Jumat, 25 September 2015

“Why did you decide to become an anesthesiologist?"







 










ramai merdu burung bersiul menderu awan siang itu,..
terbang sesekali merendah
melintaskan dua kakinya ke ranting kuning
daun layu pun bergugur indah nan gemulai
nampak gagah ksatria berwibawa
membawa air dalam guci
air suci,..
sampai pada lamunan senja sore itu,..
mata ini menatap jauh ke alam cita nan bangga
rasa-rasanya mimpi tak kunjung membuat raga ini terbangun,..
terlelap semakin dalam tak apalah
mendapati ilmu nan suci di kawah candradimuka
menggapai lagi cita yang mulia
menjadi bagian dari Airlangga,..

(bie, 25 September 2015)


Muara Badak,

Sore menjelang senja, saya menyempatkan diri untuk memeriksa beberapa pasien yang sudah menunggu di klinik. Hari-hari terakhir ini sungguh membuat saya merasa tidak tenang. Hari dimana saya menunggu pengumuman tentang hasil ujian saya dalam rangka menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Beberapa bulan terakhir, memang saya disibukkan dengan rangkaian ujian seleksi penerimaan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis). Saya mengambil peminatan Anestesiologi dan Reanimasi di Universitas Airlangga, almamater saya dulu.

"Terima kasih dokter,..!"
"Sama-sama bu,.. jangan lupa kontrol secara rutin untuk gulanya dan sempatkan olahraga ringan nggeh,..!" jawabku pada salah seorang pasien saya yang terdiagnosa Diabetes Melitus menutup sore itu. Kebetulan beliau merupakan pasien terakhir sore itu. 

Saya mencuci tangan dan meletakkan stetokop di meja dokter, kemudian salah seorang teman memberi tahu saya di "Whatsapp" bahwa pengumuman ujian PPDS sudah dapat dilihat di website UNAIR sore ini. Jantung ini rasa berdebar kawan, semakin kencang dan bercampur antara penasaran dan cemas menjadi satu. Apakah Allah menakdirkan saya untuk dapat mengenyam pendidikan spesialis periode ini, atau kehendak Allah berkata lain, saya masih ragu. Namun setelah saya memasukkan nomor ujian ke dalam website, maka keluarlah pengumuman seperti di awal tulisan ini. Ya Allah,.. Alhamdulillah,.. saya berhasil diterima menjadi peserta didik PPDS Anestesiologi dan Reanimasi UNAIR periode 2015/2016. 




Adalah ummi saya tercinta yang saya kabari berita ini untuk pertama kali, menyusul kemudian istri saya tercinta dan keluarga yang lainnya. Saya anggap ini adalah karunia Allah yang begitu luar biasa kawan. Ini berarti perjuangan baru telah dimulai. Ini berarti janji harus ditunaikan, dan hal ini juga berarti amanah dan tanggung jawab baru telah tersemat pada pundak rapuh ini. Mengingat kembali cita-cita yang telah kami gantungkan setinggi langit dahulu.

Ada rasa senang, ada pula rasa haru. Pengumuman ini juga menandakan bahwa hari-hari pengabdian ini telah menjelang akhir. Ada pertemuan, ada pula perpisahan. Terima kasih Muara Badak, yang telah memberi saya pengalaman luar biasa tak terhingga sehingga saya dapat menjadi dokter yang sedemikan rupa. Terima kasih seluruh rekan kerja di Klinik BOHC dan segenap masyarakat Muara Badak khususnya para pasien yang telah mempercayakan amanah dan tanggung jawab luar biasa ini untuk menjadi dokter di Muara Badak selama 2 tahun terakhir.

Pada akhirnya pertanyaan itu pun muncul dalam keheningan sejenak. “Why did you decide to become an anesthesiologist?"

Adalah kesan dari para guru-guru saya seperti (Alm) Prof. Koeshartono,dr., Sp. An KIC dan Prof. Dr. Eddy Rahardjo, dr. Sp. An KIC, serta senior-senior Anestesi yang lain lah yang membuat saya tertarik untuk mempelajari Anestesiologi dan Reanimasi. Cerita dan pengalaman beliau-beliau saat menangani bencana di berbagai wilayah Indonesia sangat menginspirasi saya untuk dapat menjadi bagian dari tim ini, atau paling tidak dapat meneladani apa yang telah beliau-beliau rintis dalam hal pelayanan kegawat daruratan. 

