Selasa, 05 Juni 2012

,....Malam Cinta,...


Note :

Aku menenggelamkan diri dalam lamunan sejenak malam ini. Memandang langit hitam yang penuh dengan titik cahaya keindahan para bintang. Sementara bulan enggan menunjukkan sebagian wajahnya malam ini, tetapi cahayanya tetap dapat membuat hati yang gundah menjadi damai. 

Memandang ke atas, ke arah langit lepas bagaikan memandang cinta. Semuanya tampak indah. 

Aku duduk termenung di kursi lamunan rindu. Lalu membuka ruang-ruang pikiranku dalam relung hati yang mulai gundah akan masa depan. Begitu ruang ini terbuka, aku mulai takjub. Aku melihat pelangi menghiasi mimpi-mimpi kami beberapa waktu yang lampau. Warna-warna itu terlukis abstrak dalam kanvas kehidupan yang nyata. 

Aku juga mendengar ada gemericik air jatuh dari jurang harapan. Suaranya merdu, bagaikan dawai gitar yang dipetik pelan oleh jari manis cinta. Menyanyikan lagu kehidupan yang terjal seperti air kali yang menabrak batu-batu licin di tepi-tepi pantai.

"Pernahkah kau jatuh cinta kawan?". 

Aku ingin bercerita pada kawan-kawan kecil yang setia menungguiku. Mereka adalah kawan-kawan dalam imajinasiku.

Aku menegur tanganku yang menepis lambaian tangannya. Aku kecewa pada diriku senidiri karena telah membuatnya menangis. Perempuan ini tidak layak bersedih karena laki-laki. Hatiku terbawa aliran emosi yang semestinya tidak meng-ombang-ambing-kan dirinya. Saat melihat air matanya jatuh membasahi pipinya yang lugu, aku tahu telah melukai hatinya yang rapuh. Aku ini laki-laki yang tidak romantis, begitu katanya.

Aku terdiam sejenak, kemudian kembali menatap wajahnya yang basah akan air mata. Dia sama sekali tidak memandangku, mungkin dia sangat membenciku waktu itu. Aku adalah lelaki payah yang selalu membuatnya menangis.

Saat aku mendapatinya tergulai lemas tak berdaya. Aku sadar sesuatu telah terjadi hingga sejauh ini. Aku memapahnya dalam kegelisahan dan kekhawatiran. Aku hanya ingin ini segera berakhir. Melihatnya menangis saja membuatku bimbang, apalagi harus melihat dirinya tergulai tak berdaya karena aku. Aku harus akhiri perasaan bersalah ini dan segera melakukan sesuatu. Aku ingin merawatnya sebaik mungkin. Aku ingin menemaninya sampai dia terbangun. Saat itulah aku sadar, aku tidak ingin melihatnya menangis lagi. Aku mencintainya.

Itulah kawan, aku mencoba menuangkan semuanya dalam cerita. Aku menulisnya sambil memandang bintang dan bulan yang menampakkan sebagian wajahnya. Aku menulisnya karena rindu. Aku menulis kata-kata cinta untuknya, supaya dia tidak menangis lagi.

.................................
When I see you smile
I can face the world,
you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light,
I see it shining right through the rain 

...........................................................

Beginilah nasib penulis tanggung yang kehabisan kata-kata. Dia hanya menggerakkan pikirannya mengikuti hawa nafsu menulisnya. Membuang jauh-jauh batasan aturan tentang prosa liar tak beraturan. Sembari menggunakan majas-majas  lebay  dan intonasi yang kurang lucu. Kadang tak bermakna, tak tersirat ataupun  mendalam. Hanya untaian kata-kata.




---bie--

Kamis, 26 April 2012

Sajak Kerinduan


,................................
Hatiku mulai risau ditampar kerinduan yang dalam
jiwa ini pun mulai kehilangan keberanian seperti kala itu,...
aku berusaha menatap kembali semangatku yang menggebu,..
meraih cintaku pada asa di gunung-gunung mimpi
menghirup udara sejuk tanpa debu,..
aku merindukan derasnya aliran darahku ketika menggapai kabut dini hari
lalu menjejakkan kaki-kaki ini ke dalam jurang cinta yang dalam,..
menerobos hawa dingin
membasuh wajah ini dalam suka duka pendakian,..
kebersamaan dengan angin yang bertiup kencang,.
dan rumput basah malam hari,...


---bie---

Selasa, 03 April 2012

Palang Merah Indonesia

Ketika segala sesuatu berubah mejadi gelap seperti kabut yang turun perlahan demi perlahan di lembah kasih yang berduka, tidak ada lagi tawa dan canda yang bergermuruh, apalagi senyum anak-anak Desa yang meringis karena melihat pelangi. Lalu apa yang manusia harapkan dibalik jubah kesombongannya yang angkuh serta tangannya yang mengkilat karena jarang tersentuh debu. Ketika matahari masih menyapa seluruh alam, sementara awan mendung menghinggapi daerah-daerah bencana, apakah manusia sadar bahwa Kekuasaan tertinggi itu masih ada pada-Nya.

Lirik-lirk lagu seakan dapat menggantikan suasana haru, padahal yang terjadi adalah bumi ini murka karena alamnya dirusak oleh manusia-manusia tak beraturan dengan mengatasnamakan kebebasan. Puisi tak ubahnya hanya sebuah karangan simpati, namun tetap tak dapat mewakili kaki-kaki kusut para pejuang kehidupan di desa-desa terpencil. 

Angin terasa sangat dingin pada sore hari. Beruntunglah para manusia yang berselimut kejujuran dan kerendahan hati. Masihkah kita dapat  melihat senyum saudara sebumi??, Sementara rumah-rumah mereka hancur diterpa badai kebohongan. Tanaman padi-pun seakan enggan menguning, dan ikan-ikan di laut seraya lari meninggalkan nelayan. Para ikan berlindung dibalik ombak yang bergulung-gulung ditemani hujan. Sungguh sangat Menyedihkan.

Aku sedih melihat bangsa ini. Aku sedih melihat saudara-saudaraku di desa. Aku bayangkan satu hal yang pahit di kala mendung. Aku berangan akulah yang berada di posisi mereka, menahan hawa dingin dan rasa lapar sambil menanti pencari nafkah yang tidak kunjung datang.

Aku sedih melihat bencana demi bencana juga terus melanda. Apakah ini hukuman bagi manusia-manusia tidak bersyukur seperti kami?. Aku sadar bahwa inilah cobaan bagi bangsa yang besar ini. Dan aku yakin inilah yang diinginkan Tuhan, supaya para penguasa itu menelan ludah, merasa bergetar dan takut karena merekalah yang menyia-nyiakan bangsanya sendiri.

Sejenak aku berpikir tentang apa saja yang ada disekitarku. Aku berkutat dengan orang-orang yang menderita karena harus berbaring di ranjang pesakitan. Mereka harus bersabar dengan cobaan penyakit yang diderita. Setiap hari aku melihat bangsal-bangsal penuh dengan wajah-wajah murung nan rindu. mereka sangat merindukan suasana desa yang sejuk dan bau pasir tanah yang baru saja tersiram gerimis.

Aku hanya ingin merawat mereka dengan sepenuh hati, juga membuat mereka tersenyum.

