriku…
Mari kita lewatkan awan-awan lain di penjuru Nusantara ini bersama-sama
Menyapa setiap penjuru budaya di negeri tercinta,…




Istri Tercinta : gendut,..lagi hamil hehe



Sebelumnya aku telah lelah berjalan, meratapi rasa rindu yang membuatku semakin pedih. Pedih karena ternyata rasa hati seakan jauh terjun ke dalam jurang cinta yang dalam. Lalu aku berbalik menatap cinta dalam cermin. Membayangkan jauh ke dalamnya, kemudian mencoba memasuki alam mimpi para pecinta di cermin cinta. Aku temukan alur-alur kebingungan ketika sejenak angin menyapaku begitu deras lalu bertanya padaku tentang rasa cinta. Aku berdiskusi dengan hatiku  dalam suasana riang. Membawakan tema indah tentang rasa rindu.

Demikianlah kisah singkat perjalananku bersama istri mengunjungi Desa Budaya Pampang. Untuk sekedar mengenal salah satu budaya eksotis negeri ini. Untuk lebih mengenalkan rasa cinta terhadap warisan budaya bangsa pada diri kami sendiri. Untuk selalu tersenyum menatap setiap pengalaman perjalanan kami. Sebuah perjalanan hati.

Terima Kasih.... 



Bersama Wanita asli Suku Dayak


-Bie--

Rabu, 19 Juni 2013

Pulau Beras Basah : Mengusir Sejenak Kejenuhan ,....

Pulau Beras Basah

............................
Aku memandang waktu ketika jam dinding mulai malas berdetak sore itu..
rasa-rasanya rutinitas sudah mulai mencapai titik kejenuhan,..
tiba-tiba angin berbisik
dan pasir mengusap lamunanku 
lalu aku terbangun dari mimpi dan lelah,...
Menggapai asa dan kembali melihat jejak-jejak masa lalu,..
menghirup udara dingin dan angin sejuk pagi hari,.
merindu kabut dan gemericik embun di dedaunan rimba,...
menatapnya lama dan tersenyum kagum
tetapi tetap saja semua itu masa lampau
mengusir kejenuhan ini dengan berangan ternyata hampa,..
aku ingin kenyataan,..
aku ingin kembali berjalan dan berjalan,...
mencari sebuah tujuan kebebasan,..
keheningan hidup dan ketenangan hati,...
dan keindahan alam Yang Maha Kuasa,....

(bie, 19 Juni 2013) 

Sebulan setelah aku bekerja di BOHC, rupanya kejenuhan sudah mulai melandaku, mungkin karena Muara Badak memang sepi sehingga hiburanpun juga sangat sedikit. Terus terang aku sangat menginginkan sebuah  perjalanan walaupun sejenak, sekedar menenangkan hati dan membuat pikiran menjadi segar. Perubahan suasana dari yang sangat padat di Jawa menjadi sepi sekali di Kalimantan sedikit banyak memang berpengaruh.

Dulu ketika jenuh menghadapi kuliah dan kerja, aku selalu berhasil mengumpulkan orang untuk sejenak mengunjungi gunung-gunung. Terkadang membujuk mereka dengan sedikit kebohongan, atau sedikit jahil dengan menceritakan segala keunikan yang akan kita dapat dari pendakian ke gunung. Ada yang mau berangkat ada pula yang memilih nyaman di kamar tidur daripada bersusah-susah meminggul carrier hanya untuk menggapai surya pagi hari. "Sementara dari jendela kamar saja aku suah bisa melihatnya,.." begitu kata salah satu teman... hahahaha,..!!.

Sekarang tentu saja kondisi sudah berubah, Teman-teman gunungku masih di Jawa sementara aku telah merantau ke Kalimantan. Sudah tidak bisa lagi aku menghilangkan jenuh dengan gunung, tetapi kecintaanku terhadap alam dan segala keunikannya tidak boleh berhenti hanya karena kepindahanku ke Kalimantan. Aku telah memutuskan untuk tetap menikmati setiap keindahan alam Nusantara. Aku memutuskan untuk tetap menjelajah negeri ini dimanapun aku berada, lalu kembali menulisnya dalam tulisan sajak tak beraturan yang dapat dijadikan kenangan.

