Rabu, 28 September 2011

Sepenggal cerita dari Pacet.

Pagi itu dedaunan menyapaku begitu malu. Embun-embun pagi juga masih menetes membasahi tanah. Sementara matahari belum juga menampakkan hidungnya. Masih gelap ketika aku bersiap menuju markas besar Korps BSMI Surabaya di jl. Kalidami. Kami akan menuju Ponpes Amanatul Ummah yang ada di Pacet, Mojokerto. Aku hubungi kedua sahabatku, Hendri dan Zulfikar. Nampaknya mereka juga bergegas akan menuju basecamp. 

Hendri berasal dari Tuban. Dia anak yang cerdas, dan aku perkirakan dia akan menjadi orang besar kelak, salah seorang Guru Besar di sini, di Fakultas Kedokteran UNAIR. Dia cukup tangkas dan pandai dalam urusan organisasi. Bagiku, sangat menyenangkan bekerja sama dengan dia. Yudisium kemarin bahkan dia berhasil menjadi yang ke-4 terbaik dalam best ten kami angkatan 2006. Bangga rasanya salah satu teman bisa menunjukkan suatu prestasi.

Zulfikar adalah salah satu teman dari Lumajang. Dulu, aku mengira bahwa dia sangat kekanak-kanakan , tetapi seiring bertambahnya waktu, semakin kita sering bekerja bersama, aku jadi tahu bahwa dia adalah salah seorang anak paling pinter di 2006 versiku. Dia akan jadi ahli bedah kelak. Amiin. Kebetulan kami berdua ingin menjadi ahli bedah. 

Rencananya, kami bertiga bersama tim yang lain akan berkumpul di Base Camp BSMI di Kalidami untuk kemudian berangkat bersama-sama menuju Pacet, Mojokerto. Aku sendiri bergegas menuju ke sana dan di sana ternyata telah menunggu Mas Natsir (Kakak Kelas angkatan 2002). Beberapa akhwat ternyata juga ikut rombongan. Beberapa dari Farmasi dan sebagian dari Pendidikan Dokter sendiri. Supir kami Pak Ilham dan sahabat kami Pak Surip yang selalu setia di setiap acara khitanan massal BSMI juga telah ada di tempat.

Masih ada satu lagi orang yang kami tunggu. Namanya Ardi. Ardi adalah salah seorang teman dari Madura, tepatnya dari Sumenep. Dia juga seorang leader yang luar biasa, bagiku bekerja dengan teman-teman seperjuangan ini sangat menyenangkan. Aku berdoa mudah-mudahan mereka bisa menggapai cita-cita masing-masing. Amiiiiin.

Setengah jam berlalu akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan Ardi. Tetapi dalam perjalanan, tiba-tiba dia menelponku, dia mengatakan telah tiba di Markas BSMI Kalidami. Yah, akhrinya mobil kami kembali untuk menjemputnya. Lengkap sudah tim yang sudah dipersiapkan. Tim terdiri dari 5 orang dokter ikhwan untuk khitanan massal dan 3 orang dokter akhwat untuk pengobatan gratis. Selain itu tim juga dilengkapi adik-adik dari farmasi sejumlah beberapa orang, serta beberapa adik kelas dari Pendidikan Dokter (Jumlahnya lupa).

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Sawah-sawah terbentang begitu hijau, dan gunung-gunung pun begitu angkuh menunjukkan kemegahannya. Indah sekali. Cuaca cerah dan berangin mengantar kami sampai  pada tempat tujuan, yaitu Ponpes Amanatul Ummah. Subhanallah, itu adalah kata pertama yang terucap dari mulutku. Di desa yang sunyi dan terpencil ini berdiri sebuah pondok pesantren yang megah sekali. Dilengkapi dengan asrama dan sarana kesehatan. Ada pula homestay yang digunakan untuk menginap para wali santri yang hendak mengunjungi anaknya. Pondok Pesantren ini merupakan pondok modern dimana pelajaran nasional tetap menjadi prioritas utama tanpa menyingkirkan pendidikan agama Islam di dalamnya. Lulusan dari pondok ini pun berhasil menembus seleksi beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia. Luar biasa. Beberapa siswa juga berhasil menembus Al Azhar di Mesir.

Kegiatan kami sendiri di sini berupa khitanan massal dan pengobatan gratis untuk masyarakat sekitar pondok dan para santri. Jumlah pasien khitanan massal kira-kira sebanyak 34 pasien dan pengobatan gratis yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 orang. Selain dari BSMI Surabaya, ternyata kami juga dibantu oleh tim dokter dari RSUD Mojosari sejumlah 3 orang. Sehingga total operator ada 8 orang. Khitanan massal sendiri, Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Sementara Pengobatan gratis terdiri dari 2 shift karena jumlah pasien yang banyak. Sayang tidak ada dokumentasi pada saat khitanan massal.

Berikut ini sebagian gambar yang berhasil aku ambil.

Pintu Utama depan Pondok.

Masjid. Sebagai pusat peribadahan di PonPes ini.

Asrama yang sedang di bangun.


Suasana di Jalan depan Pondok. Nampak background gunung di belakangnya. Benar-benar suasana yang menyenangkan untuk belajar.


Oleh-oleh yang lain :
Jalannya Baksos Pengobatan Gratis

Zulfikar dan Ageng yang sedang melayani pasien.

Aku sendiri sedang memeriksa pasien.

Pelayanan Pengobatan gratis.

Suasana di tempat antrian pasien. Hari sudah siang sehingga pasien mulai sepi.

Adik-adik farmasi.

Adik-adik pondok.

Tim Dokter BSMI (para sahabat)
Dari Ki-Ka : Pak Ilham, Zulfikar, Hensus, Andriy, Ardi, Ageng

Berikut adalah salam perpisahan kami dengan tempat yang sangat indah ini.


Ardi sedang mengambil gambar

Menikmati indahnya gunung-gunung di depan PonPes Ammanatul Ummah

Berikut ini foto-foto kami yang agak narsis :

Tim relawan BSMI.



Itulah sedikit dari perjalanan kami pada Baksos di Pacet Mojokerto. Sebuah tim yang solid tidak dibentuk dalam waktu yang singkat teman. Persahabatan yang lama dan pengertian yang dalam membuat kami  dapat saling bahu-membahu di bawah bendera BSMI untuk mengabdi pada pelayanan kesehatan masyarakat. Terima kasih teman, semoga kita dapat melanjutkan perjuangan kita di sini.





--Bie--

2 komentar:

  1. aku Pernah ke situ.... dekat sama desa ku.......

    BalasHapus
  2. wah..jadi kangen pondok,
    acara2 kaya gitu seru.. :)

    BalasHapus