Rabu, 14 Oktober 2015

Candi Cetho : It's About The Journey, Not The Destination



Surabaya, 14 Oktober 2015

Hari ini rasa-rasanya cukup malas melakukan segala sesuatu. Kehidupan sebagai residen ternyata cukup melelahkan, dan adanya hari libur, tanpa agenda kegiatan di bagian, merupakan suatu hal yang amat sangat langka dan patut disyukuri. Pagi ini, matahari seperti biasa mengawali cerita kehidupan para makhluk di semesta. 

Aku sendiri sengaja bermalas-malasan setelah subuh. Dalam keadaan masih setengah ngantuk, aku berangan-angan tentang apa saja yang akan terjadi hari ini. Sembari mengumpulkan semangat, aku memutuskan untuk menuju kamar mandi dan mencuci baju.

Nah, sambil mengisi waktu liburan, aku memutuskan untuk menulis lagi di blog asal-asalan ini. Kali ini aku ingin berbagi pengalaman tentang perjalanan ke Candi Cetho di Karanganyar Jawa Tengah kira-kira 3 tahun yang lalu. 

Saat itu kami masih menjalani program Internsip sebagai kewajiban dokter yang baru lulus. Kebetulan kami ditempatkan di Puskesmas Ngrambe, Kabupaten Ngawi Jawa Timur. Di sela-sela kesibukan jaga kami memutuskan untuk sejenak mengunjungi Candi Cetho. 

Rombongan kami waktu itu terdiri dari aku sendiri, Dinda, Angga dan Miftah yang Alhamdulillah kami semua diberi kesempatan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang program pendidikan dokter spesialis saat ini. Aku sendiri sebagai residen Anestesi, Dinda di Ilmu Kesehatan Anak, Angga di Orthopedi dan Miftah di Ilmu Penyakit Dalam.



Cetho dalam bahasa jawa berarti jelas atau jernih, Candi cetho berada di ketinggian 1400 meter lereng Gunung Lawu dan merupakan peninggalan umat Hindu abad ke – 14 M. Berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah yg pada umum nya menghadap ke barat, candi cetho ini menghadap ke timur mungkin karena pembangunannya pada masa Majapahit sehingga terpengaruh oleh candi-candi dari Jawa Timur.

Kami mengawali perjalanan dari Kecamatan Ngrambe, tempat kami mengabdikan diri sebagai dokter internsip. Mengendarai mobilnya Dinda "Black Bumblee Bee" nya yang kebetulan sering mengajak kita kemana-mana saat itu. Persisnya aku lupa, bagaimana kita bisa sampai ke Candi Cetho. Yang aku ingat, kami berangkat siang selepas jam dinas selesai dan melewati jalanan berliku di perbukitan, melewati hamparan kebun teh yang indah nan luas dan membentang sampai berkilo-kilo perjalanan kami.

Si Bumble Bee sempat ngambek, terbukti dari asap yang dikeluarkannya, memaksa kami sejenak untuk istirahat. Baiklah kami menepi di sebuah warung. Hari masih sore kala itu, matahari cerah sekali, udara dingin menusuk tulang, namun teriknya matahari senja masih mampu memberi kehangatan pada tubuh kami, sehangat mie rebus pakai telur yang kami pesan sore itu.

Bumble Bee Ngambek !!


,...................
Belum nampak awan menggumpal menaungi bumi
senja meratapi sunyi dan mimpi-mimpi
tak nampak pula asa kala gerimis membasahi tanah
dedaunan sibuk menari manja teriringi desir tiupan angin malas
pemuda pemudi sibuk memerdekakan diri
melangkah satu langkah
membelalak, membuka mata dunia akan rasa-rasa
mencoba menggenggam harga diri yang terbelenggu
menampakkan raga di keindahan sejati

................................

Sore menjelang senja, akhirnya kami sampai di Candi Cetho. Tidak banyak pengunjung yang ada, mungkin karena hari semakin sore. Sampai pada akhirnya kami semua pun sadar, bahwa sepertinya waktu terbaik mengunjungi Candi ini memang adalah sore menjelang senja, dan saat tidak banyak orang yang berkunjung.

Kami berkeliling candi, memahami setiap bagian dari candi, mempelajari apa yang bisa dipelajari. Tentu sambil mengambil foto sana -sini, karena tanpa dokumentasi, perjalanan ini akan sia-sia, dan blog ini pun tidak akan pernah ada. hehehe,..!!







Dalam perjalanannya, kami bahkan memberanikan diri untuk mencoba mengunjungi Puri Saraswati. Lokasinya agak jauh dari Candi Cetho, tapi masih berada di kompleks Candi Cetho. Saya lupa harus berapa lama kami berjalan kaki untuk menuju situs ini, tetapi sedikit waktu yang kami luangkan nampaknya tidak sia-sia. Untuk sebuah perjalanan budaya, saya pribadi cukup puas dengan candi Cetho ini.



Tentang aura mistisnya,..?? candi ini cukup bikin merinding memang. Namun percayalah, keindahannya mampu mengusir jauh-jauh rasa itu. Pada akhirnya perjalanan ini kami tutup dengan sebuah keindahan sejati tak tertandingi. Senja kami sore itu terbayar tuntas dengan pemandangan matahari tenggelam yang sangat-sangat indah. Kami terpukau sejenak, memutuskan untuk duduk dan mengamati senja luar biasa ini.



Belum tampak mendung merenung bumi
Seberkas haru larut terbalut kalut dan takut
Terpaku ratap menatap Jiwa-jiwa penuh rindu
Hangatkan dahaga raga yang sendu merayu


Bulan tak ingin membawa tertawa manja
Kala waktu enggan berkawan pada hari
Saat bintang bersembunyi sunyi sendiri
Terhapus awan gelap melahap habis langit


Bulan memudar cantik menarik pada jiwa ini
Hitam memang menang menyerang terang
Tetapi mekar fajar bersama mentari akan menari
Bersama untaian senandung salam alam pagi.

(Puisi Tanpa Nama)
Sumber



Pada akhirnya, ini semua tentang perjalanan hati. Saat ini, terkadang kerinduan itu datang merasuk, menampar raga yang seakan mulai lemah tak berdaya, mencoba menumbuhkan rasa itu kembali. Teman, aku sangat merindukan situasi hati saat menapakkan kaki di jalan setapak seperti dahulu. Teman, aku sangat rindu pula menghirup udara dingin sejuk gunung-gunung. Menghilangkan rasa penat situasi kota penuh asap. Teman, entahlah kapan saat aku dapat kembali melangkahkan kaki. Kembali berjalan, melangkah bahkan mungkin mendaki,..

Cerita malam ini adalah saksi kerinduanku yang dalam akan sebuah perjalanan hati. Berharap suatu saat kesempatan itu datang lagi.




Kawan, 
berandai-andailah bila mimpi nampak sendu seperti awan biru,..
mengejar cahaya silau sinaran senja-nan malu
mempelajari hikmah keindahan alam-Nya
senandung merdu mulai berbisik lembut
seriang teriakan bocah-bocah pesisir bermain pasir
menapak kaki satu demi satu
merasa angin di ujung bukit-bukit
menerpa rambut kita nan lembut
mendaki gunung-gunung
menyelami samudra
menulis sajak keindahan bumi kita
Nusantara raya,...
 


Bie, 2016.



Jumat, 25 September 2015

“Why did you decide to become an anesthesiologist?"







 










ramai merdu burung bersiul menderu awan siang itu,..
terbang sesekali merendah
melintaskan dua kakinya ke ranting kuning
daun layu pun bergugur indah nan gemulai
nampak gagah ksatria berwibawa
membawa air dalam guci
air suci,..
sampai pada lamunan senja sore itu,..
mata ini menatap jauh ke alam cita nan bangga
rasa-rasanya mimpi tak kunjung membuat raga ini terbangun,..
terlelap semakin dalam tak apalah
mendapati ilmu nan suci di kawah candradimuka
menggapai lagi cita yang mulia
menjadi bagian dari Airlangga,..

(bie, 25 September 2015)


Muara Badak,

Sore menjelang senja, saya menyempatkan diri untuk memeriksa beberapa pasien yang sudah menunggu di klinik. Hari-hari terakhir ini sungguh membuat saya merasa tidak tenang. Hari dimana saya menunggu pengumuman tentang hasil ujian saya dalam rangka menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Beberapa bulan terakhir, memang saya disibukkan dengan rangkaian ujian seleksi penerimaan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis). Saya mengambil peminatan Anestesiologi dan Reanimasi di Universitas Airlangga, almamater saya dulu.