Aku sendiri telah menjalani hari-hari yang keras selama ini. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga kuliah, aku harus berjuang dan selalu berjuang demi cita-cita. Seorang laki-laki tertua dari keluarga tanpa ayah sejak kecil yang tinggal dengan ummi terhebat dan satu adik laki-laki yang nakal. Maka, secara sederhana sebenarnya aku adalah harapan keluarga. Kehidupan yang keras ini pula-lah yang mengantarkanku bercita-cita menjadi dokter. Keterbatasan inilah yang membentuk idealisme pribadiku, bahwa kepentingan kemanusiaan merupakan prioritas dalam menjalani profesi ini.


Aku menegaskan pada diriku sendiri, bahwa kegiatan kemanusiaan yang saya jalani di luar Rumah Sakit tempat saya bekerja sama sekali tidak terpengaruh oleh Suku, Agama dan Ras apapun. Saya berusaha menolong setiap orang yang membutuhkan pertolongan saya tanpa terkecuali. 
 
Sebagai mahasiswa, dulu sebenaranya aku termasuk yang tidak terlalu suka dengan birokrasi. Organisasi-organisasi kampus yang kegiatannya hanya rapat, rapat dan rapat tanpa turun ke lapangan membuatku malas untuk bergabung di dalamnya. Sebenarnya kondisi pulalah yang membuat rasanya hidup ini lebih berguna untuk aku gunakan bekerja sambil kuliah daripada menghabiskan waktu untuk berorganisasi (Mahasiswa miskin). Dan siapa bilang, orang yang tidak berorganisasi tidak dapat bersosialisasi. Bekerja sebagai guru membuatku mengenal banyak orang. Aku mendapatkan penghasilan sekaligus dapat bertahan hidup di Surabaya.


Yaaa...Mahasiswa yang hidup dari beasiswa dan pekerjaannya sebagai guru les privat dan sempat menjadi penjaga warnet, itulah aku.


Tapi mungkin aku sendiri tidak menyadari bahwa kehidupan inilah yang membentuk karakterku sebagai dokter. Terbiasa menghadapi situasi yang sulit membuatku bisa sedikit bersabar dalam menghadapai suatu masalah.

Selain mahasiswa dan bekerja, aku adalah penggiat alam bebas. Aku menemukan bahwa inilah aku. Aku dan gunung-gunung. Aku sangat menyukai gunung-gunung sejak pendakian pertama-ku ke Gunung Argopuro di Probolinggo. Aku seperti menemukan jiwaku. Aku seperti menemukan bahwa inilah yang dapat melatih kesabaranku, inilah yang dapat membuatku bertahan. Filosofinya yang khas dan kepuasan tiada tara ketika kita berhasil menggapai puncak tertingginya. Kebersaman dan toleransi yang tidak ternilai dengan sesama manusia. Serta yang paling penting, kita diajarkan bagaimana bertahan hidup di tempat yang semuanya serba terbatas. Di Gunung orang akan menjadi manusia paling bersyukur karena dapat menikmati secara langsung keindahan dan kebesaran ciptaan-Nya.

Pengalaman inilah yang membuatku mantab dengan keputusanku untuk berpartisipasi dalam organisasi kemanusiaan. Aku ingin menyisihkan hidupku untuk berbagi. Aku ingin ikut dalam kegiatan-kegiatan sosial. paling tidak aku bisa membuat mereka tersenyum. Aku tidak punya uang tetapi paling tidak aku punya semangat kemanusiaan. Aku siap dikirim ke mana saja yang sedang tertimpa konflik atau bencana. Aku telah mendedikasikan diriku untuk kegiatan kemanusiaan.

Tetapi ada satu hal yang lebih penting yang ingin aku tegaskan. Aku tegaskan sekali lagi bahwa kegiatan kemanusiaanku tidak terkotak-kotak dalam satu organisasi dalam bentuk apapun. Aku seorang muslim, tapi kegiatan kemanusiaanku tidak pernah dipengaruhi oleh latar belakang Suku, Agama dan Ras apapun. Aku tidak fanantik pada satu organisasi.

Aku tegaskan bahwa meskipun aku terdaftar di satu atau lebih Organisasi Kemanusiaan, itu tidak lebih hanya sebagai jalan untuk menyalurkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang aku pegang. Dan agar orang tahu bahwa aku tidak hanya berjuang atas nama Organisasi tertentu tetapi murni berasal dari ideologi pribadi, maka aku memutuskan untuk kemudian bergabung dengan Palang Merah Indonesia.

Di sini pulalah aku bertemu dengan ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang mengerti betul apa artinya berbagi. Di sini pulalah aku paham bahwa uang bukan segalanya. Banyak relawan-relawan PMI yang mengorbankan waktu, tenaga, uang dan bahkan keluarganya hanya untuk tugas Kemanusiaan. Di sini pulalah aku sadar betul bahwa setiap orang bisa menjadi relawan kemanusiaan. Kita hanya butuh menyisihkan waktu untuk belajar, dan yang terpenting menyisihkan ego untuk mau berbagi pada yang lain. Kita hanya dituntut mau kawan. Mau berbagi. Mau bekerja dan terjun ke lapangan.



Beberapa kejadian yang sempat terdokumentasi :



Kebakaran di daerah karang anyar

Aku dengan dr. Diaz saat kebakaran.

Suasana tegang.

Team yang solid.

Dokter yang bertugas saat acara khitanan massal PMI di Bulak Banteng

dr. Aam, dr. Dodo, dr. Rani, dr. Arifta, dr. Zul, dr. Andri

Bersama perawat-perawat berdedikasi tinggi.

Demikian testimoni saya untuk PMI, Terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah berbagi ilmu, telah berbagi segalanya, telah menjadi teman dan team yang solid di setiap penugasan.


Saya Andri Subiantoro, dr. Anggota relawan TSR PMI cabang kota Surabaya.






--bie--



,..Dokter Internship,...

Aku sejenak berdiri mengelilingi sebuah batu-batu kecil,...
lalu berbalik memandang awan yang biru
menghadap ke atas
kepada burung-burung pembawa mimpi,..
Kemudian aku berterima kasih pada bintang yang memelukku erat,..
membawaku jauh ke dalam lubuk angan yang dalam,.
ke masa lalu dan mengingatkanku akan air mata,..
membolak-balikkan nada pikiranku tak beraturan
membuatku tersenyum pada cita-cita,..
Aku menyadari aku-lah masa lalu itu,..
dan aku pulalah masa depan ini,..
.................................................

                  Team lengkap Dokter Internship Kab. Ngawi


Akhirnya setelah berjuang selama 5 tahun untuk menyelesaikan pendidikan sebagai dokter umum, kami berhak mendapatkan gelar dokter di belakang nama kami. Aku sendiri akhirnya berhak menggunakan name tag yang bertuliskan "Andri Subiantoro, dr." . Suatu kebanggaan tersendiri, dan tentu saja ada rasa puas setelah perjuangan yang melelahkan.

Aku merasa beruntung karena diluluskan oleh salah satu pusat pendidikan kedokteran terbaik di Indonesia yaitu Universitas Airlangga. Kami dididik sebagai dokter yang tangguh dengan idealisme khas Airlangga, Skill yang mumpuni dan pengalaman mengerjakan kasus-kasus sulit. Di Surabaya pula aku mendapatkan ilmu yang luar biasa dari para senior, dan di sini pulalah aku diberi kesempatan untuk melatih diri dan skill sebagai seorang dokter. Smuanya begitu membuat aku sangat merindukan kampus hijau tercinta ini, dan tentu saja RSU Dr. Soetomo sebagai tempat pendidikan klinik kami. Ssecara khusus aku menyebut Rumah Sakit ini sebagai "University Of Life" karena banyak pengalaman hidup yang berharga di tempat ini. Banyak cerita senang, sedih, haru, air mata dan tawa bahagia bercampur menjadi satu. Aku sangat merindukan semua itu, dan saya ingin kembali ke sana.