Ya,..rupanya kali ini aku harus berterima kasih pada penghuni "Apartemen Simpang Enam". Rencana mereka berlibur ke sebuah Pulau di Bontang sepertinya merupakan jawaban dari kejenuhanku. Dan yang paling utama adalah mereka tidak melupakan aku. Aku sangat senang mereka mengajakku dalam perjalanan ini. Aku rasa ini adalah kesempatan pertamaku untuk memulai cita-cita menikmati keindahan alam Pulau Borneo. Aku akan mengunjungi Pulau Beras Basah di Bontang.



Pulau Beras Basah terletak sekitar 40 menit perjalanan laut. Dengan menyewa kapal nelayan, untuk menikmati pesona bahari yang ditawarkan pulau yang memiliki pantai pasir putih itu. Air laut yang sangat jernih. Dari atas kapal, dapat melihat hijau nya tumbuhan laut di dasar nya. Bahkan sesekali ikan kecil terlihat samar-samar di bawah sana. Sementara, pulau-pulau tak berpenghuni juga ramai terlihat. Pulau-pulau kecil itu hanya dipenuhi pohon bakau yang rimbun. juga ditemukan beberapa perkampungan di atas air laut. Sekumpulan rumah itu sama sekali tak terhubung dengan daratan. dan sebuah mercusuar menjulang tinggi seakan-akan menyambut kedatangan para pengunjung. 

Sebenarnya perjalanan kami tidak terlalu mulus, karena aku sendiri mengalami "vomiting" yang tidak biasa, mungkin karena malam sebelumnya aku jaga UGD 24 jam jadi kondisi tubuh tidak terlalu fit.  Sesampai di Bontang kita langsung menuju Pelabuhan Tanjung Laut di Tanjung Limau untuk menyewa kapal nelayan yang akan mengantarkan kami ke Pulau Beras Basah. Dalam perjalanan kami harus terombang-ambing di laut karena kapal nelayan kami mengalami mati mesin, hingga akhirnya kami dipindah ke kapal yang kebetulan lewat.

Dermaga Pulau Beras Basah

Akhirnya setelah perjalanan beberapa menit, tibalah kita di demaga kayu Pulau Beras Basah. Tertiup angin laut dan mendengarkan deburan ombak laut yang sejuk membuat rasa penat ini seketika hilang. Pulau ini ditumbuhi banyak pohon kelapa dan pasir yang putih. Kondisi hari minggu membuat pulau ini begitu dipenuhi oleh orang yang berlibur bersama keluarganya. Beras Basah memang sanagt cocok untuk dijadikan tempat liburan keluarga bersama anak-anak sambil menggelar tikar dan membawa makanan sendiri. Tetapi dampaknya tentu saja sampah yang ditinggalkan wisatawan menjadi menumpuk.

Pesisir Beras Basah

Dermaga

Kami sendiri membawa bekal makanan dan minuman sendiri, karena di Beras Basah jarang ada yang menjual makanan dan kalaupun ada, aku yakin harganya pasti melambung tinggi. Di Pulau ini juga terdapat beberapa permainan air seperti Banana Boat. Ada permainan melempar gelang ke botol-botol minuman yang dijejer rapi dimana yang berhasil memasukkannya ke botol maka otomatis itu menjadi miliknya. Sebelum pulang kami menyempatkan diri mencoba permainan ini. Dan ternyata seru,..!!

Demikian cerita singkat perjalanan pertamaku menjelajahi Pulau Borneo. Sebuah Pulau indah di lepas laut perairan Bontang, Pulau Beras Basah. Bersama seluruh penghuni "Apartemen Simpang Enam" dan beberapa teman klinik seperti Diana, dan adiknya Wawan (lupa namanya), terima kasih telah menyisakan kursi di mobil depan sehingga aku bisa ikut menjelajahi alam pulau Borneo. Semoga ini bukanlah yang pertama apalagi yang terakhir. Mari kita rencanakan beberapa perjalanan yang lebih mendebarkan lagi. Mari kita cintai budaya asli negeri ini, Sekali lagi terima kasih Teman.