"Terima kasih dokter,..!"
"Sama-sama bu,.. jangan lupa kontrol secara rutin untuk gulanya dan sempatkan olahraga ringan nggeh,..!" jawabku pada salah seorang pasien saya yang terdiagnosa Diabetes Melitus menutup sore itu. Kebetulan beliau merupakan pasien terakhir sore itu. 

Saya mencuci tangan dan meletakkan stetokop di meja dokter, kemudian salah seorang teman memberi tahu saya di "Whatsapp" bahwa pengumuman ujian PPDS sudah dapat dilihat di website UNAIR sore ini. Jantung ini rasa berdebar kawan, semakin kencang dan bercampur antara penasaran dan cemas menjadi satu. Apakah Allah menakdirkan saya untuk dapat mengenyam pendidikan spesialis periode ini, atau kehendak Allah berkata lain, saya masih ragu. Namun setelah saya memasukkan nomor ujian ke dalam website, maka keluarlah pengumuman seperti di awal tulisan ini. Ya Allah,.. Alhamdulillah,.. saya berhasil diterima menjadi peserta didik PPDS Anestesiologi dan Reanimasi UNAIR periode 2015/2016. 




Adalah ummi saya tercinta yang saya kabari berita ini untuk pertama kali, menyusul kemudian istri saya tercinta dan keluarga yang lainnya. Saya anggap ini adalah karunia Allah yang begitu luar biasa kawan. Ini berarti perjuangan baru telah dimulai. Ini berarti janji harus ditunaikan, dan hal ini juga berarti amanah dan tanggung jawab baru telah tersemat pada pundak rapuh ini. Mengingat kembali cita-cita yang telah kami gantungkan setinggi langit dahulu.

Ada rasa senang, ada pula rasa haru. Pengumuman ini juga menandakan bahwa hari-hari pengabdian ini telah menjelang akhir. Ada pertemuan, ada pula perpisahan. Terima kasih Muara Badak, yang telah memberi saya pengalaman luar biasa tak terhingga sehingga saya dapat menjadi dokter yang sedemikan rupa. Terima kasih seluruh rekan kerja di Klinik BOHC dan segenap masyarakat Muara Badak khususnya para pasien yang telah mempercayakan amanah dan tanggung jawab luar biasa ini untuk menjadi dokter di Muara Badak selama 2 tahun terakhir.

Pada akhirnya pertanyaan itu pun muncul dalam keheningan sejenak. “Why did you decide to become an anesthesiologist?"

Adalah kesan dari para guru-guru saya seperti (Alm) Prof. Koeshartono,dr., Sp. An KIC dan Prof. Dr. Eddy Rahardjo, dr. Sp. An KIC, serta senior-senior Anestesi yang lain lah yang membuat saya tertarik untuk mempelajari Anestesiologi dan Reanimasi. Cerita dan pengalaman beliau-beliau saat menangani bencana di berbagai wilayah Indonesia sangat menginspirasi saya untuk dapat menjadi bagian dari tim ini, atau paling tidak dapat meneladani apa yang telah beliau-beliau rintis dalam hal pelayanan kegawat daruratan. 

Saya masih teringat betul saat Prof. Koes menampilkan slide kuliah dimana beliau berada di salah satu wilayah pelosok Indonesia bersama anak-anak lokal sedang bermain. Sambil bercerita tentang bagaimana beliau dan tim GELS mengajarkan pentingnya dasar-dasar kegawat daruratan pada tenaga medis yang ada di daerah utamanya daerah pelosok, beliau berpesan ada kami yang masih muda-muda. Kira-kira beginilah pesannya,"Inilah bangsamu, bangsa Indonesia yang kita bangga-banggakan,...sambil menunjukkan foto-foto beliau saat berada di sana,.. merantaulah sejenak ke pelosok-pelosok negeri ini adik-adik sekalian, supaya kalian merasakan bagaimana rasanya mengabdi di daerah pelosok Nusantara". Persisnya saya lupa, tapi pada intinya beliau menganjurkan kami yang masih muda untuk sejenak mengabdikan ilmu terutama di daerah pelosok negeri ini. 