Proses demi proses telah kami lalui, mulai dari pendidikan kedokteran, UKDI, Pelantikan dokter hingga akhirnya sampai juga kita pada jenjang Internship. Internship adalah satu program baru dari Depkes dan Dikti yang baru berjalan 2 tahun. Kami sendiri termasuk tahun ke-2 penyelenggaraan program ini. Program ini secara sederhana akan menempatkan dokter-dokter lulusan baru di daerah-daerah kabupaten untuk diperbantukan sekaligus dibimbing untuk kelak bisa menjadi dokter yang mandiri. Ini adalah program yang menyertai kurikulum baru Pendidikan Dokter di Indonesia dan baru beberapa Fakultas Kedokteran saja yang ditunjuk, termasuk FK UNAIR. Mengenai segala kontroversi dan pendapat-pendapat yang beredar, Aku tidak akan bahas di sini, Pusing. Hehehehe.

Setiap daerah mendapat jatah 14-15 Dokter Internship. Lulusan FK jawa Timur ditempatkan di Jawa Timur, kebetulan pada angkatan kami setahuku hanya Unair dan Unej yang sudah melaksanakan Program ini, sementara UNBRAW baru tahun depan 2013. Kami mendapat uang saku dari Dinkes setiap bulan sebesar 1,2 juta yang turun tiap 3 bulan sekali. Mau tidak mau kami harus menerima, meskipun banyak pula ide-ide pikiran yang mencoba membantah ini.

Aku sendiri ditempatkan di Ngawi, hasil dari undian dan lobi-lobi di Dinkes. Bersama 14 teman lainnya, saya mulai menjalani Internship di kabupaten Ngawi ini dengan harapan dapat membawa bekal yang berharga sepulang kami dari Internship. Pembagian dokter terdiri dari 5 orang ditempatkan di Poliklinik RSUD Dr. Soeroto Ngawi, 5 orang di IGD dan sisanya di Puskesmas Ngrambe. Siklus berputar tiap 4 bulan. Aku sendiri mulai menjalani tugas di Poliklinik bersama Miftah, Angga, Dinda dan Dian. Sementara Sony, Hendri, Citra, Dwi dan Khoti bertugas di Puskesmas Ngrambe. Nadhir, Sylva, Dimas, Bimo dan Karina bertugas di IGD dengan pembagian 3 shift jaga tiap harinya.

Yah, suka tidak suka, Internship harus tetap kami jalani dengan ikhlas. Paling tidak kami mendapatkan pengalaman baru dan teman-teman baru. Beberapa hal yang mungkin mengganjal dalam hati, aku simpan dan akan aku diskusikan nanti.

Beberapa kejadian yang berhasil terdokumentasikan :

 
           Andri Subiantoro, dr.

Saat pelantikan Dokter, bangga dapat membahagiakan orang tua dan keluarga, tapi akua berjanji tidak akan berhenti sampai di sini. Selama tubuh ini masih mampu, maka sama seperti filosofi pendakianku, maka aku akan tetap menuntut ilmu sampai terbukti tidak mampu lagi.


Bersama sahabat-sahabat terbaik. Aku, Munsy, Nadhir, Miftah dan Angga.


Foto-foto saat di RSUD Dr. Soeroto Ngawi :

Setelah presentasi kasus yang menegangkan. Bersama dua pembimbing kami dr. Amin dan dr. Dilla.






















Kami di Ngawi mempunyai kewajiban untuk melaporkan presentasi kasus beserta portofolio secara rutin setiap minggu. Minimal dua kasus yang menarik harus kami presentasikan di hadapan dokter-dokter sejawat dan para Ko-ass serta para staff dokter di RSUD Dr. Soeroto Ngawi ini. Menurut saya, pertemuan ilmiah ini cukup penting untuk sebagai media berbagi ilmu dan sekaligus update ilmu terbaru, juga sebagai media pembelajaran bagi Teman-teman Koass dari FK UII. Kebetulan di Ngawi ini kami bekerja dengan Ko-Ass dari FK UII. Selain itu, Aku merasa ini juga bisa sebagai masukan untuk RSUD Dr. Soeroto agar dapat lebih meningkatkan lagi mutu pelayanan terhadap masyarakat baik di Poli maupun UGD.

Yang lain :

Dokter laki-laki Internship Ngawi.



Teman-teman satu kontrakan di Perumahan Prandon.

Foto-foto acara HUT PPNI Kab. Ngawi :

Futsal Team Dokter bersama dr.Puji direktur RSUD dan dr. Bambang, Sp.An.

Team Futsal Prandon.

Inilah sedikit catatan tentang kegiatan Dokter Internship di Ngawi. Nanti kita akan bahas apa saja yang menjadi perhatian dan uneg-uneg kami sebagai dokter Internship.



--Terima kasih--



Kamis, 05 Januari 2012

Catatan Pendakian Gunung Semeru (3676 m dpl)


,..............................................................................
Kami ingin menikmati akhir tahun ini bersama kabut tipis
yang turun menelusuri lembah kasih "Ranu Kumbolo",...
Menapaki "Tanjakan Cinta",...
dan merebahkan sejenak rasa lelah ini di hamparan luas "Oro-Oro Ombo",..
merenungi bekas aliran lahar di "Kalimati"
menyampaikan salam keagungan pada jurang-jurang di sekitar "Arcopodo"
hingga akhirnya kami berharap dapat menyapa surya di balik "Mahameru"
yang selalu bergemuruh,...
.....................................


.......................................................................................
...........................................................................................
Aku tegaskan sekali lagi pada diriku sendiri dan teman-temanku, bahwa selama kaki-kaki kusutku ini masih mampu berjalan dan berjalan menapaki indahnya jalan setapak menuju gunung-gunung nan indah dan puncaknya yang agung, "Aku akan tetap mendaki gunung.". Inilah yang aku tegaskan pada diriku sendiri ketika ada kesempatan untuk mendaki Gunung Semeru akhir tahun ini. Aku sudah mendaki bebrapa gunung dan hanya semeru saja yang belum, Selalu saja ada kendala ketika ada ajakan untuk mendaki semeru pada waktu-waktu yang lalu. Kini, setelah aku lulus dokter, aku tidak akan sia-siakan momen berharga ini untuk kembali mendaki gunung. Aku dedikasikan pendakian ini untuk Ummiku tercinta yang telah menemani dan senantiasa mendoakan aku selama studi kedokteranku. Juga untuk teman-teman seperjuanganku di Pendidikan Dokter angkatan 2006 Unair.

Aku mengumpulkan sahabat-sahabat gunungku dari beberapa tempat. Kebetulan aku baru saja berkenalan dengan salah satu teman dari Malang bernama Anggi. Ternyata Anggi ini sudah pernah naik ke Semeru dan aku menawarinya untuk ikut rombongan kami. Dia setuju, dan ditetapkan tanggal 24-27 Desember kita akan menghabiskan akhir tahun ini di Gunung Semeru. Sekarang tugasku adalah menghubungi teman-teman yang lain. Dari Surabaya aku mengajak Kholis temanku satu angkatan di Kedokteran yang suka naik gunung. Kemudian ada Klepek (Rezha) dan Lukman, teman SMA yang sama-sama menggilai gunung, dan kebetulan kami merencanakan untuk ber-reuni lagi setelah satu tahun lebih tidak mendaki bersama. Terakhir kami mendaki gunung Arjuno.