--Salam Cinta Salam Perjuangan Salam Nusantara--

Dokumentasi Yang Lain :

Berenang di pantai

Rombongan minus Maman (Cameraman)

Rombongan : Welcome To Beras Basah




--bie--






Senin, 03 Juni 2013

Muara Badak : Panggilan hati dan sebuah pengabdian,...


..................................
Sore ini adalah hari terakhir sebelum keberangkatanku menjemput mimpi. Aku menyibukkan diri memandangi istriku dan sedikit bersenda gurau sebelum besok kami akan berpisah sejenak. Hari-hari esok akan kuhabiskan untuk mengabdikan ilmu. Di sebuah daerah yang benar-benar baru pertama kali aku kunjungi, dan baru saja kupelajari beberapa hari terakhir. Daerah itu bernama Muara Badak, sebuah daerah penghasil energi di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Setelah menyelesaikan kewajibanku mengabdi sebagai dokter Internsip selama satu tahun di Kabupaten Ngawi, aku mulai memikirkan sesuatu tentang masa depanku, keluarga kecilku ( saat ini istriku tengah mengandung 2 bulan ) dan tentu saja ummi serta adikku.

Sebagai laki-laki tertua yang diandalkan keluarga dan tentu saja sangat diharapkan dapat membantu ekonomi keluarga, terus terang aku bingung harus kemana. Tapi atas Karunia dari Allah SWT, Allah telah memudahkan segalanya bagiku, setidaknya ada beberapa pilihan tujuan untuk aku bisa mengabdikan ilmu sebagai dokter. Sebelum menyelesaikan kontrak di Ngawi, Alhamdulillah aku telah diterima di sebuah Rumah Sakit Swasta besar di Lamongan yaitu Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan, selain itu aku juga telah bekerja di beberapa Klinik Swasta di Surabaya sambil mengajar sebagai Ko-Instruktur Tramed di Kampus.

Tapi pertemuan yang terjadi secara tidak sengaja dengan dr. Maghrizal Roychan, senior satu tingkat di kampus sedikit merubah segalanya. Tepatnya bulan Desember awal ketika aku akan mengikuti pelatihan ATLS di Jakarta bersama dr. Angga Fiandana (PPDS Ortho), aku bertemu Mas Rizal sedang menunggu keberangkatan pesawat menuju Balikpapan dari Bandara Juanda Surabaya. Saat itu beliau baru saja menyelesaikan pelatihan ATLS di Surabaya. Nah, di momen inilah Mas Rizal banyak bercerita tentang dimana saat ini dia bekerja. Ternyata dia bekerja di BOHC (Badak Occupational Health Clinic), Mas Rizal bercerita tentang beberapa pengalaman medisnya di sana dan kebetulan bulan Maret tahun 2013 dia mau resign untuk melanjutkan studi PPDS, sehingga otomatis dia akan butuh pengganti. Entah apa yang kupikirkan saat itu, tapi aku langsung saja mengajukan diri untuk menggantikannya bekerja di sana. Di sinilah awal mula kenapa aku bisa bekerja di Muara Badak.

.........................
...............................
Aku telah menikah dan istriku tercinta tengah mengandung buah hati kami. Apakah aku akan meninggalkannya sejenak untuk mengabdikan ilmu ke Kalimantan ?? Masih dalam perdebatan di alam sadar, tapi aku yakin istriku akan mengerti. Aku butuh dia tetap di Bojonegoro untuk menemani Ummi dan beberapa alasan lain. 