Dan ajaibnya, pesan yang disampaikan Prof. Koes saat saya masih semester 3 ini selalu terngiang sampai saya lulus menjadi dokter umum dan pada akhirnya saya memutuskan untuk mengabdikan ilmu di sebuah daerah pesisir Kalimantan Timur, Muara Badak sebelum akhirnya saya memilih Spesialisasi Anestesiologi dan Reanimasi sebagai jalur pengabdian saya yang baru. 

Banyak sekali cerita inspiratif dari guru-guru saya terutama dari Anestesi, diantaranya saat gempa berkekuatan 7,8 skala richter yang menggoyang Maumere pada 1992 hingga terjadi tsunami. Tim Satgas Bencana RSUD Dr. Soetomo sampai harus mengumpulkan puing-puing untuk mendirikan tenda. Operasi dilakukan di tempat yang jauh dari kata steril, dengan perbekalan medis yang dibawa ke lokasi. Menurut salah satu senior, kejadian di Maumere ini cukup berkesan bagi guru-guru kami yang aktif di Tim Satgas Bencana, karena mereka memberikan bantuan secara bertahap hampir selama dua tahun. Bahkan mereka juga melatih tenaga medis di sana sampai akhirnya RS Maumere berdiri. 

Masih banyak cerita inspiratif lain, yang semakin membuat saya ingin menjadi seperti beliau-beliau ini. Terlebih saat saya menjalani kepaniteraan klinik di RSUD Dr. Soetomo, saya semakin menemukan minat dan kecenderungan saya yang lebih menyukai bidang "Life Support" terutama kegawatdaruratan. Saya melihat sebuah kerja sama tim yang luar biasa di ruang Resusitasi saat ada pasien Cardiac Arrest atau jelek kondisinya. Pengalaman-pengalaman inilah yang memantabkan saya untuk lebih mendalami ilmu Anestesi dan Reanimasi. 

Kini, babak baru kehidupan saya telah dimulai. Saya telah diberikan kesempatan luar biasa untuk kembali menuntut ilmu, mudah-mudahan ilmu ini kelak bermanfaat bagi masyarakat serta harapan saya dapat meneruskan perjuangan beliau-beliau yang telah menginspirasi saya untuk mengembangkan ilmu kegawatdaruratan serta mengajarkannya kepada tenaga medis di pelosok-pelosok negeri. 

Di akhir tulisan ini saya ingin mengutip tulisan seorang Anestesiologists dari India,..

“After surgery, most patients only remember the name of their surgeon, not their anesthesiologist. We never hand out business cards, and we never get interviewed on television for helping to save a trauma victim,” said a university based anesthesiologist. “A patient who never mentions their anesthesia experience is the one who is the satisfied customer. It means that the patient made it safely through surgery without pain. That is when I can go home feeling gratified I did a good job for the day .
 

”Anesthesiologists do not depend on recognition from their patients for ego gratification. Instead, these behind-the-scenes doctors simply derive their personal satisfaction from within.




-bie

Selasa, 28 April 2015

A Journey... : Gede Pangrango

Lanjutan :

Malam ini ingin sekali rasanya membayar hutang satu setengah tahun yang lalu. Rasanya seperti nostalgi ketika kembali mengingat satu persatu cerita perjalanan kami di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Cerita yang harusnya terselesaikan lebih awal sejak hari ini. 

Entah apa yang membuatku sendu. Tiba-tiba sangat merindu bagaimana rasanya kembali menulis. Hampir sepanjang tahun tidak menjejakkan kaki di gunung rasanya aneh. Hampir setahun pula cerita ini mengambang di kenangan tanpa tersurat dalam sebuah sajak ataupun prosa. Malam ini, mari kita membuka kembali kenangan tentang Gede Pangrango.


 ,........................
Semakin dekat semakin kencang suara berisik itu,...
kami melajukan langkah semakin derap
dedaunan menyibak manis wajah kuyu kami,..
terjangan kerikil kami hiraukan
canda tawa menjadikan lupa
dan satu demi satu keindahan kembali menyapa kami

rupanya,...
rasa penasaran pun sirna seketika,..



 
Air Terjun Pancaweuluh


Dari Pos Kandang Batu kami melanjutkan perjalanan menuju Pos berikutnya Pos Kandang Badak. Sepanjang perjalanan kami masih disuguhkan pemandangan yang sangat indah khas hutan tropis di kebanyakan hutan Pulau Jawa. Sejenak kami berjalan, kami disuguhi sebuah pemandangan air terjun yang sangat indah. Rasa-rasanya sulit untuk melewatkan untuk tidak sejenak berhenti, mengisi persediaan air dan melepas dahaga karena rasa haus.