Rombongan lain yang berencana untuk ikut dalam pendakian kali ini adalah rombongan dari Bojonegoro. Mereka terdiri dari Sha (Santi), Dina, Arie, Mbak Naning dan Mbak Lita. Sha dan Dina adalah teman satu SMA dulu di Bojonegoro, sedangkan Arie adalah om-nya Dina. Sementara mbak Naning dan Mbak Lita adalah sejawat guru dari SMT Bojonegoro. Oke, lima orang dari Bojonegoro siap menghabiskan akhir tahun di Semeru.

Selain teman-teman yang telah disebutkan di atas, tidak lupa aku juga mengundang sahabat gunungku dari Malang. mereka adalah Fawait dan Mas Joko. Nanti kita akan bahas Fawait yang menemukan sesuatu di "Tanjakan Cinta", sebuah cerita indah. Sedangkan Mas Joko ternyata dia mengajak temannya, Bang Arif. Ada satu lagi bang Khilmi, teman sejawat guru dari kawasan Bromo yang ternyata dia langsung menuju Ranupane. Sehingga total jumlah rombongan pada Pendakian Semeru kali ini adalah 14 orang. Cukup banyak dan tentu saja akan menyenangkan.

Aku, Klepek, Kholis dan Lukman berangkat dari Surabaya hari Sabtu, tanggal 24 Desember 2011. Dari Kos kita berangkat naik motor menuju Bungurasih untuk kemudian menuju Terminal Arjosari di Malang. Sebelumnya kita sepakat untuk kumpul semua di Terminal Arjosari sebelum akhirnya semua berangkat naik angkot carteran menuju Tumpang. Sha dan temen-temen sudah berangkat sehari sebelumnya supaya bisa istirahat terlebih dahulu. Sabtu itu mereka pun juga sudah menunggu kami di Terminal Arjosari. Selain mereka, Anggi dan Bos Joko juga sudah menunggu kami siang itu di Arjosari. Fawait berangkat langsung dari Probolinggo dan lebih dulu sampai di Arjosari. Tinggal kami rombongan dari Surabaya yang belum datang karena suatu hal. (: Ngguyu dewe aku nek eling....hahaha.)

Rencana awal untuk berangkat pagi dari Surabaya harus molor karena sepulang dari jaga Klinik, ternyata ban motorku pecah dan harus diganti. Belum lagi ketika kita naik bus, ternyata mogok dan harus di oper ke bus lain ( : Haduuuuuh). Terpaksa berdiri di bus, apalagi jalanan macet didaerah Porong. Sebenarnya saat itu aku mulai berpikir, "Ada apa dengan pendakian kali ini ??". koq dari awal kami sudah dihadapkan cobaan yang bertubi-tubi seperti ini. Tapi dengan menyebut nama Allah, aku niatkan dalam hati pendakian ini, Bismillah-lah mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada rombongan ini. Amiiiiin.

Akhirnya kita baru sampai Malang sekitar jam satu siang, dimana teman-teman yang lain sudah menunggu di sini semua. Ternyata memang hanya kita yang belum datang. Setelah sholat-sholat dulu dan ngobrol sebentar, kami memutuskan untuk ambil Angkot Carteran untuk mengantarkan kita ke Desa Tumpang. Di sana kita akan lanjut ke Ranupane dengan jeep. Untuk biaya angkot, seingatku kami harus mengeluarkan uang Rp. 6000,- per anak. Cukup murahlah.

Rombongan lengkap, sedang akan naik angkot menuju desa Tumpang.

Dalam perjalanan menuju Desa Tumpang, kita saling bercerita satu sama lain, berbagi pengalaman, bercanda dan saling mengejek. Lumayan seru, menjalin keakraban sebelum berada di Gunung. Perjalanan dari Terminal Arjosari menuju Desa Tumpang kira-kira ditempuh dalam waktu satu setengah jam dengan kecepatan sedang. Di Desa Tumpang kita berencana untuk membeli logistik dan sekaligus membaginya supaya sama rata beban yang dibawa di carrier masing-masing. Di sini pulalah kami juga melengkapi administrasi kami berupa fotocopy KTP dan surat keterangan sehat. Ada dua teman kami tidak membawa identitas, sehingga terpaksa aku dan Klepek harus mencarikan fotocopy KTP pengganti untuk mereka berdua di toko fotocopy-an. akhirnya nemu yang pantes-lah untuk mereka. Fotocopy KTP kelahiran 1988 dan 1982. Sebenarnya ada yang kelahiran 1965 tapi aku koq ga tega. Hahahaha.


 Salah satu jeep yang ada di Tumpang

 Tempat dimana kita fotocopy KTP dan Surat Sehat


 Nampak Arie, Bu Naning dan Dina. Kondisi sesaat sebelum kita naik Jeep.
Di sini dilakukan pembagian logistik.


Setelah semua sudah di Packing ulang, Logistik sudah dibagi. 
Kami bersiap menuju Ranupane dengan jeep ini. 

Nampaknya kita harus berterimakasih kepada pemilik rumah yang kita singgahi di Tumpang. Rumah ini adalah rumah salah satu teman dari Mas Joko. Ibunya baik sekali memberikan kami minuman manis dan hangat serta beberapa buah. Kami juga menitipkan beberapa barang yang kami anggap tidak perlu untuk kami bawa. Kami juga tidak lupa mengucapkan terimakasih sekaligus mohon doa untuk keselamatan kami dalam pendakian gunung Semeru ini.

Sebenarnya bulan Desember bukanlah waktu yang baik untuk pendakian karena musim penghujan. Cuaca sering berubah tidak menentu. Seperti sore itu, sebenarnya mendung sudah menggelayuti kami, seakan memberikan sambutan hangat pada para pendaki Semeru akhir tahun. Akhirnya kami semua naik jeep dan bersiap berangkat ke Ranupane. Seperti yang telah diduga sebelumnya, hujan turun dengan saat derasnya sehingga kami harus menggunakan ponco, dan menutupi rombongan kami dengan terpal.

Perjalanan menuju Ranupane pun cukup mendebarkan karena selain hujan, kami harus melewati jalanan menanjak dengan aspal yang rusak. Belum lagi jika kami harus berpapasan dengan mobil lain, salah satu dari mobil harus mengalah untuk mempersilahkan mobil lain jalan terlebih dahulu. Ditambah samping kiri kanan jalan yang berupa jurang-jurang dalam, yang sebenarnya sangat indah jika kita bisa menikmatinya saat cuaca cerah. Berdoalah sebanyak-banyaknya saat kita naik Jeep. Itu aja pesen dari kami.

Perjalanan dari Desa Tumpang ke Ranupane kami tempuh dengan Jeep dalam suasana hujan yang deras dan jalan yang hancur. Kami tiba di Ranupane sekitar jam 6 sore, tepat memasuki waktu maghrib. Total perjalanan dari Tumpang kira-kira 2 jam. Ranupane adalah desa terakhir sekaligus sebagai check point terkahir sebelum kita melakukan pendakian ke gunung Semeru. Di sini pula kita harus mengurus perijinan untuk melakukan pendakian. Surat-surat yang dibutuhkan diantaranya adalah surat kesehatan dari dokter dan fotocopy KTP 2 lembar.