Sebenarnya ada sebuah janji yang harus ditepati, dan bagaimanapun janji tetaplah janji yang harus ditepati. Aku telah memutuskan sejak jauh hari sebelumnya atau bahkan sebelum aku lulus menjadi dokter, bahwa aku harus mengabdikan ilmu ini ke pedalaman Nusantara. Janji ini terucap ketika aku menjalani hari-hari sebagai mahasiswa kedokteran dan mendapat banyak sharing pengalaman dari guru-guru terbaik di UNAIR. Terinspirasi dari banyak dokter yang telah mengabdikan ilmunya di daerah-daerah. Pulau Jawa terlalu banyak dokter akhir-akhir ini.

Waktu itu aku membayangkan bahwa aku harus mengambil PTT untuk bisa memenuhi janjiku ini. Asal tahu saja, sebenarnya janjiku ini pulalah yang membuatku mencintai kegiatan alam bebas seperti mendaki gunung. Sayangnya untuk tahun ini, pembukaan PTT baru di buka bulan Juni. Itu terlalu lama buatku yang tentu saja harus segera kembali bekerja setelah menyelesaikan kontrak di Ngawi karena sudah memiliki istri dan calon anak. Mungkin inilah jawaban dari pertemuanku dengan Mas Rizal dulu. Allah telah menunjukkan jalan yang demikian bagiku dan patut bagiku untuk bersyukur.

Singkat cerita, akhirnya aku memutuskan untk mengalihkan jalan pengabdianku ke sebuah daerah kecil di Kalimantan Timur bernama Muara Badak. Aku rasa mengabdi tidak harus ke Papua atau ke daerah lain. Kalimantan juga dapat dijadikan tempat untuk mengabdi sebagai dokter. Dan demikianlah hingga saat ini aku masih bekerja di sebuah klinik bernama BOHC dan berbagai pengalaman baru telah aku  dapatkan di sini.

Kecamatan Muara Badak merupakan salah satu wilayah penghasil minyak bumi dan gas (migas) di Kutai Kartanegara yang eksplorasi dan ekspoitasinya saat ini dikerjakan oleh perusahaan migas multinasional asal Amerika Serikat VICO Indonesia. Namun tidak mengalami pembangunan yang layak dari Pemerintah Kabupaten. Padahal eksplorasi ini sudah dimulai sejak tahun 1970-an.

Dibutuhkan peran serta pemerintah untuk merealisasikan kecamatan ini menjadi salah satu sumber objek wisata yang menjanjikan. Apabila kita melihat kondisi Muara Badak saat ini, sangat disesalkan apabila disebut Kutai Kertanegara sebagai salah satu kabupaten terkaya di Indonesia.

Berbagai karakter masyarakat aku temui di sini. Berbagai kasus medis aku temukan di sini, beragam pengalaman dan budaya telah berhasil membuatku mengagumi daerah lain di salah satu penjuru Nusantara ini. Aku memantabkan hati dalam keheningan malam, mendengar angin bernyanyi pelan dan membisikkan sesuatu dalam kalbu, bahwa aku akan tetap menikmati budaya-budaya negeri ini dan tentu saja keindahan alam Pulau Borneo.

Sambil memandang langit dan menyibak kelambu bayang-bayang masa kemarin, aku lalu terbangun untuk kemudian menatap masa depan. Aku pegang kedua tangan istriku dan mencium keningnya sejenak. aku katakan ini takkan lama, berjuanglah untuk anak kita dan aku akan berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Aku pergi untuk memenuhi janji, menatap matahari lain di seberang pulau, dan aku harap aku masih bisa menyusuri pantai-pantai pasir yang sedikit berkerikil sekali lagi.

...................................
Aku menulis untukmu sayangku
melawan kebosanan menegur mimpi dalam senja
menyibak semak dengan daun berduri yang menyakiti jari jari
lalu terbangun pada sendu di langit biru
aku tertawa sejenak mengusir rasa lelah
merangkai kisah demi kisah perantauan
mengukir cinta di pesisir tanah ikan
mencium bau pasir yang ribut saling berbisik
dan berharap dapat menatap surya
di balik pepohonan sawit yang rindang
aku telah pergi untuk kembali
aku akan menepati janji untuk mengabdi
kuatkanlah aku Ya Allah,...
kuatkanlah aku dalam perantauan ini,...