Kami melanjutkan perjalanan usai puas menikmati air terjun. Di sekitar air terjun ini lintasan terjal dan sempit sehingga harus menunggu antrian satu persatu untuk melewatinya. Setelah itu jalur mulai landai dan sedikit menurun hingga Pos Kandang Badak. Setelah melakukan perjalanan beberapa jam, kami akhirnya sampai di Pos Kandang Badak. Dan sesuai perkiraan kami malam sebelumnya, Pos Kandang Badak sudah dipenuhi oleh rombongan pendaki. Sangat padat dan bahkan kami tidak menemukan tempat untuk membuka tenda. Akhirnya kami hanya istirahat sejenak untuk memikirkan perjalanan selanjutnya. 

Bagi pendaki, sebaiknya mengisi persediaan airnya di Pos Kandang Badak, karena perjalanan selanjutnya akan sulit untuk mendapatkan air. Setelah Kandang Badak, perjalanan menuju puncak sangat menanjak dan melelahkan, disamping itu udara juga sangat dingin. Terutama bila kita melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Gede. 

Kami sendiri menargetkan untuk menggapai puncak Pangrango hari ini dan mengunjungi lembah legendaris-nya Soe Hok Gie, lembah Mandalawangi yang melegenda itu. Setelah itu langsung balik untuk menginap semalam di Kandang Badak, untuk istirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk menuju puncak Gunung Gede esok paginya.

Kami memutuskan untuk menuju puncak Pangrango hari itu. Karena kami tidak menemukan tempat untuk mendirikan tenda, akhirnya kami melanjutkan perjalanan sambil membawa carrier kami masing-masing. Menuju puncak Pangrango membutuhkan waktu 4 jam dari Pos Kandang Badak. dengan jarak tempuh lebih kurang 3-4 km. Kami tidak menyangka harus melewati kawasan hutan lebat yang terjal. Kami harus menunduk melewati ranting pohon yang pendek dan pepohonan tumbang sambil sesekali melewati bonus tanjakan. 

Dengan Carrier di punggung kami rasanya tidak mungkin sampai puncak dalam waktu 3-4 jam. Memang jalur pendakian ke Pangrango lebih jarang dipilih oleh pendaki sehingga jalurnya masih lebat. Kami pun juga tidak banyak mendapati kawanan pendaki lainnya di jalur ini, berbeda saat kami menuju puncak Gede. Singkat cerita kami memutuskan untuk meninggalkan Carrier kami di tengah perjalanan, kami menyimpannya di semak belukar sambil kami samarkan dengan ptotongan ranting dan dedaunan, sambil berharap saat kembali Carrier kami masih ada di tempat dan tidak ada barang yang hilang. Kami hanya membawa barang seperlunya di tas kecil dan kamera untuk dokumentasi, serta sedikit snack dan air minum mengingat kami hanya sejenak saja di Pangrango.



Kita adalah para pendaki

Menaklukan gunung yang menjelma dalam diri

Bertangga-tangga

Memaknai puncak kesadaran antara “ada” dan”tiada”



Tak harus mengibar angkuh

Walau sudah tergapai ketinggian yang seluruh

Menjaga silsilah lembah

Adalah tugas bagi jiwa untuk tetap tengadah



Sebagai pendaki

Matahari yang terbit dari belahan ufuk hati

Adalah landscap abadi

Yang tersimpan pada lensa teropong yang maha sunyi

(Dedet Setiadi, 2012)
Sumber : Klik


Puncak Pangrango



Akhirnya setelah berjalan setapak demi setapak, sampailah kami di puncak Gunung Pangrango. Puncaknya ditandai dengan sebuah tugu bertuliskan Puncak Pangrango. Di sekitar puncak, kami tidak dapat menikmati pemandangan yang indah karena masih banyak terdapat pepohonan. Puas menikmati puncak Pangrango, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama yaitu Lembah Mandalawangi.







Bangunlah di dalam angan-angan,
sebuah atap di tengah hutan
sebelum rumah kau dirikan dalam lingkungan kota.
Karena, sebagaimana kau mesti pulang setiap senja,
demikian pula jiwa halusmu, yang mengembara
sendiri senantiasa.