Sampai di Ranupane sekitar jam 6 sore, dengan cuaca masih tetap tidak bersahabat. Gerimis terus menemani kami malam itu, sehingga kami putuskan untuk tidak memulai pendakian pada malam itu. Kami menghabiskan malam di sebuah warung makan yang ada di sekitar Ranupane, Menyeruput kopi dan wedang jahe sambil menyantap kare ayam dengan nasi hangat.

Rutinitas para pendaki gunung tidaklah jauh dari bercanda-canda dan berkenalan dengan rombongan lain.  Kegiatan ini merupakan hal yang wajar ketika kita di gunung. Sambil menghangatkan tubuh di atas perapian yang ada di warung, kami berkenalan dengan rombongan lain juga bercerita tentang pengalaman pendakian masing-masing orang selama ini, Seru.

Hari menjelang malam dan kami semua sudah didera rasa kantuk yang luar biasa. Aku bahkan belum sempat istirahat karena sehari sebelumnya harus jaga klinik 24 jam. Kami putuskan untuk istirahat di sebuah pondokan dan beristirahat di sana, termasuk rombongan cewek. Sebagian mendirikan tenda di dalam pondokan. Aku menyarankan untuk selalu membawa sleeping bag dalam kegiatan alam bebas seperti ini. Malam ini kami menghabiskan malam dengan istirahat dan tidur dengan harapan dapat memulai pendakian esok hari dengan ceria.


Pos Pendakian Ranupane pagi hari.

Rombongan lengkap : Sesaat sebelum memulai pendakian.


Istirahat tadi malam aku anggap cukup. Perijinan telah kami selesaikan kemarin dan kini tinggal menyiapkan mental dan fisik untuk menggapai Mahameru. Setelah semua bangun dan sibuk dengan urusan pribadi masing-masing, kami mengemasi barang-barang dan sedikit berolahraga. Tidak lupa mengambil beberapa gambar dan kami pun siap untuk memulai pendakian ceria ini.

Kami adalah rombongan ke-sekian yang mendaki Semeru akhir tahun ini. Saat aku mengurus pendakian kemarin, aku menuliskan namaku di urutan ke -186,..woow, berarti ada banyak orang di atas sana. Oleh karena itulah aku sebut pendakian ini sebagai pendakian ceria. Akhir tahun memang sering dijadikan ajang pendakian oleh para pecinta alam. Terutama di Semeru ini, selain untuk merayakan pergantian tahun, ada juga yang mendaki Semeru untuk mengenang kepergian legenda Semeru yang terkenal Soe Hok Gie. Kebetulan Gie meninggal tepat satu hari sebelum hari ulang tahunnya yaitu pada 26 Desember. Sehingga tidak mengherankan jika bulan Desember menjadi ajang pendakian gunung terutama di Semeru.


 Pemandangan di Desa Ranupane


Beristirahat di Pos pertama : 


Kami menikmati setiap langkah perjalanan kami. Kami adalah pecinta keindahan alam dan penikmat udara sejuk. Ada beberapa dari rombongan kami yang memang belum pernah sama sekali mendaki gunung,  terutama rombongan cewek, kecuali Anggi. Sehingga kami harus sesekali beristirahat karena mereka tentu butuh penyesuaian. Menurutku jalan setapak menuju Ranu kumbolo cukup landai dan jarang ada tanjakan sehingga cukup memudahkan kami. Jarak tempuhnya memang panjang namun kami menikmati setiap langkah kaki kami. Kami menghabiskan waktu dengan bernyanyi dan bercanda satu sama lain. Jika satu orang merasakan lelah maka kami putuskan untuk istirahat.

Bagiku mencapai tempat tujuan bersama lebih menyenangkan daripada berlomba-lomba mencapai tujuan. Target kami hari ke-dua ini adalah sampai di Ranu Kumbolo sebelum hujan, dan menginap semalam di sana. Ranu kumbolo adalah sebuah danau yang konon katanya sangat indah, sehingga kami pikir rasanya sayang sekali jika melewatkannya begitu saja tanpa menginap di sana.

Setelah berjalan beberapa waktu dan sempat beristirahat di pos-pos kecil sejenak akhirnya kami sampai di Ranukumbolo yang sangat indah tersebut, Aku yang belum pernah ke sini pun takjub memandang danau biru yang masih tampak dari kejauhan ini. Bahkan teman-teman yang pernah ke sini pun,  juga tidak mengurangi sedikitpun kekagumannya terhadap "Ranu" yang satu ini. Total perjalanan kurang lebih 5 jam dengan istirahat.


Saat beristirahat di Pos ke-dua.


Maho detected : Antara Rezha dan Bang Khilmi,..

Sesaat sebelum sampai di Ranu Kumbolo,...lihat keindahannya..!!

Kami sampai di Ranu Kumbolo sekitar jam satu siang. Cuaca agak mendung dan berangin, tetapi tidak mengurangi kekaguman kami saat pertama kali menghirup hawa sejuk disekitar Ranu Kumbolo. Kami terpana akan keindahannya dan bahkan kami tidak ingat bahwa seharusnya kami harus segera mendirikan tenda karena cuaca mulai tidak bersahabat.


Pemandangan di sekitar Ranu Kumbolo. Saya tidak tahu ini namanya apa, tetapi kami melewati lembah ini sebelum mencapai tempat camp Ranu Kumbolo.


Tepat jam dua siang langit di pegunungan Semeru seakan menitikkan air mata menyambut kedatangan tamu-tamunya dari bebrbagai daerah. Hujan turun cukup lebat, dan apa yang kami takutkan terjadi. Rombongan belum mempersiapkan tenda. Akhirnya rombongan yang cowok mempersiapkan tenda yang ada dengan seadanya. Kesalahan kami ini harus kami bayar karena rupanya hanya satu tenda saja yang cukup bagus bisa menahan air hujan. Yang lain?? Payah,....!!

Kesalahan kami yang lain adalah, kami salah mengambil tempat untuk ground tenda. Kami mengambil tempat di kemiringan yang sudah jelas akan teraliri oleh air hujan dari atas. Lagipula kami juga tidak membuat parit, sehingga air pun dengan leluasa menelusup ke bawah tenda kami. Dan pada akhirnya merembes ke dalam tenda. Satu lagi kekacauan timbul karena kami asal memasukkan carrier ke dalam tenda sehingga tas-tas yang berisi logistik tidak tahu terkumpul di tenda sebelah mana. 

Menarik karena ternyata hujan turun sepanjang malam, hingga kami harus saling berangkulan dan terpaksa "curhat" satu sama lain untuk membunuh rasa bosan dan menahan hawa dingin. Satu yang menjadi pikiranku adalah, Bagaimanakah nasib para kaum hawa di sebelah sana??...apakah mereka akan bertahan di malam yang dingin ini?? atau kecewa karena pendakian ini tidak seperti yang mereka bayangkan??...atau mereka akan berterimakasih karena mendapat pengalaman berharga, pengalaman nyaris terbunuh oleh hawa dingin Ranu Kumbolo??,..aku sendiri tidak tahu...

Aku memutuskan untuk menengok para kaum hawa di satu-satunya tenda yang dapat menahan air hujan. Aku terkejut karena mereka semua baik-baik saja dan tidak menyesal akan pendakian ini. Namun satu yang mengkhawatirkan kami justru datang dari persediaan logistik kami yang tidak tahu entah di tenda sebelah mana. Kami kelaparan, sampai akhirnya kami menemukan tas-tas berisi logistik yang telah basah terguyur air hujan. Tak apalah yang penting bisa dimakan. Menu malam ini adalah mie goreng (lagi),..khas gunung,...hahahaha,..!!