Demikianlah cerita singkat awal keberangkatanku ke sebuah daerah kecil bernama Muara Badak.

--Bie--

Senin, 11 Maret 2013

,...Cerita Pagi : Tentang Kerinduan Itu,..

Nah, seperti biasanya angin pagi selalu membuatku kedinginan, tapi suasana harum tanah-tanah yang tersiram air hujan berbau harum khas, mendamaikan sekaligus membuat rindu. Aku mengintip jendela kamar, menatap semuanya sedikit demi sedikit lalu memutuskan untuk keluar sejenak dari hangatnya selimut. Pagi ini aku ingin kembali menulis,...

Pagi ini sedari kemarin aku telah berada agak jauh dari kota Surabaya, mengabdikan ilmu di sebuah klinik baru di daerah perbatasan Sidoarjo dan Pasuruan, atau lebih tepatnya sudah memasuki wilayah Pasuruan. Kamis pagi ini aku telah berkemas menuju klinik dengan mengendarai "Supri", melewati keramaian kota pahlawan ini, meliuk-liuk melewati motor dan mobil yang sama-sama menuju entah kemana. Sambil melafalkan kembali hafalan surahQ,...muroja'ah. Daripada mendengarkan musik, aku lebih suka mengulang hafalan Surahku,..kebetulan sejak menikah kemarin aku memantabkan hati untuk mulai kembali menghafal Al-Qur'an. Dimulai dengan mengulang kembali surah2 awal di Juz 30, saat ini sampai di Surah Abasa.

Mendekati Bundaran Waru, kebimbangan mulai meliputi pikiranku. Tiba-tiba saja aku sangat ingin naik bus untuk menuju ke Klinik. Padahal sebelumnya, aku sudah meniatkan diri untuk naik motor saja. Ya sudahlah, singkat cerita, aku berbelok ke Terminal Bungurasih untuk menitipkan "Supri" dan mencari Bus Jurusan Malang, dan bus "Restu" menjadi pilihanku. Bukan karena bus ini memang kebetulan bagus, tapi memang bus ini yang terjadwal paling depan akan berangkat. Tapi bus yang aku tumpangi ini memang bagus.

Dalam bus yang jumlah penumpangnya tidak lebih dari 20 orang ini, aku mengambil duduk di bangku paling belakang sambil menikmati jalanan lengang, melewati jalan tol yang membelah sawah hijau yang sejuk. Kontras dengan pemandangan lumpur Lapindo yang sampai saat ini masih berkubang pada polemik yang tak kunjung habis. Aku menikmati perjalananku kali ini. Menikmati betul birunya awan yang terlihat sebagian dari jendela bus "Restu". Sampai pada suatu ketika, tiba-tiba senyumku merekah dan dalam hati ini muncul kerinduan yang dalam akan sesuatu. Pemandangan yang nampak di luar sana begitu membawaku jauh masuk ke dalam masa lalu yang membiru. Aku mulai tenggelam dalam lamunan kala itu.

Aku lihat diantara awan-awan yang menutupi puncaknya, ada Gunung Penanggungan, nampak sedikit lereng Gunung Arjuna, dan pemandangan hamparan sawah hijau yang luar biasa. Aku sangat merindukannya teman.  Aku sangat merindukan suasana hawa dingin tersebut, aku rindu bagaimana memikul carrier yang berat dan sesekali berjalan merangkak melewati ranting pohon menghindari dahan-dahan. Bercengkerama dengan rerumputan sambil menikmati embun pagi yang membasahi kaki-kaki. Duduk di samping tebing dan merenungkan semuanya, bergandengan tangan saling membantu, dan menatap surya yang muncul indah sekali saat pagi hari.