Dia tumbuh berkembang di sinar mentari,
dia tidur di kala malam kelam dan sunyi
dalam kegelapan yang tiada sepi dari mimpi
 Tidakkah rumahmu mengenal mimpi?

(Kahlil Gibran, petikan dari puisi "Naungan Kasih Sayang")


Klepek in Action


Sedikit turun ke arah barat, berjalan beberapa menit saja, kita akan disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan. Sebuah padang edelweiss yang sangat luas. Kami bertanya dalam diam dan sunyi, masih terpapar oleh eloknya edelweiss nan malu. Keheningan yang selalu di ceritakan Soe Hok Gie dalam puisi-puisi nya. Berbaur dengan hembusan angin yang lembut. Kami sampai agak senja, sehingga siluet sunset perlahan mulai muncul semakin menambah keanggunan Mandalawangi yang melegenda ini. 





Saya kutip salah satu Puisi dari Soe Hok Gie, 


Mandalawangi-Pangrango


Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu


Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu


Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan


Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku


cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta


Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua


“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”


Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu


Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok Gie


Kami mendapati semangat itu lagi, apa yang kami perjuangkan selama ini selalu terbayar dengan sempurna. Sebuah perjalanan hati yang penuh kontemplasi. Kami merenung masing-masing. Memikirkan hidup dan mimpi-mimpi. Sambil menatap ke arah jauh dan hanya rimbun edelweiss yang temani kami. sempat kami berlarian seperti anak kecil, karena kami memang kecil. Kecil di hadapan alam semesta, kecil di hadapan Tuhan Semesta Alam.

Senja semakin dekat dan kami pun bergegas untuk kembali menuju Pos Kandang Badak. Tidak Lebih dari setengah jam saja kami berada di Puncak Pangrango dan Lembah Mandalawangi, kami telah sepakat tentang keindahannya. Perjalanan ini kami pastikan akan menjadi kenangan unik. Menjadi salah satu tujuan terbaik dari seluruh pendakian kami selama ini.

Perjalanan turun selalu lebih cepat dari saat kami melakukan perjalanan ke puncak. Tidak ada hambatan yang berarti selain, kami sempat lupa lokasi dimana kami menaruh Tas Carrier kami. Hanya sejenak saja akhirnya kami bisa mendapati seluruh tas punggung kami ini dan Alhamdulillah tidak ada barang yang hilang. Kami berjalan di kegelapan malam, hanya bermodalkan senter kepala, sambil berdoa di setiap langkah. Ingin segera sampai di Pos Kandang Badak, untuk mendirikan tenda dan memasak makan malam. 

Malam ini, kami tidur dengan kepuasan hati yang luar biasa. Sempat memandangi langit yang cerah dan riuh sesama pendaki di samping tenda kami. Membuat perapian sederhana dan kopi panas, sambil menyiapkan makam malam. Kami memutuskan untuk membuat mie saja karena nampaknya semua anggota sudah kelelahan dan ingin segera tidur. Kami tidur dengan lelap malam itu.


.......................
............................
...............................


Belum saja matahari terbit, dan langit pun masih nampak gelap, terlebih angin malam saat itu cukup dingin, beberapa dari kami saling berdebat apakah harus bangun dan summit untuk sunrise di Puncak Gede. Terus terang saja badan ini masih cukup lelah dan masih ingin tidur sebentar lagi. Sempat kulihat jam, waktu masih menunjukkan pukul dua malam. Karena hanya sebagian kecil saja dari rombongan yang menginginkan summit, kami mempersilahkan mereka untuk mendaki terlebih dahulu. Namun nampaknya mereka juga keberatan bila hanya berdua saja. Sementara kami yang senior ini masih nyaman dengan sleeping bag kami masing-masing.

Untuk menuju puncak Gede, para pendaki harus menyusuri punggungan yang terjal. Di sepanjang track ini terdapat sebuah tanjakan maut yang sangat curam dan hanya bisa dilewati dengan cara berpegangan pada seutas tali tampar yang kuat. Beberapa pendaki menyebutnya "tanjakan setan". Dari atas tanjakan ini para pendaki dapat menikmati pemandangan yang sangat luar biasa, dan juga dapat menikmati pemandangan Puncak Pangrango yang sangat indah.