Rombongan terpisah karena hujan. Kami melewati sore hingga malam dengan basah kuyup dan kedinginan. Kami menikmati Ranu Kumbolo diiringi dengan hujan. Semua rombongan cewek berada di tenda paling aman yang kita punya. Rezha dan bang Khilmi berada dalam satu tenda, dengan kondisi Rezha (Klepek) yang juga sekarat karena nekat berenang di Ranu Kumbolo sorenya. Aku sendiri menghabiskan malam dengan Lukman, Arie dan Fawait di satu tenda yang sempit. Sementara Kholis menikmati tendanya sendirian. Aku sendiri memutuskan untuk pindah tidur ke tendanya Kholis karena tendaku terlalu sempit. Bang Joko sama Bang Arief tidur di rumah-rumahan bareng rombongan lain. Habislah malam ini kami selesaikan dengan tubuh yang menggigil kedinginan serta sedikit agak lapar.

Kami tidak dapat menikmati Ranu Kumbolo hari ini karena cuaca tidak bersahabat. Kami tidur dengan menahan hawa dingin dan rasa lapar. Tetapi rasa itu terbayar sudah ketika esok paginya fajar menyapa kami saat muncul dibelahan lembah kasih Ranu Kumbolo. Indah sekali teman.

Oleh-oleh dari ranu Kumbolo :


 Memandang jauh Ranu Kumbolo


 Boyband KeyPunk,....!!hahahaha


 Yoga di Ranu Kumbolo. Dengan instrukturnya Dina Maya,...

Kholis. Di Ranu Kumbolo saat subuh,...

Setelah menikmati keindahan Ranu Kumbolo saat cuaca cerah, kami rombongan cowok berencana melanjutkan perjalanan menuju puncak Mahameru. Target kita hari ini adalah mencapai kalimati sebelum hujan turun. Lalu Summit mulai jam 12 malam dengan harapan sampai puncak jam 6 pagi. Kami kumpulkan semua logistik yang tersisa. Kami pisahkan mana logistik yang kami bawa dan mana logistik yang akan dibawa oleh rombongan cewek. Rombongan cewek kecuali Anggi menginap di Ranukumbolo dan telah kita buatkan tenda di rerumahan sehingga jelas aman dari hujan dan badai. 

Aku sendiri cukup semangat karena kami akan menggapai puncak tertinggi di Pulau Jawa ini. Jam dua siang kami putuskan untuk berangkat dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati. Sebelumnya kami harus melewati sebuah tanjakan legendaris. Tanjakan cinta. Tanjakan yang sangat terkenal dikalangan pendaki gunung Semeru.

 Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta


Tanjakan Cinta,...

Kami melewati tanjakan cinta untuk kemudian melewati Padang oro-oro Ombo. Karena musim hujan, oro-oro ombo sedang ditumbuhi bunga-bunga yang indah. Indah sekali. Perjalanan menuju kalimati juga tidak terlalu menanjak, kami hanya beristirahat 2 kali selebihnya terus berjalan dan berjalan menapaki hutan-hutan. Kami sampai di kalimati sore sekitar jam 5. Kurang lebih perjalanan memakan waktu 3 jam. Cukup cepat dari perkiraan awal 4 jam. Di Kalimati kami segera mendirikan tenda. Dan tepat karena beberapa saat setelah kami mendirikan tenda hujan mulai turun. Cuaca kembali sangat tidak bersahabat. Kami harap-harap cemas, apakah kami bisa mendaki puncak malam nanti, sementara cuaca sore ini hujan lebat dan sangat berkabut. Cuaca yang sangat membahayakan untuk pendakian. Apalagi untuk gunung sekelas Gunung Semeru yang sering memakan korban.

 Pos Pendakian Kalimati. Dengan kabut yang menyelimutinya.


 Sampai di camp Kalimati dan mendirikan tenda. 


 Istirahat di Pohon runtuh. Menuju Kalimati


Indahnya padang oro-oro Ombo.


Benar kawan, karena hujan tidak semakin reda tetapi bertambah menjadi badai. Hujan semakin lebat dan anginpun semakin ribut. Kabut juga semakin tebal dan kami merasa bahwa hawa di Kalimati ini semakin dingin. Kami terus saling bercanda untuk membunuh waktu dan menantikan apakah hujan akan mereda nanti malam. Kami sempatkan untuk tidur dulu sebelum menyambut puncak nanti malam (Harapan kami). Untuk camp yang di Kalimati kami sudah cukup siap menanggulangi masalah hujan. Kami buat parit disekitar tenda kami sehingga air tidak melewati sela-sela bawah tenda kami. 

Oke, waktu menunjukkan jam 12 malam dan tidak ada tanda-tanda hujan akan mereda. Kami bingung akankah memilih tetap muncak atau tinggal di Kalimati sementara cuaca seperti ini. Aku kisahkan disini kawan, bahwa mungkin kata-kataku tidak mewakili apa yang terjadi saat itu. Cukup mengerikan. Aku sendiri sedikit tidak yakin dengan keputusan kami waktu itu. 

Kami semua di Kalimati ada sekitar 30 orang dari berbagai penjuru Indonesia. Ada yang sepakat untuk tetap tinggal di Kalimati daripada mati konyol di Puncak Mahameru, namun ada pula yang bersih kukuh untuk tetap menggapai puncak karena sedikit lagi kita sampai di puncak. Dan sayangnya rombongan kami adalah salah satu yang tetap bersih kukuh untuk menggapai Mahameru malam itu juga. 

Oke kita berangkat,...!! Dengan cuaca seperti ini kita putuskan untuk berangkat menuju Mahameru. Aku hitung kira-kira ada 25 orang yang sepakat untuk menuju Mahameru dengan cuaca seperti ini. (Aku katakan ini sudah termasuk badai). Jarak pandang kita hanya 2 meter dan hanya bisa terlihat dengan lampu sorot kepala. Senter-senter yang kita bawa berguna tetapi tidak signifikan. Kami semua berkumpul di lapangan sebelum akhirnya berangkat menuju Mahameru. (Dalam kondisi badai). Herannya, di antara rombongan kami tidak sedikit yang berjenis kelamin perempuan. Luar biasa anak-anak ini pikirku. Ini adalah pengalaman kesekian kalinya aku mendaki gunung dan diterjang badai. Wuiiih.

Kami atur strategi bahwa yang berada di depan adalah orang yang sudah pernah menuju puncak Mahameru dan memiliki lampu sorot di kepala. Jarak kami atur tidak boleh terlalu jauh. Kami gunakan pakaian setebal mungkin dan bagian paling luar adalah jas hujan. Aku sendiri menggunakan pakaian 5 lapis. Kami selang seling antara yang bawa senter dan yang tidak. Kesalahanku juga adalah aku tidak membawa senter sehingga aku benar-benar mengandalkan teman di depanku. 

Kami berjalan di jalan setapak melewati hutan terakhir sebelum perbatasan vegetasi dan punggungan pasir. Jalannnya sempit disertai hujan lebat sehingga kami seperti berjalan melewati air terjun dan sungai-sungai kecil. Berat kawan, tapi kami terus berharap hujan akan segera reda sementara kami terus berjalan. Kami istirahat sebentar di Arcopodo, ada beberapa camp yang sudah tidak ada orangnya, mungkin juga ikut naik ke puncak. Sejenak aku berpikir dan merasa heran tentang kondisi waktu itu. Mungkin karena banyaknya orang waktu itu sehingga aku tidak berpikir untuk kembali ke Kalimati. Hujan semakin lebat tetapi tekad kami juga semakin kuat. Kami harus sampai Mahameru pagi ini. Kami lanjutkan perjalanan menyusuri jurang-jurang disekitar Arcopodo, Gelap dan terpelest sedikit saja maka nyawa sudah pasti melayang. Kami saling berpegangan tangan dan saling memberi komando. Menegangkan tetapi juga meyenangkan. 

Cuaca badai seperti ini sangat tidak dianjurkan untuk melakukan pendakian, dan apabila orang Ranupane tahu kami nekad untuk mendaki Mahameru padahal sudah dilarang, pasti kita kena marah. Setelah berjalan sekian lama akhirnya kami sampai di perbatasan vegetasi  dan pasir punggungan Mahameru. Gelap dan jarak pandang masih 1 meter. Kami tidak bisa mengeluarkan kamera untuk dokumentasi karena hujan terlalu lebat. Kami putuskan untuk berjalan lagi lebih ke atas. Sekali lagi sambil berharap hujan akan reda dan kita bisa melihat Mahameru pada pagi harinya.

Namun harapan kami tidak terwujud kawan. Setelah berjalan beberapa waktu di punggungan pasir, kami melihat rombongan yang telah lebih dulu berangkat, turun lagi. Mereka memberi pesan kepada kita yang di bawah untuk segera turun karena cuaca sangat jelek dan tidak mungkin untuk dipaksakan. Jarak pandang sempit, cuaca berkabut disertai hujan deras sangat memnungkinan untuk merubah orientasi arah kita, dan itu berarti resiko terjadinya "Sesuatu" juga semiakin besar. Mendengar peringatan ini rombongan mulai bingung, apakah melanjutkan perjalanan atau kembali turun. Kami sempat terdiam lama dan rapat sejenak di kemiringin hampir 60 derajat sambil diterjang badai. Kami tidak sadar jika kami melakukan kesalahan besar karena dengan berdiam diri itu berarti membiarkan tubuh kita terserang hipotermi. Suatu kondisi yang sangat kami takuti.

Akhirnya kami putuskan unautk segera bergerak supaya tidak kedinginan dan rombongan sepakat untuk turun kembali ke Kalimati. Perjalanan turun pun tidak semudah yang kami bayangkan karena tubuh ini sudah terlanjur sangat kedinginan. Aku sendiri sudah tidak bisa menggerakkan tangan-tanganku, Semua jari-jariku kaku dan yang ada dipiranku hanyalah, aku ingin segera turun ke Kalimati dan membuat perapian. Tanganku juga nyaris tidak bisa merasakan apa-apa (Kalau kalian bayangkan, jika digerakkan jusru terasa nyeri). 

Saat berhenti di Arcopodo. Di terjang badai kawan.


Kami harus terpeleset dan jatuh bangun berulang kali menyusuri jalan setapak yang kami lalui pada waktu berangkat. Semua jalur sudah tertutup air seperti sungai yang mengalir. tubuh kawan-kawan kami juga mulai kaku kedinginan. Kami juga harus bersabar karena kami mendahulukan perempuan untuk turun terlebih dahulu. Tapi karena aku sudah tidak kuat lagi menahan hawa dingin ini, aku putuskan untuk berpisah dari rombongan dan berlari untuk segera mencapai Kalimati. 

Aku beristighfar berkali-kali pada Allah mohon keselamatan dan ampunan atas semuanya selama ini. Aku terus berdoa supaya aku tidak kehilangan tangan karena frost bite (pikirku waktu itu). Aku terus berlari dan berlari, hingga hujan mulai berhenti dan aku melihat surya mulai memancarkan sinarnya. Aku sampai di Kalimati sekitar jam 6 pagi tepat hujan baru mulai reda. Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah SWT, pemegang sah kehidupan kami. Aku langsung melepaskan semua pakaianku dan membungkus tubuhku dengan sleeping bag. Aku tidur sejenak dan sampai matahari menampakkan sinarnya.

Aku baru sadar, bahwa tadi malam kami baru saja melakukan tindakan yang sangat berani dan ceroboh. Kami tahu cuaca tidak mendukung tapi kami nekad untuk terus mendaki. Beruntung kami masih diberi keselamatan hidup oleh Allah Tuhan Semesta Alam. Kami bersyukur kami masih bisa pulang menemui teman-teman terbaik kami dan keluarga kami. Kami juga bersyukur mendapat pengalaman berharga menantang badai di puncak tertinggi Pulau Jawa. 

Kami bertekad akan kembali lagi suatu saat nanti, ke Puncak Mahameru,...

 Perjalanan ke Ranu Kumbolo dari Kalimati setelah diterjang badai. Kami sempatkan untuk mengambil gambar di taman bunga Matahari. Kami menikmati hamparan luas padang Oro-oro Ombo.


Demikianlah catatan perjalanan kami di Gunung Semeru. Meskipun kami gagal dmenuju puncak tapi kami tetap merasa senang karena banyak manfaat yang kami dapatkan di sini. Kami telah berjanji dalam hati akan kembali lagi ke sini ke Semeru gunung sejuta dewa. Kami ingin sekali mebgibarkan Merah Putih di puncak tertinggi tanah Jawa. Sesekali menjadi orang tertinggi di Pulau Jawa. Terima kasih.







--Bie--

Jumat, 30 Desember 2011

Tentang cita-cita dan sebuah cerita dari Gunung para Dewa ,..


,..............................................................................
Kami ingin menikmati akhir tahun ini bersama kabut tipis
yang turun menelusuri lembah kasih "Ranu Kumbolo",...
Menapaki "Tanjakan Cinta",...
dan merebahkan sejenak rasa lelah ini di hamparan luas "Oro-Oro Ombo",..
merenungi bekas aliran lahar di "Kalimati"
menyampaikan salam keagungan pada jurang-jurang di sekitar "Arcopodo"
hingga akhirnya kami berharap dapat menyapa surya di balik "Mahameru"
yang selalu bergemuruh,...
.....................................


Kerinduan itu pun akhirnya terbayar sudah, setelah cita-cita menjejakkan kaki di gunung tertinggi Pulau Jawa terpenuhi minggu lalu (Tanggal 24-27 Desember). Rasanya seperti reuni, karena beberapa teman yang ikut pendakian kali ini adalah teman-teman seperjuangan di gunung Arjuno satu tahun lalu. Lebih istimewa lagi karena pada pendakian kali ini, calon Istriku ikut bersama teman-teman gurunya.

Memang kebahagiaan ini belum terasa lengkap karena kami gagal menggapai Mahameru dikarenakan badai dan cuaca yang sangat buruk di puncak. Tetapi tak apalah, karena kami telah berjanji kepada Mahameru dan Jonggring Saloka untuk kembali lagi suatu saat nanti.


Aku sendiri sudah memendam keinginan untuk mendaki gunung Semeru sejak lama sekali, bahkan sebelum aku lulus menjadi dokter. Ketika teman-teman satu kontrakanku mendaki Semeru, aku tidak bisa ikut karena aku harus ujian semester. Ketika ada ajakan lagi dari teman sekampus untuk medaki Semeru (Kholis),  aku juga tidak bisa ikut karena sedang sakit. Dua kali melewatkan kesempatan untuk menyapa sejuknya gunung yang merenggut nyawa Soe hok Gie ini membuatku benar-benar penasaran untuk segera mendaki gunung ini.