Aku tersenyum pada pemandangan indah yang nampak dari jendela bus pagi itu. Aku masih sangat menginginkan dapat mengulangi pendakian kala itu. Masih sangat ingin merasakan kembali rasa "deg-deg" an saat memulai pendakian, dan masih sangat ingin tersenyum kembali saat melewati bukit-bukit indah. Aku bertanya dalam hati tentang cita-cita, aku bergumam tentang masa lalu, lalu aku sadar bahwa kini semua telah berbeda. Aku telah menikah dengan istri yang cantik, sholihah dan kini dia tengah mengandung buah hati kami. Aku bukanlah diriku dulu yang bisa kemana-mana tanpa ada tanggung jawab di rumah, semuanya telah berbeda saat ini. Lamunanku ini hanya bisa mengantarkan kerinduanku ini pada senyuman tipis pada Arjuna saat itu. Tetapi dalam hati aku masih menginginkannya....

Begitulah teman, rasa yang tiba-tiba muncul saat perjalananku pagi ini menuju sebuah Klinik baru di daerah Pasuruan. Rasa yang tiba-tiba muncul dan memunculkan kembali kerinduan ini. Dan aku yakin rasa ini pasti juga dirasakan oleh semua pendaki gunung yang sudah lama tidak menjejakkan kakinya di gunung-gunung. Rasa yang entah kelak masih bisa terbayar atau tidak, atau hanya menjadi angan dan tetap tersimpan dalam masa lalu yang mengajarkan banyak hal. Sebuah kebijaksanaan dan pengalaman hidup.

Tulisan ini dibuat dalam perjalanan menuju "Klinik Sehat Sejahtera" Pasuruan karena kerinduan yang sangat mendalam dari penulis akan kehidupan alam bebas yang sempat menjadi bagian hidupnya saat kuliah dulu. Dalam perjalanan, penulis menyaksikan pemandangan indah Gunung Penanggungan dan Arjuna yang dulu pernah dikunjungi oleh penulis, sehingga kembali mengingatkan penulis akan aktivitas alam bebas-nya dahulu.

..........................
Selalu ketika semuanya sudah nampak biru dan sendu
setelah itu juga, 
air mata nampak selalu mengalir dalam kenangan
aku tentu saja tidak ingin menjadi biru dalam sendu
aku masih berkawan dengan kicauan burung-burung merdu
masih ingin menatap matahari yang bersinar penuh mimpi
masih mengingat jelas kaki-kaki lusuh ini
menjejakkan kaki di tanah liat kadang berbatu
kadang pula berpasir,..
terkadang hujan menemani perjalanan hati
tak jarang pula terik menghempas peluh keringat kami
tapi persahabatan kami tak akan putus hanya karena rasa lelah
semuanya berarti dalam genggaman tangan seorang pendaki sejati,..
tak akan meninggalkan apapun kecuali jejak kaki,..
juga tak akan mengambil apapun kecuali gambar-gambar,..
dan tak akan membunuh apapun kecuali waktu,...



--Bie--
Pasuruan, 7 Maret 2013












Rabu, 16 Januari 2013

,.. Kupinang kau dengan Ar Rahman,...


tersipu melihat langit-langit yang sejenak membiru,..
lalu angin bertiup kesana kemari menyentuh jiwa-jiwa yang merindu,..
aku terombang-ambing dalam kebimbangan kala itu,..
perasaan ini begitu dekat
teringat saat khitbah terucap beberapa waktu lalu,..
dan kita telah sepakat untuk mengikat janji suci sebulan kemudian,...
sekali lagi aku menengadah ke hamparan langit luas,..
Allah telah tunjukkan jalan cinta hamba-Nya,..
aku berderai air mata ,..
ketika kau tak meminta harta sebagai mahar suci,..
kau memintaku melantunkan keindahan Ar Rahman di hadapan para saksi,...
dan aku pun tak keberatan,...
semua serasa indah sebagai nikmat-Nya,..
aku adalah laki-laki yang dihadapkan pada kenyataan indah ketetapan Illahi,..
sebuah pernikahan berarti sebuah tanggung jawab,..
semuanya adalah karunia-Nya,..
Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
hari itu pun tiba,..
hari dimana aku mengucap janji suci pernikahan kita,..
Kupinang kau dengan Ar Rahman,..
kulantunkan perlahan,..
sebagai mahar suci,..







--Bie--