Setelah berjalan sekitar dua jam, akhirnya kita sampai di punggungan sebelum puncak sejati dari Gunung Gede. Dari punggungan ini kita dapat menikmati pemandangan yang sangat indah. Puncak Gunung Gede terlihat memanjang, berbeda dengan puncak Pangrango yang runcing sempurna. Pendaki biasanya menikmati pemandangan kawah Gunung Gede yang sangat indah. Di puncak Gunung Gede ini terkadang tercium bau belerang yang cukup menyengat. Kawah Gunung Gede terdiri dari Kawah Ratu dan Kawah Wadon.




Keindahan adalah sesuatu yang menarik jiwamu.
Keindahan adalah cinta yang
tidak memberi namun menerima

Ketika engkau menemukan keindahan
ke dalam relung hatimu. Itulah keagungan
yang merupakan perpaduan penderitaan
dan kebahagiaan.

(Kahlil Gibran)



Puncak Gede


Puncak Gunung Gede sangat indah namun perlu berhati-hati, kita dapat berdiri di lereng yang sangat curam, memandang kawah Gunung Gede yang mempesona. Dari puncak Gunung Gede nampak pemandangan yang luas seperti tanah lapang yang juga sering digunakan pendaki untuk mendirikan tenda. Daerah tersebut dinamai dengan "Alun-Alun Surya Kencana". Kami sendir tidak ke sana, hanya sampai puncak Gede. 

Sama seperti yang kami alami di Madalawangi kemarin, hari ini kami sekali lagi disuguhi keindahan luar biasa dari ciptaan Tuhan Semesta Alam. 




Pemandangan dari Puncak Gunung Gede
   


Demikianlah cerita perjalanan kami mengunjungi Gunung Gede Pangrango pada akhir tahun 2013 kemarin. Sebagai penutup catatan perjalanan ini, saya ingin kembali mengutip salah satu puisi yang saya tulis sendiri, terinspirasi saat melakukan pendakian di Gunung Arjuno beberapa tahun yang lalu.


,..................................................
sekali lagi aku menunduk dan tersandung kerikil-kerikil tumpul
melukai kakiku yang tipis karena kurus
membuatku rindu akan percikan air-air pegunungan
ketika aku telah berada di rimba belantara hutan-hutan cemara
aku terdiam dan menghembuskan angin kepedihan
menemui padang ilalang adalah hampa
mencumbu bintang-bintang pada malam adalah cinta,..
dan menghirup udara kebebasan di puncak gunung-gunung
adalah rinduku selama ini...
semua telah tiba pada saat yang sama
pada saat yang tidak bisa kita lukiskan dalam cerita,..
hanya dalam angan-angan tentang rasa cinta
sekali lagi cinta bukanlah pada gadis-gadis pujaan hati,..
tapi juga pada awan-awan mendung,...
daun-daun berisik pada sore senja,..
dan matahari pagi di kala surya
mulai mengintip saat fajar menyapa,.....
..........................................................

Dan di atas sana, 
di tengah-tengah angin yang menderu-deru, 
di antara jurang yang berujung kelam, 
omong kosong kalau kau tidak bicara tentang Tuhan.
Kau akan menyadari seberapa kecil dan lemahnya dirimu 
di tengah hamparan alam semesta.
......................................................... 

 




-- Bie--

Jumat, 03 Oktober 2014

Kencan dengan perempuan lain



Setelah 21 tahun menikah, saya tiba-tiba menemukan cara baru dalam menyalakan api cinta kami. Demikian tulis seorang pria yang ingin berbagi pengalaman. Beberapa waktu lalu istri saya mengusulkan agar saya berkencan dengan seorang perempuan lain, besok malam.

"Kamu akan mencintainya, " kata istri saya.

"Apa-apaan sih," protes saya.

"Mengapa kamu tidak ikut?" 

"Itu acara kamu berdua dia," jawab istri. 

Perempuan yang dimaksudnya adalah ibu saya yang telah menjanda selama 19 tahun belakangan ini. Saya jarang menemuinya karena kesibukan kerja dan mengurus tiga anak kami.Malam itu saya telepon ibu, mengajaknya makan malam dan nonton film. Berdua saja.

"Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon. Ibu saya adalah tipe yang selalu curiga kalau menerima telepon ditengah malam atau undangan yang datangnya tiba-tiba. Bagi dia, itu pasti akan membawa berita buruk. 

"Saya pikir, pasti akan menyenangkan kalau kita sekali-sekali ke luar berdua saja," jawab saya. 

"Ibu mau sekali," jawabnya setelah terdiam beberapa lama. 

Aha, dia masih curiga. Besok malam, sepulang kantor saya ke rumah ibu.

Dia terlihat agak senewen tapi berdandan resmi sekali. Ibu jelas telah menata rambutnya di salon, dan dia memakai gaunnya yang terbaik. Gaun yang dipakai pada pesta ulang tahun perkawinan yang terakhir ketika ayah masih hidup. Ibu menyambut saya dengan senyum lebar. "Ibu bilang ke kawan-kawan tentang rencana kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu sekarang," kata ibu seraya masuk mobil. "Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya."

Kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasananya elegan, menyenangkan. Ibu menggandeng lengan saya ketika memasuki ruangan, persis seperti First Lady. Jalannya anggun. Saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya walau dengan kacamata tebal. Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti sejenak menengok ke ibu. Dia sedang memandangi saya dengan senyum kasih. 

"Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika kau masih kecil," katanya.

"Sekarang ibu santai saja. Giliran saya yang melayani ibu," jawab saya.

Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari. Tidak ada topik yang istimewa tapi obrolan mengalir saja sampai-sampai kami terlambat untuk menonton film. 

Saat mengantarnya pulang, di muka pintu ibu berkata, "Ibu mau pergi lagi dengan kamu, tapi lain kali ibu yang bayar." 

Saya setuju.

"Bagaimana kencanmu?" tanya istri saya di rumah. "Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga. Tadinya tidak tahu mau ngomong apa." 

Beberapa hari kemudian, ibu meninggal karena serangan jantung. Begitu tiba-tiba kejadiannya, saya tidak sempat berbuat apa-apa untuk menolongnya. Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari restoran tempat ibu dan saya makan malam. Surat itu dilampiri kopi tanda lunas. Ada selembar kertas diselipkan di situ, tertuliskan: 

"Ibu sudah bayar makan malam kita karena rasanya tak mungkin kita makan bersama lagi. Walaupun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua orang, barangkali untuk kau dan istrimu. Anakku, besar sekali arti undanganmu malam itu." 

Pada detik itulah saya mengerti apa pentingnya arti bahwa kita mengatakan kepada orang-orang yang kita sayangi mengenai perasaan kita itu. Tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup daripada Tuhan dan keluarga. Berikan waktu Anda untuk mereka, jangan sampai terlambat untuk mengatakan 'nanti'.



Sumber : 
diambil dari salah satu cerita dari buku yang berjudul “bukan untuk dibaca the most inspiring story.” Karya Deassy M. Destiani



        Teruntuk anak dan istriku tercinta. Berharap anakku akan melakukan hal yang sama terhadap bundanya kelak. Yang dengan sepenuh hati membesarkannya. Ingatlah saat bundamu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu. Ingatlah ketika jemari bundamu mengusap lembut kepalamu dan ingatlah ketika air mata menetes dari mata bundamu ketika ia melihatmu terbaring sakit. Mungkin sekarang masih terlalu dini untuk memberikan pesan ini kepadamu anakku. Tapi, nanti ketika engkau beranjak dewasa dan sudah memulai memiliki kehidupan sendiri. Pesan abimu janganlah engkau abaikan. 

     Maafkan aku ya Bun,...saat ini memang abi tidak banyak tahu bagaimana beratnya seorang ibu mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Abi berada jauh dan tidak bisa menemani bunda membesarkan "Imbrutt". Tapi percayalah, di tempat yang jauh ini, Abi tidak pernah lepas berdoa untuk kalian berdua. Abi berjanji akan segera kembali, berkumpul kembali dan membesarkan anak-anak kita bersama. Saat ini abi masih diberikan amanah oleh Allah untuk mengabdikan ilmu di tanah rantau ini. Abi masih harus memenuhi janji untuk mengabdi. Kuatlah disana untukku di sini. Selalu berdoa dan salam tercinta dari abi untuk anakku tercinta, dan untukmu sayangku.
 
 Istriku, memilikimu adalah hal terbaik yang pernah ku alami dalam hidup.