Kesempatan itu pun akhirnya tiba. Kini aku telah menyelesaikan pendidikan sebagai dokter, dan sudah bekerja di beberapa klinik di Surabaya. Sambil menunggu pelantikan dan pengambilan sumpah dokter, juga demi merayakan kelulusanku dalam menghadapi UKDI, maka akhir tahun 2011 ini aku anggap sebagai waktu yang tepat untuk menuntaskan rasa penasaranku akan gunung yang ternyata sangat indah ini. Ya, aku memutuskan untuk mendaki gunung Semeru pada akhir tahun ini.

Aku bersyukur terhadap semua yang telah Allah berikan padaku selama ini. Kisah yang rumit hingga perjalanan hidup yang panjang nan keras membuatku sedikit banyak tahu bagaimana menghargai suatu  kehidupan.

Aku coba kembali merunut kejadian-kejadian yang pernah aku lewati. Aku adalah anak kecil dari desa yang ditinggal ayahku pergi untuk selama-lamanya pada saat aku duduk di bangku sekolah dasar, beliau menderita sakit parah sejak kecil dan hal terakhir yang aku ingat adalah kedua kakinya bengkak menjelang kematiannya (Pada akhirnya aku tahu kalau inilah yang disebut decomp.Cordis). Ayahku meninggalkan satu istri dan dua orang anak yang masih kecil, aku yang masih berumur 10 tahun dan adikku yang masih berumur 2 tahun. Perubahan besar inilah yaang pada akhirnya mengarahkan hidup dan cita-citaku.

Sejak kematian ayahku, aku melihat ummiku tiap malam menangis, aku tahu beliau berdoa untuk ayahku dan kedua anaknya yang nakal ini. Ummi tidak bekerja sebelumnya, dan ayahku hanya PNS biasa. Praktis untuk bertahan hidup kami hanya mengandalkan uang pensiunan ayahku yang jelas tidak akan mencukupi untuk keluarga kami.

Aku tahu kondisi saat itu membuat ummiku harus bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi keluarga kecil kami. Beliau menjalani pekerjaan sebagai buruh jahit , yang penghasilannya tidak seberapa namun paling tidak cukup untuk menghidupi kami pada saat itu. Sejak saat itu ummiku pun berubah menjadi keras dalam mendidik anak-anaknya dan aku sangat paham akan hal itu. Tiap hari ummiku menasehati dan mengajarkanku bagaimana kita harus bertahan hidup pada situasi ini. Ada satu nasihat yang sampai saat ini masih terngiang di kepalaku, dan nasihat itulah yang sedikit banyak mempengaruhi hidupku saat itu hingga sekarang.

Sepeninggal ayahku, keluarga kami bukanlah keluarga yang mampu seperti dulu, kami tak ubahnya seperti kebanyakan orang yang harus susah payah untuk bisa bertahan hidup. Oleh karena itu Ummi selalu berpesan padaku seperti ini,

"Orang-orang seperti kita ini tidak ada yang bisa dibanggakan nak!, kecuali hanya ke-pinteran,..kalau orang itu pinter, InsyaAllah jalan rejeki itu mudah,..ummi pesen sama sampean supaya belajar dengan baik dan sungguh-sungguh, supaya bisa mengangkat derajat keluarga dan membanggakan ayah sama ummimu ini,...!",

Ya Allah,...aku menangis tiap mendengar ummiku berpesan seperti ini,...dan setiap hari beliau selalu mengingatkanku akan pentingnya menjadi orang yang pinter. Sejak saat itu aku berjanji dalam hati dan pada ummiku, aku akan menjadi orang yang pinter, supaya aku bisa mendapat beasiswa sehingga ummi tidak repot-repot mengeluarkan biaya sekolah untukku.

Sejak saat itu aku berjanji untuk belajar setiap hari dan aku rela mengorbankan waktu bermainku demi melihat ummiku tersenyum. Setiap hari aku tidak pernah mengeluh ketika aku harus belajar bersama suara hentakan mesin jahit ummiku yang berisik, meskipun aku tahu itu akan mengganggu konsentrasiku, tapi aku tahu bahwa inilah satu-satunya sumber penghidupan kami.

Aku tahu setiap hari ummiku bangun di sepertiga malam terakhir untuk menunaikan sholat tahajjud demi mendoakan kami anak2nya yang nakal. Aku tahu ummiku tidak lepas berpuasa senin kamis, tentu saja untuk mendoakan kedua anaknya yang nakal ini. Dan sampai saat ini, aku pun tahu, apapun yang beliau lakukan adalah demi kebaikan anak-anaknya. Dan sampai kini aku telah menjadi dokter-pun, aku yakin aku tidak akan bisa membalas jasa-jasanya.

Saat ini yang bisa aku lakukan adalah, aku ingin membuatnya bangga dan tersenyum padaku. Aku ingin memberitahunya bahwa doa-doanya selama ini telah dikabulkan oleh Allah dan perjuangannya tidak sia-sia. Aku bersyukur bahwa aku dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga kecil ini. Aku bersyukur pada Allah karena dengan jalan hidup yang Allah berikan padaku telah membuatku tangguh dalam menjalani hidup ini.

Aku bersyukur menjadi seorang "dr. Andri Subiantoro" yang dulu dilahirkan di desa, dibesarkan oleh seorang buruh jahit. Buruh jahit yang sekaligus menjadi ummi terhebat yang pernah aku miliki.

Demikianlah cerita singkat masa laluku. Cerita yang membuatku ingin menikmati indahnya gunung Semeru di akhir tahun ini untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya pada ummiku. Sekaligus untuk memperingati hari ibu.

Aku ingin mengenang jasa-jasa ummiku mesikpun aku tahu aku tidak akan pernah bisa membalasnya. Seperti yang lalu-lalu teman, setiap pendakianku selalu aku tujukan untuk mengenang sesuatu. Sesuatu yang aku anggap penting untuk dikenang di gunung-gunung. Menurutku menikmati indahnya gunung-gunung akan terasa lebih nikmat kalau kita membawa misi di dalamnya.

 ..........................................

NB : Mengenai catatan perjalanannya akan di ceritakan pada postingan selanjutnya.






Kamis, 29 Desember 2011

Ranu Kumbolo dan cinta sejuta hati diantaranya,...



,.........................................
aku telah singkirkan keraguan kala itu
ketika hawa dingin mulai menusuk tulang belulangku yang kurus..
menjejakkan kaki-kaki kusut menuju setapak
menuju hamparan cinta di kawah mimpi dan angan-angan
hati ini telah membawa rindu-nya pada langit biru
menebas ranting-ranting kering yang menghalangi jalan cinta para pendaki,..
menelusuri indahnya perasaan bidadari yang masih tertutup kabut,..
kabut cinta yang bertema rindu,..
Sejenak angin mulai menyapaku yang larut dalam lamunan angan
aku yang lelah berjalan sedari tadi
telah menemukan keindahan sejati dibalik misteri gunung-gunung abadi
perasaan ini bagai larut dalam sepinya danau cinta para dewa,..
memandang jauh di balik belahan lembah kasih "Ranu Kumbolo"
sambil memandang wajahnya
dalam hati aku berkata "kata-kata" cinta,..
aku mencintainya,..
sebagaimana semeru menjaga keindahan danau cintanya
dan berharap percikan airnya membawaku kembali padanya bersama cinta,...



--NB : Catatan pendakian gunung Semeru,...