Saya masih teringat betul saat Prof. Koes menampilkan slide kuliah dimana beliau berada di salah satu wilayah pelosok Indonesia bersama anak-anak lokal sedang bermain. Sambil bercerita tentang bagaimana beliau dan tim GELS mengajarkan pentingnya dasar-dasar kegawat daruratan pada tenaga medis yang ada di daerah utamanya daerah pelosok, beliau berpesan ada kami yang masih muda-muda. Kira-kira beginilah pesannya,"Inilah bangsamu, bangsa Indonesia yang kita bangga-banggakan,...sambil menunjukkan foto-foto beliau saat berada di sana,.. merantaulah sejenak ke pelosok-pelosok negeri ini adik-adik sekalian, supaya kalian merasakan bagaimana rasanya mengabdi di daerah pelosok Nusantara". Persisnya saya lupa, tapi pada intinya beliau menganjurkan kami yang masih muda untuk sejenak mengabdikan ilmu terutama di daerah pelosok negeri ini. 

Dan ajaibnya, pesan yang disampaikan Prof. Koes saat saya masih semester 3 ini selalu terngiang sampai saya lulus menjadi dokter umum dan pada akhirnya saya memutuskan untuk mengabdikan ilmu di sebuah daerah pesisir Kalimantan Timur, Muara Badak sebelum akhirnya saya memilih Spesialisasi Anestesiologi dan Reanimasi sebagai jalur pengabdian saya yang baru. 

Banyak sekali cerita inspiratif dari guru-guru saya terutama dari Anestesi, diantaranya saat gempa berkekuatan 7,8 skala richter yang menggoyang Maumere pada 1992 hingga terjadi tsunami. Tim Satgas Bencana RSUD Dr. Soetomo sampai harus mengumpulkan puing-puing untuk mendirikan tenda. Operasi dilakukan di tempat yang jauh dari kata steril, dengan perbekalan medis yang dibawa ke lokasi. Menurut salah satu senior, kejadian di Maumere ini cukup berkesan bagi guru-guru kami yang aktif di Tim Satgas Bencana, karena mereka memberikan bantuan secara bertahap hampir selama dua tahun. Bahkan mereka juga melatih tenaga medis di sana sampai akhirnya RS Maumere berdiri. 

Masih banyak cerita inspiratif lain, yang semakin membuat saya ingin menjadi seperti beliau-beliau ini. Terlebih saat saya menjalani kepaniteraan klinik di RSUD Dr. Soetomo, saya semakin menemukan minat dan kecenderungan saya yang lebih menyukai bidang "Life Support" terutama kegawatdaruratan. Saya melihat sebuah kerja sama tim yang luar biasa di ruang Resusitasi saat ada pasien Cardiac Arrest atau jelek kondisinya. Pengalaman-pengalaman inilah yang memantabkan saya untuk lebih mendalami ilmu Anestesi dan Reanimasi. 

Kini, babak baru kehidupan saya telah dimulai. Saya telah diberikan kesempatan luar biasa untuk kembali menuntut ilmu, mudah-mudahan ilmu ini kelak bermanfaat bagi masyarakat serta harapan saya dapat meneruskan perjuangan beliau-beliau yang telah menginspirasi saya untuk mengembangkan ilmu kegawatdaruratan serta mengajarkannya kepada tenaga medis di pelosok-pelosok negeri. 

Di akhir tulisan ini saya ingin mengutip tulisan seorang Anestesiologists dari India,..

“After surgery, most patients only remember the name of their surgeon, not their anesthesiologist. We never hand out business cards, and we never get interviewed on television for helping to save a trauma victim,” said a university based anesthesiologist. “A patient who never mentions their anesthesia experience is the one who is the satisfied customer. It means that the patient made it safely through surgery without pain. That is when I can go home feeling gratified I did a good job for the day .
 

”Anesthesiologists do not depend on recognition from their patients for ego gratification. Instead, these behind-the-scenes doctors simply derive their personal satisfaction from within.




-bie

2 komentar: